
Guru pelajaran Tata Boga adalah Ibu Dini. Aku suka pada Ibu Dini. Dia wanita bertubuh besar, riang, dan suka bergurau.
Menurut desas-desus, Ibu Dini selalu menyuruh kami memasak kue brownies, supaya bisa dimakannya sendiri setelah pelajaran selesai.
Kurasa omongan orang-orang begitu jahat. Tapi mungkin ada benarnya juga.
Pelajaran Tata Boga dimulai tepat setelah istirahat, jadi kami tidak terlalu lapar. Lagi pula, sebagian besar hasil masakan kami tidak enak, kucing saja rasanya tidak akan suka. Jadi biasanya kami tinggalkan saja di kelas.
Aku selalu menunggu-nunggu pelajaran ini. Selain karena Ibu Dini guru yang asik, dan cuma pelajaran inilah yang tidak pernah ada pekerjaan rumahnya.
Tapi pelajaran Tata Boga hari ini benar-benar kacau.
Kejadiannya begini: kami membuat puding tapioka. Dan semuanya berantakan. Kami semua punya mangkuk adonan besar berwarna biru dan bahan bahan untuk memasak diletakkan di meja panjang di sebelah kompor.
Aku sibuk mengaduk-aduk adonanku, adonanku terlihat bagus dan empuk, suaranya plop plop kalau kuaduk dengan sendok kayu panjang. Entah kenapa tanganku jadi lengket. Mungkin ketumpahan puding sedikit. Jadi aku berhenti mengaduk-aduk dan mengelap tanganku di celemek.
Aku lumayan bersih untuk ukuranku, cuma ada sedikit genangan puding kuning di mejaku. Sisanya sebagian besar ada di mangkuk adonan.
Aku selesai mengaduk dan ketika kuangkat kepalaku ternyata ada Yuni.
__ADS_1
Aku agak terkejut karena dia tadi bekerja di sebrang sana, di dekat jendela. Biasanya kami selalu memisahkan diri sejauh mungkin. Yuni tersenyum aneh, dan ketika mendekati aku dia pura-pura tersenyum manis.
Aku bersumpah dan aku yakin, dia pura-pura tersandung. Ditumpahkannya seluruh isi adonan tapiokanya ke sepatuku.
"Ups!" katanya
Cuma itu cuma "Ups"
Kupandang sepatu baruku yang tertutup adonan puding kuning empuk. Saat itulah aku jadi emosi, aku meraung marah dan mengulurkan tanganku ke leher Yuni. Aku tidak bermaksud melakukannya, kurasa aku jadi gila, semua itu karena emosi sekali. Aku mengulurkan kedua tanganku dan mencekik tenggorokan Yuni.
"Sepatu baruku! Sepatu baruku jadi kotor!" ucapanku sambil masih mencekik tenggorokannya.
Yuni meronta-ronta dan berusaha melepaskan cekikanku, dijambaknya rambutku dan mencoba mencakarku.
Tapi kupegang terus tenggorokannya dan meraung lagi, seperti harimau marah.
Ibu Dini terpaksa memisahkan kami.
Ditariknya bahuku, lalu dia berada di tengah-tengah kami, menghalangi pandangan kami.
__ADS_1
"Shopie ! Shopie ! kenapa kau ?" Kurasa itu yang diteriakkan Bu Dini, aku tidak terlalu mendengarnya, ditelingaku terdengar suara bergemuruh, keras seperti suara air terjun. Kurasa cuma karena perasaanku sedang marah saja.
Sebelum aku sadar, aku sudah menjauh dari meja dan berlari keluar ruangan. Aku berlari ke lorong sekolah yang sepi dan berhenti.
Aku tidak tau harus berbuat apa lagi, aku marah sekali. Kalau aku bisa mengajukan permintaan, kataku pada diri sendiri, aku tau aku minta apa :
HANCURKAN YUNI !!
HANCURKAN YUNI !!
HANCURKAN YUNI !!
Aku tau harapanku itu akan segera terkabul.
Ibu Dini menyeretku masuk ke kelas lagi dan memaksa aku dan Yuni bersalaman, juga menyuruh saling minta maaf. Kalau tidak begitu kami akan di keluarkan dari sekolah.
"Tadi benar-benar kecelakaan." gumam Yuni samar. "Kenapa kau ini , Bird?"
Minta maaf apaan tuh. Batinku sebal.
__ADS_1
Tapi akhirnya aku bersalaman juga dengan dia. Aku tidak mau orang tuaku sampai di panggil ke sekolah, karena anak perempuan mereka berusaha mencekik teman sekelasnya.