
Seram juga lorong-lorong ini kalau kosong begini, pikirku. Aku lari ke kelasku, yang letaknya tidak jauh dari lemari penyimpananku.
"Ibu saya lupa membangunkan, makanya saya jadi terlambat ke sekolah."
Itulah alasan yang akan kukatakan pada Ibu Selvie begitu masuk kelas. Tapi itu kan bukan sekadar alasan. Memang itulah yang sebenarnya.Tapi aku tidak pernah mengatakan alasan keterlambatanku itu pada Ibu Selvie.
Kudorong pintu kelas dan terkejut. Ternyata kosong. Kelasku kosong. Tidak ada anak-anak. Tidak ada Ibu Selvie. Lampu masih menyala. Dan tulisan kemarin masih ada di papan tulis. Aneh, pikirku.
Tapi waktu itu aku belum tahu betapa anehnya kejadian yang akan terjadi. Aku berdiri kaku sesaat, menatap ruang kelas yang kosong dan gelap. Lalu aku teringat, mungkin saja semua orang sedang berkumpul di auditorium.
Aku cepat-cepat berbalik dan berlari-lari melewati lorong kosong ke auditorium di depan sekolah. Pintu ruang guru terbuka. Kuintip dan terkejut ketika melihat ruangan itu kosong juga. Mungkin guru-guru ikut berkumpul juga, pikirku.
Beberapa detik kemudian, kubuka pintu auditorium. Dan kupandangi ruangan itu. Auditorium juga sepi dan kosong. Kututup pintu dan berlari-lari di lorong. Aku berhenti dan memandang ke dalam semua ruangan yang kosong. Aku segera sadar cuma aku satu-satunya orang di gedung ini. Tidak ada anak-anak. Tidak ada guru. Aku bahkan memeriksa kamar penjaga sekolah. Kosong juga.
Apa sekarang hari Minggu? Apa sekarang hari libur? Aku berusaha
menebak-nebak ke mana semua orang pergi, tapi gagal.
__ADS_1
Dengan panik, kumasukkan koin ke telepon umum di sebelah kantor kepala sekolah dan menelepon ke rumah. Kubiarkan telepon berdering sampai sepuluh kali. Tetap tidak ada orang di rumah.
"Ke mana sih orang-orang?" teriakku di koridor yang kosong. Jawabannya cuma gema suaraku.
"Ada yang mendengarkan aku?" teriakku, kubentuk tanganku seperti
terompet di depan mulut, tetap saja sepi.
Tiba-tiba aku merasa ketakutan sekali. Aku harus keluar dari gedung sekolah yang mengerikan ini. Kusambar mantel dan segera lari. Aku bahkan tidak sempat menutup pintu lemari. Sambil menyandang mantel di bahu, aku lari ke luar, ke tempat sepeda. Cuma sepedaku yang diparkir di sana. Aku kesal sendiri karena tidak dari tadi menyadarinya.
"Aneh sekali!" teriakku kuat-kuat.
Kakiku tiba-tiba terasa berat, seakan-akan ada yang membebani. Aku tahu pasti karena merasa panik. Jantungku berdebar-debar. Aku terus mencari-cari orang siapa saja di jalan. Di tengah perjalanan pulang, aku berputar dan kukayuh sepeda ke arah kota. Daerah pertokoan cuma beberapa blok di sebelah utara sekolah.
Aku naik sepeda di tengah jalan. Buat apa bersepeda di pinggir. Pada kenyataannya tidak tampak ada mobil atau truk dari arah mana pun. Bank mulai nampak, lalu toko serba ada. Ketika kukayuh sepeda sekuat tenaga, kuperhatikan semua toko yang berderet di kedua sisi. Semuanya gelap dan kosong. Tak ada orang di kota. Tak ada seorang pun di toko. Tak seorang pun.
Kurem sepeda di depan salon potong rambut dan melompat turun. Sepedaku
__ADS_1
jatuh ke samping. Aku melangkah ke trotoar, dan mendengarkan. Yang terdengar cuma suara tirai terbanting-banting ditiup angin di tempat tukang potong rambut itu.
"Halo!" Aku berteriak sekuat tenaga. "Hallllooooo!"
Aku segera berlari panik dari toko ke toko, kutekan wajahku ke etalase, mengintip ke dalam, setengah mati mencari-cari manusia lain. Bolak-balik. Aku berlari di kedua sisi jalan, semakin lama aku semakin merasa takut.
"Hallooooo! Halllooooo! Ada yang mendengarkan aku?"
Tapi aku tahu percuma saja berteriak-teriak. Sambil berdiri di tengah jalan, melotot memandangi toko-toko kosong dan trotoar yang sepi, aku tahu aku sendirian. Sendirian di dunia.
Tiba-tiba aku sadar permintaan keduaku telah dikabulkan. Yuni sudah menghilang. Dan semua orang telah menghilang bersamanya. Semua orang.
Ibu dan Ayahku. Kakakku, Rendy. Semua orang menghilang.
Bisakah aku bertemu mereka lagi? Aku terduduk di teras semen di depan tempat potong rambut dan memeluk diriku sendiri, berusaha menahan badanku supaya tidak gemetaran.
Sekarang bagaimana? pikirku suram. Sekarang bagaimana?
__ADS_1