
Aku belum bercerita pada Ibu dan Ayah. Ceritanya terlalu konyol, sih. Tapi kurasa mungkin saja kakakku akan menganggap ceritaku lucu.
"Aku harus menceritakan kejadian tadi sore padamu," kataku ketika kami membuka sepatu di dapur. "Kau takkan percaya pada apa yang kualami. Aku. . ."
"Nanti saja," katanya, dibuka kaus kakinya yang basah dan dimasukkannya ke dalam sepatu. Aku harus mengerjakan pekerjaan
rumah."
Ia masuk ke kamar. Aku berjalan ke kamarku, tapi telepon rumah berdering. Kuangkat setelah dering pertama. Dari Colin, ia menelepon untuk menanyakan bagaimana latihan bola basketku.
"Hebat," kataku kasar. "Hebat sekali. Aku begitu menakjubkan sampai
mereka akan menghapus nomorku."
"Kau mana punya nomor," kata Colin mengingatkan.
Teman yang hebat.
Keesokan siangnya Yuni berusaha menjegalku lagi di saat jam istirahat.
Tapi kali ini aku berhasil melangkahi kakinya yang terjulur. Aku berjalan melewati Yuni dan melihat Colin nyaris
__ADS_1
tersembunyi di sudut dekat tempat sampah. Aku mendekatinya dan duduk di sebelahnya.
Kubuka kotak susu cokelatku, lalu kukeluarkan sandwichku. Ketika sedang mengangkat sandwich dan hendak memasaukkanya ke mulutku, tiba-tiba ada bayangan seseorang. Aku tahu ada orang berdiri di dekatku.
"Yuni!" seruku sambil memandangnya.
"Kau datang ke pertandingan sepulang sekolah Bird?" desaknya.dingin.
Kuletakkan sandwichku. "Yeah. Tentu aku datang" jawabku, bingung mendengar pertanyaannya.
"Sayang sekali," jawabnya, dahinya.berkerut. "Kita jadi tidak punya
kesempatan menang."
"Kau sakit atau kenapa sajalah biar tidak usah datang," kata Anna.
Hei, jangan ganggu Shopie terus!" seru Colin marah.
"Kami betul-betul ingin mengalahkan SMP Pelita Bangsa," kata Anna, tidak
dipedulikannya Colin.
__ADS_1
Di dagu Anna ada noda lipstik warna merah tua. Lipstik Anna paling tebal di antara semua lipstik anak-anak kelas
tujuh.
"Aku akan berusaha sebaik-baiknya," jawabku dengan gigi menggeretak.
Mereka berdua tertawa seolah-olah aku bercanda. Lalu mereka pergi sambil menggeleng. Kalau saja permintaan konyolku bisa terkabul! Pikirku kesal.
Tapi tentu saja aku tahu itu tidak mungkin. Kurasa aku akan membuat diriku semakin malu dan terhina dalam
pertandingan nanti. Aku tidak tahu betapa akan mengejutkannya pertandingan itu.
Dari awal pertandingan sudah terasa aneh. Pemain-pemain SMP Pelita Bangsa badannya kecil-kecil. Tapi mereka cukup terlatih. Mereka benar-benar tahu apa yang harus dilakukan. Dan mereka sangat enerjik serta kompak.
Ketika mereka berlari-lari ke tengah lapangan untuk memulai pertandingan, perutku mulas dan rasanya berat badanku jadi beratus-ratus kilo. Aku betul-betul deg-degan bermain di pertandingan ini. Aku tahu aku akan mengacau. Dan aku tahu Yuni dan Anna pasti akan membiarkan aku tahu betapa kacaunya tim gara-gara aku, dan betapa
sebalnya tim padaku.
Jadi aku gemetaran waktu pertandingan dimulai. Dan waktu bola
melayang ke arahku, kusambar dan kubawa ke ring tim-ku sendiri! Untung Anna sempat menarik dan membalikkan aku sebelum kumasukkan bola ke ring kami! Kudengar tawa para pemain kedua tim. Dan ketika kulirik ke pinggir lapangan, kulihat pelatih kedua tim Pak Edi dan pelatih tim SMP Pelita Bangsa tertawa juga.
__ADS_1
Wajahku jadi merah padam. Aku langsung ingin keluar saat itu juga dan masuk ke dalam lubang di tanah dan tidak muncul-muncul lagi. Tapi anehnya bolanya masih ada padaku.
Aku berusaha memberikannya pada Yuni. Tapi lemparanku terlalu kuat, pemain lawan merebut dan membawanya ke ring kami. Permainan baru berlangsung sepuluh detik, dan aku sudah melakukan dua kesalahan, Hufh!