Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu
Di Rumah


__ADS_3

Tak terasa aku sudah sampai di rumah. Aku langsung membuka pagar dan meletakkan sepedaku di garasi. Pussy berlari menyambut kedatanganku. Tampaknya ia sangat gembira melihatku.


Aku membuka sepatuku. Pintu rumah masih terkunci, berarti kakakku Rendy belum pulang. Aku buka tasku, mengambil kunci. Ceklek..pintu terbuka, lalu aku masuk ke dalam. Sepi. Sunyi. Cuma ada aku seorang.


Aku tidak pernah merasa takut meskipun sendirian di rumah. Aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Rendy biasanya baru pulang jam tiga atau jam empat. Mungkin ada pelajaran tambahan di sekolah, jadi ia sering pulang sore. Ia sekarang kelas sembilan dan bersiap menghadapi ujian akhir. Sedangkan Ayah dan Ibuku sampai rumah mendekati pukul enam.


Aku bergegas menuju dapur, Pussy terus mengekor di belakangku. Sampai dapur aku langsung membuka kulkas, kuambil air dingin, kutuangkan ke gelas dan langsung meminumnya. Perutku terasa lapar, aku lihat ada roti. Kuambil dan kuolesi dengan selai nanas. Aku tidak yakin bisa kenyang kalau cuma makan roti.


Kuputuskan untuk memasak mie, untuk mengatasi rasa laparku. Aku buka lemari dapur mencari mie instan, tapi sayang tidak ada yang tersisa. Hanya ada sekotak Wishkas, kutuangkan ke tempat pakan kuncing, kuberikan pada Pussy. Pussy memakan dengan lahap. Kasihan! Mungkin dia lapar. Pikirku. Tampaknya Ibuku belum belanja keperluan rumah bulan ini. Aku menghela nafas panjang.


Pertandingan basket di sekolah tadi dan juga sewaktu pulang di kejar-kejar anjing, benar-benar menguras energiku. Badanku terasa lelah dan capek.


Ting...Ting...Ting...Ting...


Terdengar suara dari depan rumah, suara khas pukulan dari tukang bakso. Aku segera mengambil mangkuk dari rak piring. Aku menyerbu ke luar. Hampir saja aku terjatuh karena tersangkut kakiku sendiri. Bodoh!

__ADS_1


"Bang, beli," teriakku keras-keras. Tukang bakso itu berhenti dan menoleh ke arahku.


Aku berjalan pelan menghampiri. "Baksonya jangan di kasih tauge sama sambel ya, bang!" pesanku sambil memberikan mangkuk yang kubawa dari rumah. "GPL bang"


"Wani piro," jawabnya singkat sambil menatapku. Kami tertawa serempak.


Dengan gesit dan cekatan ia meracik bakso pesananku. "Ini, neng," katanya. Diserahkan mangkuk bakso padaku. "Awas panas"


"Iya…terimaksih, bang" kataku sambil memberikan uang. Akupun membawa bakso dengan hati-hati karena masih panas.


Aku hidupkan radio, dan mencari-cari saluran musik. Setelah kutemukan musik yang terdengar enak di telinga. Aku langsung menyantap baksoku. Kulihat Pussy tertidur di dekat pintu dapur. Sambil makan, sesekali aku bersenandung mengikuti lagu yang di putar.


Setelah selesai menyantap bakso, perutku terasa kenyang. Akupun melangkah masuk kamar. Kuletakkan tasku di kursi belajar. Aku hempaskan tubuhku di kasur dengan kasar. Bruuk! Pandanganku menatap langit-langit kamar. Kembali aku teringat pada Yuni. Bagaimana caranya agar ia tak mengikuti aku terus? Saat ini aku masih bisa menghadapinya. Tapi esok, esok dan esoknya! Aku rasa aku tak akan sanggup lagi. Aku bisa gila karena kekonyolannya.


Pikiranku dipenuhi tentang Yuni, membuat kepalaku pusing. Kupejamkan mataku mencoba mengusir Yuni jauh-jauh dan melupakannya. Karena perutku sudah kenyang dan badanku benar-benar letih, rasa kantuk menyerangku. Akupun tertidur pulas tanpa sempat mengganti seragam sekolahku.

__ADS_1


Tiba-tiba aku merasakan lenganku di goyang-goyang. Tubuhku terguncang pelan.


"Hei, Shop! Bangun," kudengar suara Rendy samar-samar.


Aku membuka mata, dan melihat Rendy membungkuk di dekatku. Sepertinya ia baru pulang sekolah, karena ia masih pakai seragamnya. Aku mengerang, menggeliat, dan menguap. Mencoba tidur kembali.


"Shop, bangun! Ini sudah sore, jangan tidur lagi" teriak Rendy keras-keras.


"Ah, sebentar lagi. Aku masih ngantuk," jawabku malas. "Badanku capek"


"Bangun!" ulang Rendy sambil menepuk lenganku. "Lihat, kau tidur masih pakai seragam, kalau ibu tau pasti kau kena marah"


"Iya..iya aku bangun" kataku. Aku melihat jam di atas meja belajarku. Pukul setengah lima.


"Cepat mandi" perintah Rendy sambil melangkah keluar kamarku.

__ADS_1


Aku bangun dan duduk di depan cermin. Badanku terasa sakit semua.


__ADS_2