Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu
Perubahan Aneh


__ADS_3

Kami berjalan ke kelas. Beberapa anak berhenti berjalan dan memandangi Yuni, yang menyandang dua tas di bahunya. Mereka tampak keheranan melihat apa yang di lakukan oleh Yuni. Biasanya Yuni dan Aku selalu bertengkar, tapi kali ini Yuni dan aku akrab sekali bagaikan sahabat karib.


"Di mana kau beli sepatumu?" tanya Yuni ketika kami berada di dalam kelas. "Aku ingin beli persis seperti punyamu, sepatumu sangat bagus"


Tiba-tiba Yuni berjongkok, mengeluarkan tissu dari saku bajunya. "Sepatumu kotor, Shop," katanya. "Biar aku bersihkan"


"Hei, Yuni! Kau tak perlu melakukan itu. Aku bisa membersihkan sendiri" aku menarik sepatuku.


"Aku hanya ingin membantumu, Shop" di angkat kepalanya menatap wajahku kecewa.


Hebat sekali! pikirku, senang bukan main. Ini benar-benar hebat! Perubahan pada diri Yuni benar-benar luar biasa. Susah sekali rasanya menahan tawa. Dalam hati aku mengucapkan terimakasih pada Marissa karena kali ini ia benar-benar mengabulkan permintaanku. Tidak menjebak dan menipuku seperti permintaan-permintaanku sebelumnya.


Tapi aku tidak tahu sebentar lagi tawaku akan berubah jadi kengerian. Lama-lama jadi memalukan juga. Yuni selalu menempel padaku. Ia ikut ke mana pun aku pergi. Kalau aku bangun untuk meraut pinsil, ia mengikuti aku dan meraut pinsilnya juga.


Waktu sedang ujian Biologi, mulutku terasa kering, aku minta izin pada Pak Ahyar untuk pergi berkumur sebentar di toilet. Dan ketika sedang membungkuk di keran, aku berbalik dan melihat Yuni tepat di belakangku.


"Kenapa kau ada di sini, apa yang kau lakukan, Yuni?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Mulutku kering seperti kau, Shop, aku ingin berkumur juga" katanya, pura-pura batuk.


Kemudian, ketika sedang pelajaran Matematika, Ibu Shelvie terpaksa


memisahkan Yuni dan aku karena Yuni terus-terusan mengajakku berbicara. Membuat suasana belajar jadi terganggu. Dan membuat teman-teman sekelasku menatap ke arah kami.


Saat jam istirahat, aku duduk di hadapan Colin seperti biasanya. Aku


baru saja akan menceritakan kelakuan baru Yuni padanya, ketika Yuni datang mendekati kami.


Anak itu bergeser, Yuni mengeluarkan makanannya.


"Kau mau tukar-tukaran makanan?" tanyanya padaku. "Punyamu kelihatannya jauh lebih enak daripada punyaku."


Aku sedang memegangi sandwich selai nanas. "Ini?" tanyaku sambil menggoyang-goyang rotiku. Sedikit selainya jatuh dari roti yang lembek.


"Enak!" seru Yuni. "Mau makananku, Shop? Ini. Ambillah." Disorongkannya ke hadapanku. "Kau membawa sandwich paling enak. Coba ibuku menyiapkan makanan untuk istirahat seperti punyamu."

__ADS_1


Aku bisa melihat di hadapanku Colin memandangiku, matanya terbelalak tidak percaya. Aku juga tidak percaya. Yuni benar-benar ingin mirip denganku!


Tidak jauh dari kami, di dekat dinding, Anna duduk sendirian. Ia kelihatan sangat muram. Kulihat ia melirik-lirik ke arah kami, keningnya berkerut. Lalu cepat-cepat ditundukkannya pandangannya dan menatap makanan.


Setelah pelajaran terakhir selesai, Yuni mendekati aku. Dibantunya aku memasukkan buku dan alat tulisku dan bertanya apa ia boleh membawakan tasku. Mula-mula, kuanggap semua ini benar-benar lucu. Dua teman sekelasku melihat kami di kelas sambil mengejek. Keluar dari kelas Yuni mengikuti aku ke lemari penyimpanan.


Tadi sewaktu menuju lemari penyimpanan kudengar anak-anak lain membicarakan Yuni dan aku di lorong. Mereka berhenti bicara ketika Yuni dan aku lewat, tapi kulihat wajah mereka tersenyum senang.


Gara-gara Yuni, aku jadi kelihatan konyol! pikirku. Seluruh sekolah menertawakan kami!


"Kau pakai kawat gigi, ya?" tanya Yuni ketika kami berjalan beriringan menuju lapangan basket. "Ada yang memberitahuku kau pakai kawat gigi."


"Yeah. Memang," gerutuku sambil membelalakkan mata.


"Hebat!" seru Yuni. "Kalau begitu aku mau pasang juga!"


Aku terkesiap mendengar ucapannya. Yuni benar-benar konyol dan membuatku malu.

__ADS_1


__ADS_2