
Aku berlari-larl ke ruang ganti pakaian sambil tersenyum lebar. Aku hampir selesai berganti pakaian ketika teman-teman satu timku terseret-seret masuk.
Yuni berjalan mendekatiku dan bersandar di lemariku. Dipandanginya aku dengan tatapan curiga.
"Kenapa kau bisa penuh semangat begini?" desaknya.
Aku mengangkat bahu. "Entahlah," kataku. "Perasaanku baik-baik saja. Seperti biasanya."
Keringat mengalir di dahi Yuni. Rambut menempel di wajahnya karena basah.
"Ada apa, Bird?" desaknya sambil menguap. "Aku tidak mengerti."
"Mungkin kau kena flu atau apalah," kataku, berusaha menutupi betapa senangnya aku. lni benar-benar hebat!
"Ohh, aku capek sekali," erang Anna sambil mendekati Yuni.
"Aku yakin besok kalian pasti sudah baikan," kataku riang.
"Ada yang aneh di sini," gumam Yuni lemah. Ia berusaha menatapku tajam, tapi matanya terlalu lelah untuk difokuskan.
"Sampai ketemu besok!" kataku gembira, kuambil barang-barangku dan berjalan ke luar. "Semoga lekas Baikan ya, teman-teman!"
Aku berhenti di luar ruang ganti pakaian. Mereka akan merasa baikan besok, kuyakinkan diriku sendiri. Mereka akan kembali normal. Mereka tidak mungkin tetap seperti sekarang?
Keesokan harinya kabar buruk menimpaku seperti satu ton batu bata. Yuni dan Anna tidak sekolah. Aku memandangi kursi mereka yang kosong sambil berjalan ke tempat dudukku di deretan depan. Aku menoleh terus, mencari-cari mereka. Tapi sampai bel berbunyi, mereka tetap tidak ada. Absen. Dua-duanya absen.
__ADS_1
Aku ingin tahu apa pemain-pemain lain di timku absen juga.
Aku bergidik.
Apa mereka masih lemah dan capek? Terlalu lemah dan capek sehingga tidak masuk sekolah?
Aku punya pikiran mengerikan. Bagaimana kalau mereka tidak pernah
kembali normal?
Bagaimana kalau kekuatan gaibnya tidak pernah habis?
Lalu aku punya pikiran yang lebih mengerikan lagi.
Bagaimana kalau Yuni, Anna, dan pemain-pemain lain terus saja semakin lemah?
semuanya gara-gara aku?
Semuanya salahku. Semuanya salahku.
Seluruh tubuhku terasa dingin. Seumur hidup belum pernah aku merasa begitu bersalah, amat sangat bersalah.
Kucoba menyingkirkan pikiran-pikiran itu dari kepalaku, tapi tidak bisa.
Aku terus saja berpikir bagaimana kalau mereka sampai mati karena permintaanku yang ceroboh. Aku akan jadi pembunuh, kataku dalam hati sambil gemetaran. Pembunuh.
__ADS_1
Bu Selvie, guru kami, berdiri tepat di depanku, sedang membicarakan sesuatu. Aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakannya sedikit pun.
Aku terus saja bergerak-gerak di kursiku, memandangi dua kursi kosong di belakang. Yuni dan Anna, apa yang telah kulakukan pada kalian?
Saat istirahat kuceritakan semuanya pada Colin. Tentu saja ia menertawakan aku. Mulutnya penuh dengan makanan, ia nyaris tercekik karena tertawa. Tapi aku sedang tidak ingin bercanda. Aku benar-benar sedang cemas.
Kupandangi makananku yang belum kumakan, aku merasa tak berselera.
"Seriuslah, Colin," kataku. "Aku tahu hal ini kedengarannya konyol.
"Maksudmu kau sungguh-sungguh?" tanyanya, matanya mengamati
wajahku. "Kukira kau bercanda, Shop. Kukira tadi itu cerita untuk
penulisan kreatif atau apalah."
Aku menggeleng.
"Dengar Colin, kalau kemarin kau menonton pertandingan basket anak perempuan, kau akan tahu aku tidak sedang main-main, aku tidak sedang bercanda" kataku sambil bersandar di meja dan berbisik.
"Mereka melangkah terseret-seret seperti sedang berjalan sambil tidur," kataku.
"Benar-benar mengerikan!"
Saking bingungnya, bahuku jadi bergetar. Kututupi mataku supaya tidak menangis.
__ADS_1
"Oke... ayo kita pikirkan," kata Colin pelan, senyumnya yang lucu mendadak hilang, dahinya berkerut. Akhirnya, mau juga ia menganggapku serius.