Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu
Salah Orang


__ADS_3

Ketika sepeda kukayuh mendekat, dengan jantung berdebar-debar senang, kulihat ia memunggungi aku.


Pakaiannya sudah ganti. Ia mengenakan topi bundar warna putih, dan dress hitam panjang hampir sampai mata kaki.


Kuinjak rem sampai berdecit-decit dan sepedaku berhenti beberapa senti di belakangnya, roda sepedaku meluncur di jalan yang berbatu-batu.


"Aku ingin mengajukan permintaan lagi!" seruku dengan napas terengah-engah.


Ia berbalik dan aku terkesiap. Kutatap wajah yang penuh bintik-bintik jerawat, wajah yang kelihatan muda dengan rambut hitam pendek dan keriting.


"Maaf. Apa kau bilang tadi?" tanyanya, disipitkannya matanya menatapku, wajahnya bingung.


"Saya . . .saya minta maaf," aku tergagap, kurasa wajahku seperti


terbakar. "Saya . . .saya kira Anda wanita yang sedang saya cari."


Ternyata wanita ini bukan wanita aneh yang dulu. Aku ingin mati saja saking malunya! Di belakangnya kulihat ada dua orang anak berambut hitam sedang

__ADS_1


melempar-lemparkan bola di pinggir hutan kota.


"Tommy jangan lempar kuat-kuat begitu. Adikmu tidak bisa menangkapnya!" perintah wanita itu.


Lalu ia kembali menatapku.


"Apa yang kau bilang soal permintaan tadi? Kau tersesat?" tanyanya, dengan penuh perhatian diamatinya wajahku.


Aku tahu wajahku masih merah padam, tapi bagaimana lagi.


"Tidak. Saya tadi mengira Anda wanita yang saya cari." kataku malu.


"Maaf saya mengganggu Anda!" seruku. "Sekali lagi maaf, Terima kasih." Kuputar sepedaku dan cepat-cepat kugenjot pulang.


Aku malu karena tadi mengucapkan hal konyol seperti itu pada orang yang sama sekali tidak kukenal. Tapi sebetulnya aku kecewa. Aku betul-betul mengira wanita aneh itu ada di sana. Ada di mana lagi dia? pikirku.


Aku ingat dulu aku menunjukkan dia jalan ke Malabar. Siapa tahu aku beruntung dan bertemu dia di sana. pikirku dalam hati.

__ADS_1


Jauh sekali ke sana. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Kuputar sepedaku dan menuju Malabar. Angin bertiup semakin kencang, wajahku mulai terasa dingin dan kaku. Aku naik sepeda melawan arah angin, dan udara dingin yang menusuk membuat mataku berair.


Meskipun mataku kabur, aku bisa melihat wanita itu tidak ada di Malabar untuk menunggu kedatanganku. Dua kucing berwarna cokelat kulihat berlari menyeberang jalan bersama-sama, kepala mereka menunduk menentang angin. Cuma merekalah makhluk hidup yang kulihat.


Aku mondar-mandir naik sepeda beberapa kali, mataku mengamati


rumah-rumah di sekitar situ. Cuma buang-buang waktu saja. Badanku terasa kaku semua. Kuping dan hidungku terasa gatal karena


mati rasa. Air mata dingin mengalir di pipi dari mataku yang berair.


"Sudahlah, Shop," perintahku pada diri sendiri keras-keras.


Langit semakin gelap. Awan badai melayang rendah di atas pepohonan yang bergetar. Dengan perasaan sedih dan kalah, aku berbalik dan pulang. Kukayuh sepeda sekuat tenaga di sepanjang jalan, berusaha agar sepedaku jangan sampai terjatuh ditiup angin kencang.


Aku berhenti ketika rumah Yuni sudah kelihatan. Rumahnya besar dan tingkat dua bercat dinding merah, bergaya modern, terletak jauh dari jalan, dengan halaman depan yang luas dan landai. Mungkin sebaiknya aku berhenti sebentar dan melihat keadaan Yuni, pikirku.


Aku juga jadi bisa menghangatkan badan sebentar sambil beristirahat, kataku dalam hati. Kuangkat tangan dan kupegang hidungku. Benar-benar mati rasa. Sambil gemetaran kuamati dari sepeda dan kurebahkan di tanah. Lalu sambil menggosok-gosok hidung supaya tidak mati rasa.

__ADS_1


Rumah Yuni di kelilingi pagar, tak ada penjaganya. Saat aku mencoba melihat ke dalam terasa sepi, mungkin mereka semua di dalam. Aku coba membuka pagarnya tapi tidak bisa, pagar itu terkunci. Lalu bagaimana aku bisa masuk untuk melihat keadaan Yuni?


__ADS_2