
Aku benar-benar bahagia pagi ini, apalagi mengingat kejadian sebelumnya yang kualami. Aku tidak akan pernah lupa! Aku sendirian di bumi, sementara yang lain menghilang, tapi kini semua telah kembali seperti semula.
"Apa Ayah masih di rumah, Bu?" tanyaku pada ibu. Aku tidak sabar ingin bertemu Ayahku, dan memeluknya.
"Ayahmu berangkat beberapa menit yang lalu," kata Ibu sambil terus menatapku curiga.
"Yah, udah berangkat!" seruku kecewa. Tapi aku tidak bisa menutupi perasaan bahagiaku, meskipun aku tak bertemu dengan Ayahku. Kupeluk ibuku lagi, bertingkah manja layaknya seorang anak kecil. Ya memang kusadari aku masih kecil.
"Pagi Ibu, pagi Shopie." Kudengar di belakangku Rendy masuk ke dapur.
Aku berbalik dan melihatnya sedang memandangi aku, matanya menyipit tidak percaya di balik kaca matanya. Aku lari mendekat dan memeluknya juga. Pagi ini aku benar-benar bahagia.
"Ibu kasih susu rasa apa ke Shopie?" desak Rendy sambil berusaha membebaskan diri dari pelukanku.
"Hii...! Lepaskan aku Shop" teriaknya.
Ibu mengangkat bahu. "Kau jangan minta Ibu menjelaskan kelakuan adikmu, Ibu saja bingung" jawabnya datar. Ia berbalik ke lemari dapur.
"Cepat mandi sana, Shop. Kau tidak mau terlambat, kan?" perintah Ibu.
__ADS_1
"Siap, Bu!" jawabku, sambil memberi hormat.
"Indah sekali pagi ini. Benar-benar indah, iya kan Ren!" seruku pada Rendy.
"Yeah, pagi yang indah," kata Rendy sambil menguap. "Kau pasti semalam bermimpi hebat, Shop."
Aku tertawa dan bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai mandi aku pakai seragam sekolahku. Sebentar bercermin di kaca, memakai sepatu, lalu sarapan. Aku benar-benar bahagia.
Kulihat jam menunjukan pukul enam lewat sepuluh. Aku pamit kepada ibu.
"Aku berangkat sekolah dulu ya, Bu" kataku sambil mencium punggung tangannya.
Aku tidak sabar ingin segera sampai ke sekolah. Aku tidak sabar ingin melihat teman-temanku, melihat aula penuh lagi dengan wajah-wajah yang tertawa dan bicara.
Sambil mengayuh sepeda sekuat tenaga, aku tersenyum setiap kali ada
mobil lewat. Aku senang bisa melihat orang-orang lagi. Aku melambaikan tangan pada Bu Mila di seberang jalan, yang sedang berolahraga pagi.
Aku bahkan senang-senang saja waktu anjing putih kecil milik Pak Hendry mengejar-ngejarku, menyalak-nyalak dan berusaha menggigit aku.
__ADS_1
"Anjing nakal!" seruku bersemangat.
Semua kembali normal, kataku dalam hati. Semuanya sudah kembali
normal.
Kubuka pintu depan sekolah dan mendengar suara pintu lemari dibanting dan teriakan anak-anak.
"Hebat!" teriakku kuat-kuat.
Seorang anak kelas 8 berlari di sudut dan menabrakku, sampai aku terjatuh. Aku tidak berteriak marah. Aku cuma tersenyum. Aku bahagia sekali bisa kembali ke sekolah, kembali ke sekolahku yang ramai dan ribut.
Sambil terus tersenyum, kubuka lemari penyimpananku. Dengan gembira kupanggil beberapa temanku di seberang lorong. Aku bahkan mengucapkan selamat pagi pada Ibu Maysaroh, kepala sekolah kami!
"Hei...Bangau!" teriak seorang anak laki-laki padaku. Diejeknya aku, lalu menghilang di sudut. Aku tidak peduli. Aku tidak peduli pada ejekan orang-orang. Suara yang berisik begini sangat indah!
Ketika akan membuka mantel, kulihat Yuni dan Anna datang. Yuni terlihat berbeda pagi ini, ia mengenakan topi tidak seperti hari biasanya. Mereka asyik mengobrol, dua-duanya bicara. Tapi Yuni diam ketika melihat aku.
"Hai, Yuni," panggilku datar.
__ADS_1
Aku ingin tahu bagaimana kelakuan Yuni sekarang. Apa kelakuannya padaku akan berubah? Apa ia akan lebih ramah padaku? Apa ia akan ingat betapa kami dulu saling membenci? Apa ia akan berubah?