Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu
Apa Yang Terjadi?


__ADS_3

Aku benar\-benar tidak mengerti apa yang terjadi. Ada apa, sih?



"Hei...aku terpaksa tidak sarapan!" teriakku ke bawah tangga. "Aku sudah telat." Tidak ada jawaban.



Kupandang cermin sekali lagi, kusisir rambut dari keningku, dan segera keluar ke lorong. Kamar kakakku di sebelah kamarku. Pintunya tertutup rapat. O\-oh, Rendy, pikirku. Kau pasti terlambat bangun juga? Kugedor pintunya.



"Ren? Rendy, kau sudah bangun?" Sepi.


"Ren?" kudorong pintunya sampai terbuka. Kamarnya gelap, cuma ada cahaya pudar dari jendela. Tempat tidurnya sudah rapi. Apa Rendy sudah berangkat? Kenapa ia sudah merapikan tempat tidur? Biasanya tidak pernah!



"Hei, Bu!" Dengan perasaan bingung, aku segera menuruni tangga. Di tengah jalan, aku tersandung dan nyaris jatuh. Gerakan Kacau Nomor Dua. Bagus sekali untuk pagi\-pagi begini.


__ADS_1


"Ada apa, sih, di bawah sini? Apa sekarang sudah akhir pekan? Apa aku tidur selama hari Jumat?" kataku dalam hati.



Dapur kosong. Tidak ada Ibu. Tidak ada Rendy. Tidak ada sarapan. Apa mereka harus pergi cepat\-cepat ke suatu tempat? Kuperiksa pintu kulkas kalau\-kalau ada pesan tertempel, tapi tidak ada. Dengan perasaan bingung, kulirik jam. Hampir pukul setengah delapan.



Aku sudah terlambat untuk pergi ke sekolah. Kenapa tidak ada yang membangunkan aku? Kenapa mereka semua pergi pagi\-pagi sekali? Kucubit diriku. Betul\-betul kucubit. Siapa tahu aku mimpi. Tapi tidak.



"Hei...semua?" panggilku. Suaraku bergema di rumahku yang kosong. Aku lari ke lemari depan untuk mengambil mantel. Aku harus berangkat ke sekolah. Aku yakin misteri ini akan jelas juga nantinya.




Beberapa saat kemudian, aku keluar dari pintu depan dan pergi ke garasi di samping untuk mengambil sepeda. Kutarik pintu garasi dan berhenti. Aku berdiri kaku sambil menatap ke dalam garasi. Mobil ayahku masih ada di dalam garasi. Dia belum berangkat kerja. Kalau begitu, kemana mereka semua?


__ADS_1


Aku kembali ke dalam rumah dan menelepon kantor Ayahku. Telepon


berdering\-dering, tapi tidak ada yang mengangkat. Kucari lagi pesan dari Ayah dan Ibu di dapur. Tapi tidak ada apa\-apa. Ketika kulirik jam di dapur, kulihat aku sudah terlambat sekolah dua puluh tujuh menit. Aku cepat\-cepat ke luar untuk mengambil sepeda. Lebih baik telat dari pada tidak masuk sekolah sama sekali, pikirku.



Sebetulnya aku tidak takut. Aku cuma bingung. Kutelepon Ayah dan Ibuku saja waktu istirahat nanti dan akan


kutanyakan kenapa mereka pergi pagi\-pagi sekali hari ini, kataku dalam hati.



Sambil mengayuh sepeda ke sekolah, aku mulai merasa agak marah. Mereka kan bisa bilang padaku kalau hendak berangkat pagi\-pagi!



Di jalanan tidak ada mobil dan tidak ada anak\-anak bersepeda. Kurasa semua orang sudah berada di sekolah atau di tempat kerja atau di mana saja orang biasanya berada waktu pagi hari.



Aku memecahkan rekor bisa sampai ke sekolah cepat sekali. Setelah memarkir sepeda, kurapikan ransel di bahuku dan lari ke sekolah. Lorong\-lorong sekolah gelap dan kosong. Suara langkah kakiku bergema keras di lantai. Kumasukkan mantel ke lemari penyimpanan. Ketika kubanting pintunya, suaranya terdengar seperti suara ledakan di lorong yang

__ADS_1


kosong.


__ADS_2