
Aku kembali mendaratkan tubuhku di sofa ruang tengah. Ibu datang dari arah kamar mandi.
Ia tersenyum padaku, "Shopie, kau keluar sebentar nak, beli sate untuk makan malam kita"
"Iya, Bu," jawabku datar. Ibu masuk ke kamar dan memberikan uang. Lalu ia masuk lagi dan Ayah keluar dengan membawa handuk yang di kalungkan pada lehernya. Mereka bergantian membersihkan badan.
Aku mengambil sepeda di garasi samping. Mengayuh sepeda pelan-pelan, lampu-lampu jalan dan rumah menyala terang, aku tak mengalami kendala sampai tempat penjual sate.
Setelah sate kudapat, aku langsung pulang. Udara malam terasa menusuk tulangku. Haruanya tadi aku mengenakan mantelku sebelum keluar rumah.
Sampai rumah, aku letakan sate di meja makan. Ayah dan ibu sudah menungguku disana.
"Panggil kakakmu, Shop!" perintah Ayahku.
"Tapi…"
"Cepat," desak Ayah, sementara Ibuku sibuk menyiapakan piring dan sendok, juga gelas.
Aku melangkah dengan kaki terseret menuju kamar Rendy. Kakiku terasa pegal saat menaiki tangga. Baru juga aku sampai di rumah, tapi sudah disuruh kembali.
__ADS_1
"Ren, turun," kataku. "Makan malam sudah siap"
Aku makan dengan lahap, karena sate adalah makanan favoritku. Suasana terasa hening saat makan malam. Hanya terdengar suara denting piring dan sendok yang beradu.
"Setelah selesai kita lansung pergi ke rumah Tantemu, Shop." kata Ibu tiba-tiba mengusir keheningan.
"Rendy juga ikut, kan?" tanyaku sambil terus menyantap sate di depanku.
"Hei! aku harus belajar. Kau tahukan sekarang aku kelas sembilan, aku harus banyak mengulang pelajaran untuk menghadapi ujian akhir." protes Rendy. Alisku terangkat sebelah, jelas-jelas aku bertanya pada ibu, kenapa dia yang menjawab.
"Rendy benar," kata Ayah mendukung perkataan Rendy.
Entah terlalu senang atau terlalu bersemangat, sewaktu tangannya dihentakkan ke bawah, tangan itu menghantam keras meja makan. Piring pun bergetar dan air dalam gelas sedikit tumpah. Ia meringis kesakitan. Kurasa sedikit malu juga. Wajahnya seketika memerah, seperti kepiting rebus. Ayah dan ibu memandang dengan tatapan marah tanpa bicara.
"Ha-ha...makan tuh, YESS!" seruku. "Emang enak. Banyak gaya, sih!"
Setelah selesai makan malam, aku membantu Ibuku merapihkan meja dan membawa piring juga gelas kotor ke wastafel. Rendy langsung kembali ke kamarnya, sedangkan Ayah pindah ke ruang tengah. Menunggu di sana.
"Cepat sedikit! Nanti kita kemalaman di jalan," teriak Ayahku.
__ADS_1
Setelah meletakkan piring dan gelas kotor. Aku dan Ibu segera menyusul ke ruang tengah. Selanjutnya kami akan pergi ke rumah tanteku. Rumah tanteku tidak terlalu jauh hanya berjarak sepuluh kilometer dari kediaman kami.
Ayah melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Malam hari jalanan tidak terlalu padat, tidak seperti sore hari di saat jam pulang kerja. Di tengah perjalanan Ayah menghentikan laju mobilnya, tepat di depan sebuah toko buah. Ibu mengajakku turun untuk membeli beberapa buah yang akan diberikan untuk tanteku.
Aku merengek dan menolak dengan membuat alasan badanku lelah. Ibu berusaha menyeretku keluar dari mobil, tapi aku tetap bertahan. Setelah usahanya tak berhasil, akhirnya ia berjalan masuk sendiri ke toko buah dengan wajah sedikit kesal.
"Kau kenapa, Shop?" tanya Ayah padaku.
"Aku capek, kan tadi aku di suruh Ibu beli sate. Terus ketika kembali langsung di suruh memanggil Rendy ke kamarnya," aku menjawab dengan suara lirih, agar Ayah percaya padaku.
"Mungkin kau kurang makan sayur, jadi badanmu mudah lelah," jawab Ayahku.
Aku diam, tak membalas ucapannya. Terkadang Ayahku mengatakan sesuatu yang membuat aku bingung harus menjawab apa. Ibu masuk ke dalam mobil dengan membawa satu kantong buah apel dan jeruk. Ia membalikkan badannya, menyodorkan kantong itu padaku.
Ayah melanjutkan perjalanan. Setelah lima belas menit akhirnya kami sampai juga di rumah tanteku. Rumah tanteku tidak terlalu besar, ia tinggal berdua dengan suaminya. Anaknya Billy, ikut dengan neneknya. Tanteku biasanya menengok Billy saat libur sekolah.
Tanteku sedang tidak sehat, dan tujuan kunjungan kami untuk menjenguk dan menghiburnya. Kurasa aku tidak terlalu baik melakukannya. Aku nyaris tidak bicara sepatah kata pun. Harusnya Rendy ikut, dia kan sering membuat lelucon-lelucon saat bicara. Walaupun lelucon itu cuma dia yang mengerti.
Selama kunjungan itu. Ayah, Ibu, dan Tanteku asik mengobrol, aku hanya jadi pendengar yang baik. Lebih tepatnya berusaha baik. Aku memang kurang dekat dengan tanteku, beda halnya dengan pamanku. Sayangnya saat kunjungan kami, paman sedang pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Pukul sepuluh malam, akhirnya kami berpamitan untung pulang.
__ADS_1