Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu
Jam Istirahat


__ADS_3

Aku dan Yuni bertengkar di saat istirahat. Aku duduk agak jauh dari dia, tapi aku masih bisa mendengar dia bercerita pada dua anak kelas lainnya.


''Bird berusaha terbang waktu pelajaran Matematika." suara Yuni terdengar samar. Semua orang tertawa dan memandangi aku.


"Kau menjegal aku Yuni" teriakku marah. Mulutku sedang penuh dengan makanan, saat ku berteriak. Semua orang mentertawakan aku lagi.


Yuni mengatakan sesuatu, aku tidak bisa mendengarnya, karena terlalu berisik saat istirahat. Dia mencibir padaku dan mengibaskan rambutnya ke belakang bahu.


Aku berdiri dan ingin menghampirinya. Aku tidak tau apa yang sedang kulakukan. Tapi aku marah sekali sampai tidak bisa berfikir jernih. Untunglah Colin muncul di dekatku, lalu menyuruhku duduk kembali.


"Berapa empat tambah dua?" godanya


"Empat puluh dua," jawabku sambil memelototkan mata. "Kau percaya Yuni ?" tanyaku suram.


"Tentu saja aku percaya Yuni " katanya sambil membuka bungkusan makanan nya. "Yuni ya Yuni"..


"Apa maksudmu?" bentakku.


Ia mengangkat bahu. Ia meringis, "Entah."


Colin lumayan tampan. Matanya cokelat, hidungnya mancung dan senyumnya manis juga lucu. Rambutnya bagus tapi tidak pernah di sisir. Jadi dia selalu memakai topi untuk menutupi rambutnya yang berantakan.

__ADS_1


Aku memandang sekilas ke arah Yuni. Yuni dan kedua temannya anak kelas lain entah sedang membicarakan apa. Tatapanku begitu tajam ke arah Yuni


Sambil membereskan sisa makanannya Colin berkata.


"Jangan bunuh Yuni, Kau bisa susah nanti "


Aku tertawa, tertawa mengejek "Kau bercanda Colin ! Aku bisa dapat penghargaan bila berhasil membunuh anak paling menyebalkan di kelas kita!"


"Kalau kau bunuh Yuni, tim bola basketmu bisa kalah nanti," kata Colin sambil membenarkan topinya yang miring.


"Oh benar juga ucapanmu!" seruku sambil memukul lengannya. Dasar Colin dia memang selalu bercanda, itu sebabnya aku senang berteman dengannya.


Aku tentu saja, pemain paling bodoh, kuakui itu, Permainanku benar benar parah, seperti kubilang tadi, aku tidak bisa macam macam di lapangan basket.


Tapi Pak Edi ngotot. Pak Edi adalah pelatih bola basket tim anak perempuan, dia ditugaskan melatih anak kelas 7. Dan dia yang memaksaku bergabung.


"Shopie, kau tinggi sekali !" katanya padaku. "Kau harus bermain bola basket . Kau punya bakat alam !"


Yah, aku memang punya bakat alam, bakat alam jadi orang bodoh. Aku sama sekali tidak bisa menembak, tembakan hukumanpun aku tidak bisa dan yang lebih parah lagi aku tidak bisa berlari tanpa tersandung sepatuku sendiri. Tanganku kecil, meskipun bagian tubuhku yang lain tidak, jadi aku tidak terlalu pandai melempar atau menangkap bola.


Kurasa Pak Edi sudah mendapat pelajaran : tinggi badan bukan segalanya dalam permainan basket, walaupun itu di butuhkan. Tapi sekarang ia malu untuk mengeluarkan aku dari tim. Jadi aku masih saja bergabung terus. Aku berlatih keras. Maksudku, aku merasa nanti aku akan pandai juga bermain basket, jangan sampai permainanku semakin parah. Kalau saja Yuni tidak sejahat itu, dan kalau saja ia bisa sedikit ramah kepadaku.

__ADS_1


Tapi seperti kata Colin. "Yuni ya Yuni". Dia selalu membentak bentak aku selama latihan, mengolok-olok aku, dan membuatku merasa setinggi enam puluh sentimeter (yang kadang memang itulah harapanku) kalau aku pendek mungkin Pak Edi tidak akan memaksaku bergabung dengan tim basket.


"Bird, terbang sajalah kau jauh jauh dari tim ini, permainanmu parah sekali, kau justru akan membuat tim ini kesulitan!" seru Yuni.


Sambil menatap matanya tajam "Kalau kau bicara sekali lagi, akan kutinju kau!" senaknya saja memanggilku dengan sebutan "bird". balasku.


"Apa yang terjadi, Shop?" kenapa bicaramu seperti itu ," suara Colin membuatku sedikit mengurangi rasa emosi.


"Yuni telah mengolok-olok aku" jawabku penuh emosi.


"Sudahlah Shop !" kau itu anak yang baik!" seru Colin


"Oya ," bentakku jengkel. "Apa sifat baikku? Tinggi badanku ?"


"Bukan, kau itu pandai dan lucu". kata Colin sambil menepuk-nepuk pundakku.


"Terima kasih banyak " kataku, dengan dahi berkerut.


"Dan kau sangat teramat baik " tambahnya. "Kau sangat baik hati, baik sekali, bolehkah aku minta keripik kentangmu itu?" Disambarnya bungkusan itu sebelum aku bisa menyembunyikannya.


Aku tau pasti ada apa-apanya dibalik pujian itu. Kuamati Colin menyikat keripik kentangku. Aku tidak ditawari sedikit pun. Lalu bel berbunyi dan aku segera melangkah ke arah kelas. Dan bersiap mengikuti pelajaran Tata Boga.

__ADS_1


__ADS_2