Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu
Selepas Pertandingan


__ADS_3

Aku kecewa ketika menyadari ternyata jauh lebih buruk kalau Yuni memujaku dan bukannya membenciku! Kalau ia membenciku, paling tidak ia tidak akan mengikuti aku terus!


Aku teringat saat dulu bertemu wanita aneh itu. Niatku tulus membantunya, tapi akhirnya sekarang menjadi seperti ini. Aku hanya berusaha menjadi orang baik, orang yang suka membantu. Seperti yang Ayah dan Ibuku ajarkan.


Andai saja saat itu aku tak membantunya, tak menghiraukan kehadirannya dan berlalu dari hadapannya. Tidak perlu mengucapkan permintaan-permintaanku. Rasanya menyesal menjadi orang baik, bila kenyataannya sekarang menjadi masalah buatku. Aku benar-benar menyesal.


Aku sudah mengucapkan tiga permintaan, dan semuanya berubah jadi mimpi buruk dalam hidupku. Sekarang aku terpaksa menerima


kenyataan Yuni selalu mengikuti aku, meniru-niru, terus memuji-muji apa pun yang kulakukan, menempel padaku seperti anak kucing dan jadi penyakit saja! Yuni seperti benalu yang menempel di tubuhku.


Aku benar-benar menginginkan saat-saat ketika ia mengolok-olok aku. Memaggil aku dengan sebutan bangau. Aku juga rindu saat ia mempermalukan aku di depan kelas, ketika ia mengikuti aku sambil berseru, "Bird, terbang sajalah kau! Terbang sajalah kau, Bird!"


Tapi apa dayaku? Sudah kuucapkan tiga permintaanku. Apa seumur hidup aku harus ditempeli Yuni terus?


Pertandingan telah selesai.Kami kalah dengan perbedaan lima belas atau enam belas angka. Aku tidak terlalu memedulikan skor-nya. Aku cuma ingin keluar dari sana. Tapi ketika aku berjalan ke ruang ganti pakaian, Yuni sudah menungguku.

__ADS_1


Diberikannya sehelai handuk padaku. "Pertandingan hebat!" teriaknya sambil menepuk tanganku.


"Hah?" Aku cuma bisa bengong menatapnya. Tim kami kalah tapi ia menganggap itu pertandingan hebat.


"Setelah makan malam kita belajar bersama, ya?" pintanya dengan tatapan memohon. "Ya? Kau bisa mengajari aku Matematika. Kau jauh lebih pandai daripada aku. Kalau untuk urusan pelajaran Matematika, kaulah jagonya."


"Nanti malam" kataku terkejut.


"Iya, nanti malam" Yuni memohon lagi. "Aku ingin belajar denganmu, Shop".


Yuni membantu aku merapikan. "Oh, baiklah tapi besok malam, kau maukan belajar bersamaku, Shop"


"Lihat saja besok". Aku keluar meninggalkannya.


Untunglah, setelah makan malam aku harus pergi mengunjungi tanteku bersama orangtuaku. Aku jadi punya alasan tepat supaya tidak belajar bersama Yuni. Tapi apa alasanku untuk malam berikutnya? Dan berikutnya, dan berikutnya?

__ADS_1


Aku berjalan ke parkiran sepeda. Saat aku mengambil sepedaku dan bersiap mengayuh, tiba-tiba aku mendengar teriakan seseorang memanggil namaku.


"Shopie. Shopie, tunggu" Aku menoleh, kulihat Yuni berlari kecil mendekatiku. "Bolehkan aku pulang bersamamu, aku ingin naik sepeda denganmu, Shop"


Yuni benar-benar membuatku kesal. Biasanya ia selalu mengolok-olak aku, karena aku ke sekolah naik sepeda. Tapi sekarang ia ingin ikut denganku. Gila!


Yuni biasanya pulang pergi selalu di antar jemput ibunya. Kenapa sekarang ia belum di jemput, kemana ibunya?


"Yuni, kau kemana saja, Ibu menunggumu di tempat biasa, sayang. Ternyata kau di sini" teriak Ibunya.


"Aku ingin pulang bersama Shopie, Bu!" balas Yuni.


"Kau harus pulang dengan Ibu, kita akan pergi ke mall untuk membeli keperluan rumah bulan ini" kata Ibunya sambil menyeret tangan Yuni ke mobil.


Aku benar-benar lega. Ibu Yuni datang tepat pada waktunya, hampir saja Yuni pulang denganku. Bagaimana jadinya bila Yuni pulang denganku. Aku tak bisa membayangkan hal-hal mengerikan yang akan terjadi nanti. Membuatku bergidik.

__ADS_1


__ADS_2