Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu
Marissa Datang Ke Rumahku


__ADS_3

Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di teras itu, memeluk diri sendiri, kepalaku tertunduk, pikiranku pusing karena panik. Aku bisa saja duduk di sana terus, mendengarkan suara tirai berdebam-debam, mendengarkan angin bertiup di jalanan yang sepi kalau saja perutku tidak lapar dan keroncongan. Aku berdiri, tiba-tiba ingat tadi pagi tidak sempat sarapan.


"Shopie, kau sendirian di dunia ini. Kok masih ingat makan, sih?" tanyaku pada diri sendiri keras-keras.


Entah kenapa lega juga rasanya mendengar ada suara manusia, meskipun itu suaraku sendiri.


"Aku lapaaaaaar!" teriakku.


Aku menunggu, siapa tahu ada jawaban. Meskipun terasa sangat bodoh, aku tetap tidak mau menyerah.


"Ini semua salah Yuni," gumamku sambil mengambil sepeda yang tergeletak di jalan.


Aku mengayuh sepeda pulang melewati jalan-jalan yang kosong, mataku memelototi halaman dan rumah-rumah yang sepi. Ketika melewati rumah Pak Hendry di sudut blok rumahku, aku berharap anjing putih kecil miliknya mengejar-ngejar sepedaku sambil menggonggong seperti biasanya.


Tapi tak ada seekor anjing pun yang tersisa di duniaku. Pussy, kucingku yang malang pun kini tidak ada. Cuma ada aku, Shopie Wilonna manusia terakhir di bumi.


Begitu sampai di rumah, aku bergegas masuk ke dapur dan membuat sandwich selai kacang. Sambil menelan, kupandang tempat selai kacang yang terbuka. Hampir kosong.


"Bagaimana aku mencari makan nanti?" tanyaku keras-keras. "Bagaimana nasibku kalau makanan sudah habis?"

__ADS_1


Kuisi gelasku dengan sari jeruk. Tapi aku ragu-ragu, akhirnya kuisi cuma setengah.


Apa kurampok saja toko serba ada? tanyaku pada diri sendiri. Apa kuambil saja makanan yang kubutuhkan? Apa bisa disebut perampokan kalau tidak ada orang? Kalau tidak ada orang di mana-mana? Apa itu penting? Apa ada yang penting?


"Bagaimana caraku mengurus diri sendiri? Aku baru tiga belas tahun!" teriakku.


Untuk pertama kalinya, aku ingin menangis. Tapi kumasukkan sepotong sandwich selai kacang lagi ke mulutku dan kuusir perasaan ingin menangis tadi. Aku malah memikirkan Yuni. Perasaan sedih dan takutku segera


berubah jadi perasaan marah.


Kalau Yuni tidak mengolok-olok aku, berusaha membuatku malu, kalau Yuni tidak terus-terusan mengejek dan berkata, "Terbang sajalah kau, Bird!" dan semua perkataan kasarnya yang lain, aku takkan meminta macam-macam soal dirinya, dan aku takkan jadi


"Aku benci kau, Yuni!" jeritku.


Kujejalkan potongan terakhir sandwich ke dalam mulut tapi tidak kukunyah. Aku berdiri kaku dan mendengarkan. Aku mendengar sesuatu. Suara langkah kaki. Ada orang berjalan di ruang depan. Kutelan potongan sandwich bulat-bulat, dan bergegas ke ruang


depan.


"Ayah? Ibu?" teriakku.

__ADS_1


Apa mereka pulang? Apa mereka benar-benar pulang?


Tidak.


Aku berhenti di depan ruang tengah ketika melihat Marissa. Ia berdiri di ruang depan, rambutnya yang hitam memantulkan cahaya dari jendela depan, ia tersenyum senang. Syalnya yang berwarna merah cerah tersampir di bahunya. Ia mengenakan celana hitam panjang dan blus putih berkerah tinggi.


"Anda!" teriakku terengah-engah. "Bagaimana cara Anda masuk?"


Ia mengangkat bahu. Senyumnya semakin lebar.


"Kenapa Anda lakukan ini pada saya?" jeritku, meledak marah.


"Tega sekali Anda melakukan hal ini pada saya, membuat semua orang menghilang!" teriakku sambil menunjuk


ruangan yang kosong, rumah yang kosong.


"Bukan aku," jawabnya tenang.


"Tapi...Tapi" kataku. Aku tidak bisa bicara karena marah sekali.

__ADS_1


Ia berjalan ke jendela. Tubuhnya terlihat jelas karena terkena cahaya matahari siang, kulitnya tampak pucat dan keriput. Ia tampak tua sekali.


__ADS_2