Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu
Mencari Marissa


__ADS_3

Setelah makan malam, aku merasa begitu bersalah, sehingga kutelepon Yuni untuk menanyakan kabarnya. Kurasa seumur hidup baru kali ini aku meneleponnya.


Ibu Yuni yang mengangkat teleponku. Ia kedengaran lelah dan tegang.


"Siapa ini?" tanyanya.


Entah kenapa tiba-tiba aku ingin menutup telepon ketika aku tahu Ibunya yang mengangkat.


Tapi kujawab, "Ini Shopie". Saya teman sekolah Yuni."


Teman apaan, kalau aku memang benar temannya, tak mungkin aku akan membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Batinku.


"Saya rasa Yuni tidak bisa bangun," jawab Ibunya. "Yuni lemah sekali."


"Apa dokter mengatakan...."


"Saya tanya Yuni dulu, apa dia mau bicara," potong Ibu Yuni.


Aku bisa mendengar adik laki-laki Yuni meneriakkan sesuatu di kejauhan. Dan aku bisa mendengar musik dari film kartun di TV mereka.


"Jangan lama-lama," perintah Ibu Yuni.


"Halo?" kata Yuni dengan suara pelan.


"Oh. Hai Yuni. Ini aku. Shopie," kataku, berusaha tidak kedengaran gugup.


"Shopie?" Terdengar suara pelan lagi, nyaris berbisik.

__ADS_1


"Iya, aku Shopie," aku tergagap. "Aa...aku cuma ingin menanyakan bagaimana keadaanmu?"


"Shopie kau memantrai kami, ya?" tanya Yuni.


Aku terkejut. Kok dia tahu?


"Yuni, Aa...apa maksudmu?" semburku.


"Semua pemain sakit, kecuali kau," jawab Yuni. "Anna sakit. Anita juga. Dan Kristy."


"Ya, tapi bukan berarti aku...," sergahku.


"Jadi kurasa kau memantrai kami," potong Yuni.


Apa dia bercanda? Aku tidak tahu.


Tapi aku tidak tahu Yuni bercanda atau tidak soal aku memantrai mereka. Suaranya benar-benar pelan. Ia kedengaran begitu lelah dan tak bersemangat.


Aku merasa marah karena ia telah menuduhku, bercanda ataupun tidak. Memang begitulah sifat Yuni. Selalu menemukan jalan untuk membuatku marah bahkan di saat aku baik-baik meneleponnya. Tapi aku juga merasa bersalah. Entah Yuni menebaknya atau tidak, aku memang telah memantrai dia dan yang lainnya. Dan sekarang aku harus menemukan cara untuk menghilangkan mantra itu.


Keesokan paginya, dua tempat duduk di kelasku kosong lagi. Yuni dan Anna lagi-lagi mereka absen.


Saat istirahat, kutanya Colin apa ia mau ikut denganku pergi mencari wanita aneh itu sepulang sekolah nanti.


"Tidak mau!" teriaknya sambil menggeleng. "Ia bisa mengubah aku


jadi kodok atau entah apa lagi!"

__ADS_1


"Colin kau tidak bisa serius, ya?" jeritku. Beberapa anak menoleh.


"Yang benar saja," gumam Colin, wajahnya merah padam di bawah topi kesayangannya.


"Oke, maafkan aku," kataku. "Aku benar-benar tegang, kau tahu kan!"


Ia tetap tidak mau menemaniku. Ia mengarang alasan yang payah dan


mengatakan harus membantu ibunya membersihkan rumah.


Colin pura-pura tidak percaya pada ceritaku tentang wanita itu dan ketiga permintaanku. Tapi aku merasa mungkin ia agak takut. Aku juga takut. Takut tidak berhasil menemukannya.


Sepulang sekolah, aku melompat naik ke sepeda dan mengayuh ke arah Hutan Kota.


Hari ini kelabu dan berangin. Awan-awan besar dan gelap bergulung cepat di langit, mungkin hujan akan turun. Mirip sekali dengan hari aku bertemu dengan Marissa, pikirku. Entah kenapa, hal itu membuatku bersemangat.


Beberapa teman sekelasku melambai dan memanggilku. Tapi aku terus saja, memegang setang dan semakin kuat mengayuh. Beberapa menit kemudian, aku berbelok meninggalkan rumah-rumah yang berbaris di kedua sisi jalan, dan tampaklah pohon-pohon gundul di hutan. Pepohonan yang tinggi membentuk dinding gelap, lebih gelap dari langit hitam di atas.


"Ia harus ada di sana, harus ada di sana," kataku berulang-ulang seirama dengan kayuhan kakiku.


Harus ada di sana, harus ada di sana.


Jantungku nyaris terlompat ke luar ketika aku melihat wanita itu, membungkuk di pinggir jalan. Menungguku.


"Hai!" panggilku. "Hai! Ini aku!"


Kenapa ia tidak menjawab?

__ADS_1


__ADS_2