
Aku marah, sakit hati, dan terhina sekali, sehingga rasanya sebentar lagi bisa meledak.
"Semoga Yuni menghilang!" jeritku. "Semogaaa!"
"Baik. Itu akan jadi permintaan keduamu," kata suara di belakangku.
Aku berputar dan melihat wanita aneh itu sedang berdiri di samping rumah, rambutnya yang panjang dan hitam berkibar-kibar ditiup angin. Diangkatnya bola kaca merah yang menyala tinggi-tinggi. Matanya bersinar merah seperti bola kaca itu.
"Akan kubatalkan permintaan pertamamu," katanya dengan suara
gemetar seperti wanita tua. "Akan kukabulkan permintaan keduamu."
"Tidak...tunggu!" teriakku.
Wanita itu tersenyum dan ditutupinya kepalanya dengan syal.
"Tunggu! Saya tidak serius!" teriakku sambil berlari mendatanginya. "Saya tidak tahu Anda ada disini. Tunggu OW!"
Kakiku tersandung batu di jalanan, aku terjatuh. Lututku terasa sakit sekali. Rasa sakitnya terasa di sekujur tubuh.
Ketika kulihat lagi, ia sudah tidak ada.
Setelah makan malam, Rendy mau diajak main basket di belakang. Tapi
udara terlalu dingin dan berangin. Tetes-tetes air hujan mulai berjatuhan.
__ADS_1
Kami akhirnya main ping-pong di kamar yang tak terpakai. Susah rasanya main ping-pong di ruangan ini. Yah, alasan pertama ruangannya sempit. Alasan kedua, Pussy kucingku punya kebiasaan buruk mengejar-ngejar bola dan menggigitinya sampai bolong.
Aku cuma pandai main ping-pong. Aku punya servis yang sangat menipu, dan aku pintar memukul bola ke arah kerongkongan lawan. Biasanya aku bisa mengalahkan Rendy dua set dari tiga set pertandingan. Tapi malam ini ia tahu aku tidak main serius.
"Ada apa?" tanyanya ketika kami memukul bola pelan-pelan.
Matanya yang kelam menatapku dari balik kacamata berbingkai hitamnya.
Kuputuskan aku harus menceritakan padanya soal Marrissa, bola kristal merahnya, dan tiga permintaanku. Aku ingin sekali bercerita pada seseorang.
"Beberapa hari yang lalu aku membantu seorang wanita aneh," kataku. "Dan ia berjanji akan mengabulkan tiga permintaanku. Kuucapkan
permintaanku, dan sekarang semua pemain tim bola basketku sebentar
Rendy menjatuhkan pemukulnya ke atas meja. Mulutnya ternganga.
"Waduh, kebetulan sekali!" teriaknya.
"Hah?" Aku melongo menatapnya.
"Kemarin aku ketemu peri pelindungku!" seru Rendy. "Ia berjanji akan membuatku jadi orang paling kaya di dunia, dan ia akan memberi aku
rumah mewah dari emas dengan kolam renang di belakangnya!"
Ia tertawa terbahak-bahak. Dikiranya ia lucu sekali.
__ADS_1
"Aaaaaagh!" Aku menggeram karena marah dan frustrasi.
Lalu kulemparkan pemukulku ke arah Rendy dan lari ke kamarku. Kubanting pintu kamar dan berjalan mondar-mandir di dalam, tanganku terlipat di dada.
Aku terus menenangkan diri sendiri, tidak bagus kalau sampai kacau begini. Tapi tentu saja percuma menyuruh diri sendiri tenang. Aku malah jadi semakin tegang.
Kuputuskan aku harus melakukan sesuatu untuk mengalihkan pikiranku,
supaya tidak teringat Yuni terus, dan Marissa, dan permintaan baru yang tidak sengaja kuucapkan. Permintaan keduaku.
"Tidak adil!" teriakku kuat-kuat sambil terus berjalan mondar-mandir.
Aku sama sekali tidak sadar waktu mengucapkan permintaan keduaku
itu. Wanita itu menipuku! Ia tiba-tiba muncul dan menipuku!
Aku berhenti di depan cermin dan bermain-main dengan rambutku.
Rambutku sangat indah. Begitu indahnya, sehingga rasanya tidak perlu diatur dengan gaya macam-macam. Biasanya kuikat jadi buntut kuda di sebelah kanan kepalaku. Kulihat ada model yang agak mirip dengan aku di majalah Remaja menata rambutnya
seperti itu.
Supaya ada kerjaan, kucoba-coba gaya rambut yang lain. Sambil mengamati diriku di cermin, kucoba menyisir rambut ke belakang. Lalu kucoba membelah rambut di tengah dan kugerai menutupi telinga. Kelihatan payah sekali. Percuma, aku tetap saja teringat Yuni terus. Akhirnya kuikat jadi buntut kuda lagi. Lalu kusisir sebentar, kulempar sisirnya sambil menarik napas, dan mondar-mandir lagi.
Aku terus bertanya-tanya. Apakah harapanku sudah jadi kenyataan? Apakah aku telah membuat Yuni menghilang?
__ADS_1