Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu
Perjalanan Pulang


__ADS_3

Aku mengayuh sepedaku menjauh dari sekolah. Langit tampak cerah sejauh mata memandang, awanpun rasanya tak sudi untuk menodai. Jalanan tidak terlalu ramai siang ini. Peluhku bercucuran. Panas. Aku harus bagaimana sekarang? Sikap Yuni sudah keterlaluan. Menyebalkan.


Aku mengayuh terus sepedaku, rumah-rumah berseliweran di kiri dan kanan. Di tengah perjalanan aku melihat penjual es. Cuaca panas membuat tenggorokanku terasa kering dan dehidrasi. Aku menepikan sepedaku dan berhenti di dekat penjual es itu. Aku turun dari sepeda.


"Pak, beli es donk!" kataku. Aku menyeka keringat yang membasahi wajahku dengan tissue.


Penjual itupun langsung membuatkan es untukku. Tak butuh waktu lama aku menunggu. Es sudah ada di tanganku.


"Terimakasih, Pak" kataku ramah sambil memberikan uang.


Aku bergegas mencari tempat teduh. Di dekat situ ada pohon yang cukup rindang, akupun segera duduk disana. Bersembunyi dari teriknya sinar matahari, berlindung di bawah bayangan dahannya.

__ADS_1


Dari tempat dudukku, aku bisa melihat rumah Pak Hendry ada di ujung blok sana. Sambil menikmati es, aku menatap ke arah rumah tersebut. Rumah Pak Hendry bercat dinding warna hijau, rumahnya lumayan sejuk karena di halamannya terdapat beberapa pohon yang cukup besar.


Pagar rumahnya tidak terlalu tinggi, dengan gerbang yang selalu terbuka. Itu sebabnya terkadang anjing putih kecil milik Pak Hendry sering muncul tiba-tiba mengejar orang yang lewat di depan rumahnya. Anjing itu sekarang tidak tampak berkeliaran di luar, mungkin anjing itu sedang berteduh di salah satu pohon yang ada di halaman rumahnya. Atau malah sedang tidur!


Ahh..nikmat sekali minum es di saat panas begini, kataku dalam hati.


Aku menyesap terus es itu. Setelah aku menghabiskan es-ku, aku melangkah menuju sepedaku. Es yang masuk ke dalam tubuhku membuat tenagaku menjadi sedikit bertambah. Aku mulai mengayuh sepedaku lagi menuju rumahku.


Pandanganku tak pernah lepas dari rumah Pak Hendry. Dan saat aku melintas di depan rumahnya, aku menoleh ke arah halaman rumahnya. Untung tak dapat di raih, malang tak dapat di tolak. Pandanganku beradu dengan anjing itu.


"Arrghh...anjing nakal," teriakku keras-keras.

__ADS_1


Jantungku berdegup kencang, irama nafasku tak beraturan. Kakiku gemetaran. Keringat dengan cepatnya mengucur deras di seluruh tubuhku. Untung tadi aku berhenti membeli es, jadi bisa sekaligus istirahat. Tenagaku jadi pulih kembali.


Aku masih terus menggenjot sepedaku. Hampir saja aku terpental dari sepedaku saat melewati polisi tidur. Aku tak mungkin mengerem di saat seperti ini. Bisa-bisa anjing itu berhasil mengejar dan mengigitku.


Aku pegang kuat-kuat setang, pandanganku fokus ke depan. Setelah kurasa aman dan anjing itu sudah jauh tertinggal. Aku menoleh. Benar saja. Dia sudah tak mengejarku. Kini aku mengayuh sepedaku dengan nafas terengah-engah dan dengan sisa-sisa tenagaku.


Lihat saja besok kalau aku bertemu dengan Pak Hendry. Akan aku suruh ia memasukkan anjing putihnya ke kandang. Sebenarnya banyak tetangga yang sudah meminta anjing itu di kurung. Tapi Pak Hendry selalu mengatakan,


"Anjingku itu baik. Anjingku itu tidak galak. Dia masih kecil, dia hanya ingin bermain-main dengan kalian" selalu begitu penjelasannya.


Kalau anjing itu baik kenapa ia selalu mengganggu? Kalau anjing itu tidak galak kenapa ia selalu mengejar? Aku rasa ucapan Pak Hendry adalah sebuah kebohongan.

__ADS_1


Apa perlu aku mengatakan hal ini kepada orang tuaku. Dan meminta mereka melaporkan Pak Hendry ke polisi dengan tuduhan anjing kecil miliknya telah mengganggu kenyamanan warga.


"Lihat saja nanti, Pak Hendry. Anda akan merasakan akibatnya!" dengusku kesal.


__ADS_2