
Waktu sedang makan malam tiba-tiba aku teringat pada permintaan itu.
Aku tidak bisa melupakan bagaimana bola kristal tadi memancarkan cahaya merah aneh.
Ibu berusaha menyuruhku makan lebih banyak lagi, tapi aku tidak mau. Perutku sudah kenyang.
"Shopie, kau harus makan lebih banyak kalau mau tumbuh besar dan kuat," kata Ibu
"Ibu, aku tidak ingin tumbuh lagi!" seruku. "Aku sudah lebih tinggi dari Ibu, padahal umurku baru tiga belas tahun !"
"Tolong jangan teriak-teriak, kalian mengganggu suasana makanku," kata Ayah sambil menyantap mie instan.
Hujan yang turun sepanjang sore tadi membuat dingin suasana, itu sebabnya Ayah memasak mie.
"Aku juga tinggi waktu berusia tiga belas tahun," kata Ibu serius.
Disodorkannya saus pada Ayah.
"Lalu Ibu menciut!" seru Rendy, mengejek. Kakak ku mengira itu lucu.
"Maksudku aku tinggi untuk anak seusiaku," kata Ibu.
"Yah, aku terlalu tinggi untuk anak seumurku," gerutuku. "Aku terlalu
tinggi untuk anak seumuran berapapun."
"Beberapa tahun lagi kau tidak akan bicara begitu," kata Ibu.
"Ada kerupuk?" tanya Ayah pada Ibu.
Ayah sebetulnya tahu ada kerupuk. Ia
cuma ingin Ibu bangun dan mengambilkannya. Ibu mengambilkannya ke belakang, lalu kembali dan memberikan kerupuk pada Ayah.
__ADS_1
"Bagaimana latihan bola basketmu, Shopie?" tanya Ayah padaku.
Aku mencibir dan mengacungkan dua jempol ke bawah.
"Dia terlalu tinggi untuk main basket," potong Rendy dengan mulut penuh makanan.
"Bola basket butuh stamina," kata Ayah.
Kadang kadang aku tidak tahu kenapa Ayah mengucapkan hal-hal seperti itu.
Maksudku, mesti kujawab apa perkataan sepert itu?
Tiba-tiba aku teringat pada wanita gila tadi dan permintaan yang kuucapkan.
"Hei, Rendy maukah main basket sebentar setelah makan malam denganku?" tanyaku.
Kami punya ring basket di depan garasi dan ada lampu sorot untuk menerangi jalan masuk. Kadang-kadang setelah makan malam Rendy dan aku main basket satu lawan satu. Kau tahukan itu untuk menyegarkan diri sebelum mengerjakan pekerjaan rumah. Rendy memandang ke luar jendela ruang makan.
"Yeah. Sudah," kataku.
"Kira-kira setengah jam yang lalu."
Lapangannya masih basah," katanya.
"Sedikit genangan air tidak akan merusak permainanmu," kataku sambil tertawa.
Rendy jago sekali main bola basket. Ia punya bakat jadi atlet. Jadi tentu saja ia nyaris tidak berminat main denganku. Ia lebih suka membaca buku di kamar. Buku apa saja.
"Aku banyak pekerjaan rumah," kata Rendy sambil mendorong kacamata berbingkai hitamnya yang melorot.
Sebentar saja," kataku. Memohon-mohon. "Cuma latihan menembak
sedikit."
__ADS_1
"Bantu adikmu," desak Ayah. "Kau bisa mengajarinya. Rendy terpaksa setuju.
"Oke, tapi cuma sebentar, ya." Ia memandang ke luar jendela lagi.
"Hmm...kita bakal basah kuyup," gumamnya sambil melihat keluar.
"Nanti kubawakan handuk," kataku sambil meringis.
"Entah kenapa kita mau melakukan hal ini," gerutu Rendy
Aku tahu ini konyol, tapi aku harus melihat apakah permintaanku jadi
kenyataan.
Mungkinkah aku tiba-tiba jadi jago main bola basket?
Mungkinkan aku tiba-tiba bisa mengalahkan Rendy?
Benar-benar bisa memasukkan bola ke ring?
Bisakah aku membawa bola tanpa tersandung?
Membawa bola ke arah yang kuinginkan?
Menangkap bola tanpa mental di dadaku?
Pertanyaan itu terus berputar di benakku.
Aku terus mengejek diriku karena memikirkan permintaanku tadi. Konyol. Benar-benar konyol. Cuma karena seorang wanita gila menawarkan untuk mengabulkan tiga permintaan, kataku dalam hati, bukan berarti kau harus
bersemangat dan mengira kau langsung berubah jadi Pemain Basket hebat!
Tapi aku tetap tidak sabar ingin melawan Rendy. Apakah aku akan menerima kejutan besar?
__ADS_1