Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu
Latihan Yang Melelahkan dan Menyebalkan


__ADS_3

Setelah dua puluh menit siksaan fast break, Pak Edi meniup peluit "Latihan," teriaknya. Itu tanda supaya kami membuat dua tim dan bertanding.


Aku menarik nafas, kuusap keringat di dahi dengan punggung tanganku, aku berusaha ikut terlibat dalam permainan. Aku berkonsentrasi keras, sebagian besar agar tidak kacau. Tapi aku agak tidak semangat juga.


Lalu, setelah bermain beberapa menit, Yuni dan aku sama-sama menyerbu bola. Entah bagaimana caranya, ketika aku menyerbu bola, lenganku terjulur, lutut Yuni terangkat kuat-kuat dan menjegal dadaku seperti pisau.


Rasa sakitnya menyambar ke sekujur tubuhku. Aku berusaha berteriak, tapi suaraku tidak mau keluar. Nafasku megap-megap, suaranya aneh, seperti suara anjing laut sakit, lalu aku sadar aku tidak bernafas.


Semuanya jadi merah. Merah terangkat yang bersinar-sinar, lalu hitam. Aku tahu aku akan mati. Merasakan nafas putus seperti itu pastilah perasaan paling tidak enak sedunia. Mengerikan sekali rasanya, kau berusaha bernafas, tapi tidak bisa. Dan rasa sakitnya terus saja semakin mengembang, seperti ada balon di tiup di dalam dadaku.


Aku benar-benar mengira aku sudah mati. Tentu saja beberapa menit kemudian aku sudah sembuh. Aku masih merasa lemas dan sedikit agak pusing. Tapi pada dasarnya aku baik-baik saja.

__ADS_1


Pak Edi menyuruh salah satu ada yang mengantar aku ke ruang ganti pakaian. Tentu saja Yuni bersedia, ketika kami berjalan, dia minta maaf. Katanya tadi itu kecelakaan, benar-benar kecelakaan. Aku diam saja, aku tidak butuh permintaan maafnya. Aku sama sekali tidak mau bicara dengannya. Aku cuma ingin mencekiknya lagi. Kalau perlu sampai mati.


Seberapa bisa orang sabar bertahan dalam satu hari ? Yuni sudah menjegalku waktu pelajaran Matematika, menumpahkan puding tapiokanya yang menjijikkan ke sepatuku waktu pelajaran Tata Boga, dan menendangku sampai pingsan waktu latihan basket.


Apa sekarang aku harus tersenyum dan menerima permintaan maafnya. Tidak usah ya! Sampai kapan pun aku tidak sudi .


Aku berjalan diam ke ruang ganti pakaian, kepalaku tertunduk, mataku menatap lantai. Ketika dilihatnya aku tidak mau memaafkannya, Yuni jadi marah. Coba lihat kelakuannya! Dadaku ditendangnya, eeh malah dia yang marah.


Aku ganti pakaian tanpa mandi lagi, lalu kukumpulkan barang-barangku, keluar dari ruangan ganti pakaian, mengambil sepeda, dan meninggalkan gedung sekolah.


Setengah jam kemudian, langit siang tampak kelabu dan mendung. Kurasakan sedikit tetesan air hujan di kepala. Cukup sudah , ulangku dalam hati.

__ADS_1


Rumahku dua blok dari sekolah, tapi aku sedang tidak ingin pulang. Aku ingin naik sepeda terus. Aku ingin naik sepeda lurus saja dan tidak ingin menoleh-noleh lagi.


Aku marah, sebal, dan gemetaran tapi lebih banyak marahnya. Tidak kupedulikan hujan, aku naik ke atas sepeda dan mengayuhnya menjauh dari rumah. Halaman depan rumah-rumah berseliweran, aku tidak melihatnya. Aku tidak melihat apa-apa.


Aku menggenjot kuat dan semakin kuat. Enak sekali rasanya menjauh dari sekolah, menjauh dari Yuni.


Hujan mulai turun semakin deras, Aku tidak peduli, kutengadahkan kepala ke langit sambil menggenjot sepeda. Air hujan terasa dingin dan menyegarkan di kulitku yang panas.


Ketika memandang ke depan lagi, kulihat aku sudah sampai daerah Hutan, deretan panjang pepohonan yang membatasi lingkungan rumahku dengan lingkungan sebelahnya.


Diantara pohon-pohon yang tinggi dan tua itu ada jalan setapak kecil untuk sepeda. Pohon-pohon itu gundul dan tampak sedih, tampak kesepian tanpa daun-daunnya. Kadang-kadang aku bersepeda disitu, untuk mengetahui seberapa cepat aku bisa naik sepeda di jalan yang berkelok-kelok dan tidak rata.

__ADS_1


__ADS_2