
Seharian ini aku terus-terusan memikirkannya sambil berusaha menahan tangis.
"Bagaimana kalau aku pembunuh, Colin? Bagaimana kalau mereka betul-betul mati." kataku cemas.
"Shopie, tolong," katanya, dahinya masih berkerut, matanya yang cokelat tua menatap mataku. "Mungkin saja Yuni dan Anna sama sekali tidak sakit. Mungkin ini cuma khayalanmu. Mungkin saja mereka sehat-sehat saja."
"Tidak mungkin," gumamku suram.
"Oh. Aku tahu!" Wajah Colin berubah cerah. "Kita tanya saja ke Ibu Melly."
"Ibu Melly?"
Ibu Melly adalah penjaga UKS sekolah kami. Lama aku baru mengerti apa yang dimaksudkan Colin. Tapi akhirnya tahu juga.
Ia betul. Kalau kau akan absen, orang tuamu harus menelepon Bu Melly untuk memberitahukan penyebabnya. Kemungkinan besar Bu Melly akan bisa mengatakan pada kami kenapa Yuni dan Anna hari ini tidak masuk sekolah.
Aku melompat, kursiku sampai hampir jatuh.
"Ide hebat, Colin!" seruku. Aku berlari menuju ruang UKS.
"Tunggu! Aku ikut kau!" teriak Colin sambil bergegas menyusul.
Sepatu kami berdetak-detak di lantai yang keras ketika kami berlari di lorong panjang menuju ruang UKS. Kami sampai ketika Bu Melly sedang mengunci pintu. Ia wanita yang agak gemuk, pendek, kurasa umurnya sekitar empat puluhan, rambutnya hitam dan disanggul di atas kepala.
"Waktu istirahat," katanya ketika melihat kami berhenti di sampingnya. "Apa yang mereka masak hari ini? Aku lapar sekali."
__ADS_1
"Bu Melly, Anda bisa mengatakan pada kami kenapa hari ini Yuni dan Anna tidak masuk sekolah?" desakku dengan napas terengah-engah, tidak kujawab pertanyaannya tadi.
"Hah," jawabnya. Karena aku bicara terlalu cepat dan terlalu bersemangat, kurasa ia tidak tahu apa yang kumaksudkan.
"Yuni Bonita dan Anna Clarissa?" ulangku, jantungku berdebar-debar. "Kenapa hari ini mereka tidak masuk sekolah?"
Kulihat mata Bu Melly yang kelabu pucat tampak terkejut. Lalu ditundukkannya pandangannya.
"Yuni dan Anna, mereka sudah tidak
ada," katanya sedih.
Aku bengong menatapnya. Mulutku ternganga ketakutan. "Mereka sudah tidak ada?" tanyaku.
"Mereka apa?" jeritku.
Bu Melly berusaha menarik kunci dari pintu.
"Mereka pergi ke dokter," ulangnya. "Tadi pagi ibu mereka menelepon. Mereka sakit parah. Kedua anak itu terkena flu atau apalah. Mereka merasa lemah. Tidak sanggup masuk sekolah."
Aku menarik napas lega. Aku senang Bu Melly sedang berkonsentrasi menarik kunci, ia jadi tidak melihat wajahku yang ketakutan. Bu Melly berjalan cepat di lorong. Begitu ia tidak kelihatan, aku
merosot di dinding.
"Paling tidak mereka tidak mati," keluhku. "Ia bikin aku setengah mati ketakutan!"
__ADS_1
Colin menggeleng. "Bu Melly bikin aku takut juga," akunya. "Lihat? Yuni dan Anna cuma kena flu. Aku yakin Shop"
"Mereka tidak kena flu," aku ngotot. "Mereka jadi lemah karena permintaanku."
"Telepon mereka nanti," usulnya. "Kau akan lihat sendiri. Mungkin saja mereka sudah merasa baikan."
"Aku tidak bisa menunggu sampai nanti," kataku dengan suara gemetar. "Aku harus melakukan sesuatu, Colin. Aku harus melakukan sesuatu untuk mencegah mereka jadi makin lemah dan akhirnya mati!"
"Tenanglah, Shopie" katanya.
Aku berjalan mondar-mandir di depannya. Beberapa anak bergegas
lewat. Ada yang memanggilku, tapi tidak kujawab.
"Kita harus masuk kelas," kata Colin. "Kurasa kau mengada-ada tanpa sebab, Shop. Kalau kau mau menunggu sampai besok"
"Dia bilang aku punya tiga permintaan!" seruku tidak kudengar perkataan Colin sepatah pun. "Baru satu yang kugunakan."
"Shopie” Colin menggeleng tidak setuju.
"Aku harus menemukan dia!" kataku. "Aku harus menemukan wanita aneh itu. Kau tidak lihat? Aku bisa minta permintaan pertama dibatalkan. Dia bilang aku punya tiga permintaan. Jadi permintaan keduaku bisa untuk menghapus permintaan pertama!"
Ide ini membuatku merasa jauh lebih baik. Tapi Colin lalu membuatku merasa suram dengan satu pertanyaan:
"Bagaimana caramu menemukan dia, Shop?"
__ADS_1