Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu
Pemain Paling Kuat


__ADS_3

"Anda baik sekali," kataku sambil mengusap air hujan di sadel sepeda


dengan tangan. "Tapi sekarang ini aku tidak ingin minta apa-apa," Aku hanya ingin pulang.


"Tolonglah biarkan aku membalas kebaikan hatimu," wanita itu berkeras.


Diangkatnya bola yang menyala itu dengan satu tangan. Tangannya kecil dan pucat seperti wajahnya, jari-jarinya kurus.


"Aku benar-benar ingin membalas budi."


"Ibu ayah dan kakak saya pasti sudah cemas," kataku sambil memandang ke


jalanan.


Tidak ada orang, semua terlihat sepi.


Tidak ada orang yang bisa melindungi aku dari orang gila ini, kalau ia jadi berbahaya. Seberapa gilanya dia? pikirku. Apa dia bisa jadi berbahaya?

__ADS_1


Apa aku membuatnya marah karena tidak mau menurut, karena tidak mau


meminta sesuatu?


"Ini tidak main-main," kata wanita itu, ia bisa melihat ada perasaan ragu di mataku. "Permintaanmu akan jadi kenyataan. Aku berjanji."


Disipitkannya matanya. Bola merah itu tiba-tiba menyala semakin terang. "Ucapkan permintaan pertamamu, Shopie."


Kupandang dia lagi sambil berpikir keras. Aku kedinginan, basah, lapar dan agak ketakutan. Aku cuma ingin pulang dan ganti baju. Ibu Ayah dan Kakak ku Rendy pasti mereka cemas, kenapa aku belum pulang juga padalah hari semakin gelap.


Tapi bagaimana kalau dia tidak mau membiarkan aku pergi? Bagaimana kalau aku tidak bisa menyingkirkannya? Bagaimana kalau ia mengikuti aku sampai ke rumah?


dinyalakan. Mungkin kalau perlu aku bisa lari ke rumah paling dekat dan minta pertolongan.


Tapi, pikirku, mungkin lebih mudah kalau dituruti saja wanita gila ini dan minta sesuatu. Mungkin ia akan puas dan meneruskan perjalanannya, dan membiarkan aku pulang.


"Apa keinginanmu, Shopie?" desaknya.

__ADS_1


Matanya yang hitam menyala merah, sama seperti bola menyala yang dipegangnya. Tiba-tiba ia kelihatan sangat tua. Kuno. Kulitnya pucat dan kencang sekali, aku sampai merasa bisa melihat tengkoraknya. Aku berdiri kaku dan diam. Aku tidak tahu harus minta apa. Lalu aku kelepasan bicara.


"Saya ingin...menjadi pemain paling kuat di tim bola basket saya!"


Entah kenapa waktu itu aku berkata begitu. Kurasa karena gugup. Dan


karena teringat pada Yuni dan semua kejadian hari itu, yang berakhir dengan bencana waktu latihan basket. Jadi itulah permintaanku. Tentu saja aku segera merasa seperti orang yang benar-benar bodoh. Maksudku, dari segitu banyaknya hal yang bisa diminta di dunia ini, buat apa minta yang seperti itu?


Tapi wanita itu sama sekali tidak kelihatan terkejut. Ia mengangguk, dipejamkan matanya sebentar. Bola merah itu menyala semakin terang, semakin terang seketika cahaya merahnya yang seperti api bersinar menyelimuti aku. Lalu segera meredup.


Marissa mengucapkan terima kasih sekali lagi, berbalik, dimasukkannya bola kaca itu ke dalam tas ungu, dan cepat-cepat berjalan pergi.


Aku menarik napas lega. Aku senang sekali ia pergi! Aku naik ke sepeda, kuputar, dan cepat-cepat kukayuh ke arah rumah.


Akhir yang sempurna untuk hari yang sempurna, pikirku pahit. Terjebak di tengah hujan dengan wanita gila. Dan permintaan tadi? Aku tahu semuanya benar-benar bodoh.


Aku tahu aku tidak usah memikirkannya lagi. Kukayuh sepedaku meninggalkan tempat itu, bergerak cepat untuk terus menjauh, jalan yang basah dan licin membuatku sulit untuk mepercepat laju sepedaku.

__ADS_1


Angin yang meniup hujan ke arahku semakin membuat ku menggigil, pelan-pelan tapi pasti setelah aku kelelahan dan hampir saja jatuh dari sepedaku, rumahku mulai kelihatan, lega rasanya ketika akhirnya aku sampai di rumah. Aku ingin segera mandi dan melupakan kejadian hari ini.


__ADS_2