
Aku terus saja teringat pada Yuni.
Harus kuapakan dia? Aku bisa saja marah dan menyuruhnya pergi. Tapi aku tahu itu percuma saja. Aku telah memintanya menganggap aku orang paling hebat sedunia. Sekarang Yuni tersihir, terpengaruh mantera Wanita Kristal.
Ia tidak akan mau disuruh pergi.
Bisakah aku mengabaikannya saja? Pasti tidak mudah karena ia terus
mengikuti aku, bertanya-tanya, memohon supaya boleh melayaniku.
Apa yang bisa kulakukan? Apa? Aku terus memikirkannya di sepanjang perjalanan pulang. Orangtuaku pun jadi tahu aku tidak seperti biasanya.
"Ada apa, Shop?" desak ibuku ketika kami dalam perjalanan pulang.
"Oh, tidak ada apa-apa," kataku berbohong. "Cuma memikirkan tugas
sekolah."
Sebenarnya aku ingin bercerita dan mengatakan rencanaku. Tapi aku ragu. Sesampainya di rumah, ada empat pesan untukku di mesin penjawab telepon, semuanya dari Yuni.
Ibu menatapku, curiga. "Lucu. Seingat Ibu kau dulu tidak berteman
dengan dia," katanya.
"Yeah. Ia sekarang sekelas denganku," kataku. Aku tidak mau menerangkannya. Aku tahu aku tidak bisa menjelaskan semua padanya.
Aku segera ke kamar. Capek sekali rasanya, kurasa karena cemas
terus-terusan. Kuganti pakaianku dengan baju tidur, kumatikan lampu,
dan naik ke tempat tidur. Sesaat, aku berbaring menatap langit-langit, mengamati bayang-bayang pohon di luar jendela terayun-ayun. Aku berusaha mengosongkan pikiran, berusaha membayangkan biri-biri putih gemuk melompati awan-awan putih.
Aku baru saja akan tertidur ketika kudengar papan lantai berderak. Ketika kubuka mata lebar-lebar, tampak bayangan hitam bergerak di
__ADS_1
dekat lemari pakaianku yang gelap.
Aku berteriak tertahan ketika menyadari ada orang di kamarku.
Sebelum aku sempat bergerak, ada tangan yang panas dan kering mencengkeram lenganku.
Aku mencoba berteriak, tapi tangan itu menutup mulutku. Aku..aku bisa tercekik! pikirku, kaku karena ketakutan. Aku tidak bisa bernapas!
"Sst…jangan menjerit!" bisik penyerangku. Lampu kamar dinyalakan. Tangan itu tidak lagi menutup mulutku.
"YUNI!" kataku parau, suaraku tercekat di tenggorokan.
Ia tersenyum, matanya berbinar-binar karena bersemangat, dan ditempelkannya jari ke bibirnya."Ssttt."
"Yuni, ngapain kau di sini?" tanyaku.
Akhirnya aku bisa berteriak, suaraku sudah kembali. Jantungku masih berdebar-debar keras sekali, rasanya aku sampai tidak bisa bernapas.
"Bagaimana caramu masuk?" tanyaku lagi.
lemari dan menunggumu. Kurasa aku sempat tertidur sebentar tadi."
"Tapi kenapa?" desakku marah. Aku bangun dan kupijakkan kakiku
ke lantai. "Mau apa kau?"
Senyumnya hilang. Mulutnya cemberut. "Katamu kita bisa belajar bersama," jawabnya dengan suara seperti anak kecil. "Jadi kutunggu kau, Shop."
Cukup sudah. "Keluar!" teriakku. Aku masih ingin bicara pada Yuni, tapi aku terdiam ketika pintuku diketuk.
"Shopie, kau baik-baik saja?" seru Ayahku. "Kau sedang bicara dengan
seseorang?"
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, Yah," kataku.
"Kau tidak sedang menelepon, kan?" tanyanya curiga. "Kau tahu kau tidak boleh menelepon malam-malam begini."
"Ya. Aku mau tidur sekarang," kataku.
Kutunggu sampai kedengaran suara langkah kakinya di tangga. Lalu aku berbalik menatap Yuni.
"Kau harus pulang," bisikku. "Begitu
keadaan sepi"
"Tapi kenapa?" desaknya, sakit hati. "Kau bilang kita akan belajar bersama."
"Tidak sekarang!" teriakku. "Lagipula, ini sudah terlalu malam. Kau harus pulang. Orang tuamu pasti bingung mencarimu, Yuni."
Ia menggeleng. "Aku pergi diam-diam. Mereka mengira aku sudah tidur."
Dan Ia tersenyum. "Tapi kau baik sekali mau memikirkan orang tuaku, Shop. Kau memang anak yang paling penuh perhatian."
Pujian konyolnya malah membuatku semakin marah. Aku marah sekali, rasanya ingin sekali merobek mulutnya.
"Aku suka sekali kamarmu," katanya sambil memandang berkeliling
sekilas. "Kau sendiri yang memilih poster-poster itu?"
Aku menarik napas kesal. "Yuni, aku ingin kau pulang sekarang," bentakku pelan, kata perkata, supaya ia bisa mendengarkan aku.
"Besok kita bisa belajar bersama?" tanyanya memohon. "Aku betul-betul butuh bantuanmu, Shop."
"Mungkin," jawabku. "Tapi kau tidak boleh menyelinap ke rumahku lagi, dan…"
"Pintar sekali kau," potongnya. "Di mana kau beli baju tidurmu? Garis-garisnya bagus sekali. Coba aku punya baju tidur seperti itu."
__ADS_1
Sambil memberi tanda supaya dia diam, aku pelan-pelan keluar kamar. Semua lampu sudah dimatikan. Orang tuaku sudah masuk kamar.
Sambil menarik tangan Yuni, aku berjalan ke bawah, berjingkat-jingkat tanpa suara, melangkah satu-satu. Lalu aku benar-benar mendorongnya ke luar dari pintu depan dan mengunci pintu begitu ia keluar.