Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu
Tim Basket Kami Kalah


__ADS_3

"Kenapa kalian ini, anak-anak?" desak Pak Edi ketika kami berdesak-desakan di pinggir lapangan. Dipandanginya kami, diamatinya satu per satu dengan prihatin.


Anna terduduk lemas di lantai, bahunya membungkuk. Kelihatannya untuk buka mata saja ia sudah tidak sanggup. Yuni bersandar di dinding ruang olahraga. Napasnya terengah-engah, tampak titik-titik keringat di dahinya yang pucat.


"Ayo, yang semangat, dong," desak Pak Edi sambil menepuk tangannya. "Kulihat kalian kurang bersemangat untuk bertanding."


"Di sini udaranya pengap," keluh salah satu pemain.


"Rasanya capek sekali," kata yang lain sambil menguap.


"Mungkin kami terkena sesuatu," kata Anna dari bawah.


"Kau merasa tidak enak juga?" tanya Pak Edi padaku.


"Tidak," kataku. "Aku baik-baik saja."


Di belakangku Yuni mengerang kepayahan dan berusaha menjauh


dari dinding.


Wasit pertandingan mengenakan pakaian garis-garis hitam putih yang sangat kedodoran, meniup peluit. Ia memberi tanda agar kami kembali ke lapangan.

__ADS_1


Aku tidak mengerti," Pak Edi menarik napas sambil menggeleng-gelengkan kepalnya. Dibantunya Anna berdiri. "Aku tidak mengerti. Aku benar-benar tidak mengerti."


Aku mengerti. Aku sangat mengerti.


Harapanku jadi kenyataan. Aku benar-benar tidak percaya! Wanita aneh itu benar-benar punya kekuatan gaib. Dan ia telah memenuhi permintaannku. Meskipun tidak seperti yang kubayangkan.


Aku ingat sekali kata-kata yang kuucapkan. Aku berharap jadi pemain terkuat di tim bola basketku. Artinya aku ingin wanita itu membuatku jadi pemain yang lebih kuat dan lebih baik. Tapi itu malah membuat teman-temanku menjadi pemain-pemain yang lebih lemah dariku !


Aku tetap saja pemain payah. Aku tetap tidak bisa membawa, mengoper, dan menembakkan bola. Tapi aku pemain paling kuat di tim!


Kenapa aku dulu bisa berkata seperti itu? Mengucapkan permintaan yang benar-benar bodoh! Aku marah-marah sendiri sambil berlari ke tengah lapangan. Harapan tidak pernah menjadi kenyataan seperti yang aku inginkan.


Ketika sampai di tengah lapangan, aku


Harus kuakui aku agak senang juga melihatnya. Maksudku, aku merasa sangat sehat. Dan mereka kelihatan begitu lemah dan memelas. Yuni dan Anna pantas menerimanya, kataku dalam hati. Aku berusaha supaya tidak tersenyum ketika mereka ogah-ogahan berdiri di posisi mereka. Tapi akhirnya aku tersenyum juga sedikit.


Wasit meniup peluit dan memanggil kami sebelum ia melempar bola tanda permainan dimulai. Yuni berhadap-hadapan dengan seorang pemain lawan di lingkaran tengah.


Wasit melemparkan bola ke atas. Pemain lawan melompat tinggi. Yuni setengah mati berusaha melompat. Aku bisa melihat ketegangan di wajahnya. Tapi kakinya tetap saja menempel di lantai. Ia tak mampu melompat. Pemain lawan memberikan bola pada salah satu teman satu timnya, dan mereka segera berlari membawa bola ke ujung lapangan. Terus membawa bola mendekati ring kami.


Aku berlari sekuat tenaga mengejar mereka. Tapi teman-temanku cuma bisa berjalan. Dengan mudah tim lawan memasukkan bola.

__ADS_1


"Ayo Yuni, kita bisa menyusul mereka!" teriakku sambil bersemangat bertepuk tangan.


Yuni menatapku hampa. Matanya yang hitam tampak pudar, seperti luntur.


"Ambil! Ambil! Ayo, Kawan" teriakku penuh semangat.


Aku suka sekali memanas-manasi begini. Dengan lemah Yuni melempar bola ke dalam lapangan. Kuambil dan


kubawa ke ujung lapangan.


Di bawah ring, salah satu pemain lawan menabrakku dari belakang ketika aku berusaha menembak.


Dua tembakan penalti untukku. Rasanya lama sekali teman-temanku baru datang dan berbaris di dekat ring.


Tentu saja kedua tembakanku gagal. Tapi aku tidak peduli.


"Ayo, Kawan-kawan!" teriakku sambil bertepuk tangan penuh semangat.


"Bertahan! Bertahan!" Tiba-tiba aku jadi pemain dan cheerleader juga. Aku benar-benar menikmati jadi pemain paling hebat di tim.


Asyik sekali rasanya melihat Yuni dan Anna berjalan membungkuk dan terseret-seret di lapangan seperti orang yang sangat kelelahan! Tidak bertenaga dan tidak bersemangat, itu benar-benar asyik!

__ADS_1


Pertandingan terus berjalan, sampai akhirnya wasit meniup pluit panjang. Tim kami kalah oleh tim SMP Pelita Bangsa dengan kedudukan dua puluh-empat. Yuni, Anna, dan pemain lain tampak senang pertandingan sudah selesai, meskipun tim kami kalah.


__ADS_2