Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu
Permintaan Terakhirku


__ADS_3

"Kau yang melakukannya, Shopie" katanya, senyumnya hilang. "Kau yang


mengucapkan permintaan. Aku yang mengabulkan."


"Aku tidak minta keluargaku menghilang!" jeritku sambil menghembuskan nafas kasar, tanganku terkepal kuat-kuat. "Aku tidak minta semua orang di dunia ini menghilang! Anda yang melakukannya! Anda!"


"Kau sendiri yang meminta Yuni menghilang," kata Marissa sambil merapikan syal di bahunya. "Lalu aku kabulkan permintaanmu sebisa yang kutahu."


"Tidak. Anda tidak mengabulkan apa yang saya minta. Anda sudah menipu saya," kataku ngotot dan marah.


Ia mencibir. "Sihir memang sering sulit ditebak," katanya. "Aku tahu kau takkan bahagia dengan permintaan keduamu. Itulah sebabnya aku kembali lagi. Kau punya satu permintaan lagi. Kau mau


mengucapkannya sekarang?"


"Ya!" seruku. "Aku ingin keluargaku kembali. Aku ingin semua orang kembali. Apa saja yang Anda hilangkan harus kembali. Aku...."


"Hati-hati," katanya memperingatkan sambil mengeluarkan bola kaca merah dari tas ungu miliknya.


"Pikirkan baik-baik sebelum kau mengucapkan permintaan terakhirmu. Aku berusaha membalas kebaikanmu padaku. Aku tidak mau kau jadi kecewa karena permintaanmu." tambahnya.

__ADS_1


Aku hampir bicara, tapi tidak jadi. Ia betul. Aku harus hati-hati. Kali ini aku harus mengucapkan permintaan yang benar. Dan aku harus mengucapkannya dengan benar.


"Pelan-pelan saja," katanya lirih. "Karena ini adalah permintaan terakhirmu. Hati-hatilah."


Kupandangi matanya yang berubah dari hitam jadi merah, memantulkan cahaya merah dari bola di tangannya, dan aku berpikir keras. Apa yang akan kuminta?


Cahaya dari jendela ruang depan memudar ketika matahari tertutup awan. Ketika cahaya meredup, wajah wanita tua itu menggelap. Di bawah matanya ada keriput hitam. Dahinya berkerut. Ia kelihatan seperti tenggelam ke dalam bayangan.


"Inilah permintaan saya," kataku dengan suara gemetar.


Aku bicara pelan-pelan, juga sangat hati-hati. Aku ingin memikirkan setiap perkataanku. Kali ini aku tidak ingin salah bicara lagi. Aku tidak mau ia punya kesempatan untuk menjebakku. Aku tidak mau ia menipuku lagi.


Aku berdehem. Kutarik napas dalam-dalam.


"Inilah permintaan saya yang terakhir," kataku hati-hati. "Saya ingin semua kembali normal. Saya ingin semua kembali persis seperti dulu tapi..."


Aku ragu-ragu. Haruskah kuucapkan bagian ini? Ya! kataku dalam hati.


"Saya ingin semua seperti dulu...tapi saya ingin Yuni menganggap saya orang paling hebat sedunia!" kataku penuh keyakinan.

__ADS_1


"Aku akan mengabulkan permintaan terakhirmu," ucapnya sambil mengangkat bola kaca tinggi-tinggi. "Permintaan keduamu akan dibatalkan. Waktu akan kembali lagi pada pagi ini. Selamat tinggal, Shopie."


"Selamat tinggal juga Marissa" balasku.


Aku ditelan oleh cahaya merah yang memancar. Ketika cahaya itu memudar, Marissa sudah tidak ada.


"Shopie! Shopieee...ayo bangun!" Suara ibuku terdengar dari bawah. Aku duduk tegak di tempat tidur, dan langsung terbangun.


"Ibu!" teriakku bahagia.


Aku teringat semuanya. Aku bangun di rumah yang kosong, di dunia yang kosong. Dan aku ingat permintaan ketigaku.


Tapi waktu sudah kembali ke pagi ini lagi. Kupandang jam di kamarku pukul lima lewat tiga puluh. Ibu membangunkan aku pada jam yang biasanya.


"Ibu..." teriaku keras-keras. Aku melompat dari tempat tidur, lari ke bawah dengan masih mengenakan baju tidur, dan dengan perasaan senang kupeluk Ibuku erat-erat.


"Shopie? Kau baik-baik saja?" Ibuku melangkah mundur, wajahnya tampak terkejut. "Kau sedang demam, ya?"


"Selamat pagi!" seruku bahagia sambil memeluk Pussy kucing kesayanganku, yang tampak terkejut juga.

__ADS_1


__ADS_2