
Langit semakin gelap, awan hitam melayang rendah. Dan kulihat ada kilatan petir di langit, di atas pepohonan. Kuputuskan sebaiknya berbalik dan pulang saja. Tapi ketika aku berbalik, ada orang melangkah di depanku. Ia seorang wanita.
Aku terkejut melihat ada orang di jalan sepi di samping pepohonan ini. Aku memicingkan mataku. Ia kelihatan bingung, mestinya aku lari, mestinya aku menggenjot sepedaku menjauh dari dia secepat-cepatnya.
Kalau saja aku tahu ...
Tapi aku tidak menjauh, aku tidak pergi, aku malah tersenyum padanya.
"Ada yang bisa kubantu?" tanyaku.
Mata wanita itu menyipit. Aku tahu ia sedang mengamatiku. Kujejakkan kaki ke tanah agar sepedaku tidak jatuh. Hujan gemericik di jalanan, tetesannya besar-besar dan dingin.
Tiba-tiba aku ingat mantelku ada tudung kepalanya. Kujulurkan tangan ke belakang kepala dan memasang tudung menutupi rambut.
Langit semakin gelap dan berubah menjadi makin hitam mengerikan. Pepohonan gundul di hutan bergetar ditiup angin yang berputar.
Wanita itu maju beberapa langkah. Pucat sekali dia, pikirku. Hampir seperti hantu, tapi matanya dalam dan kelam, terus menatapku tajam.
"Rasa-rasanya aku tersesat," katanya. Aku terkejut, suaranya seperti suara wanita tua, agak gemetar dan lemah.
Kupicingkan mata. Rambutnya yang hitam lebat menempel bergumpal-gumpal di kepalanya karena kena hujan. Umurnya tidak bisa ditebak. Bisa saja dua puluh atau enam puluh tahun !
"Ini Hutan Kota," kataku keras-keras karena suara hujan berisik sekali.
Dia mengangguk serius, dikerutkannya bibirnya yang pucat.
"Aku ingin ke Malabar," katanya. "Kurasa aku benar-benar kehilangan arah."
"Anda lumayan jauh dari Malabar," kataku. "Malabar di sebelah sana." Aku menunjuk.
__ADS_1
Wanita itu menggigit bibir bawahnya.
"Biasanya aku pintar membaca arah," sesalnya dengan suara gemetar. Dirapikannya syal merah tebal di bahunya yang langsing.
"Malabar jauh di sebelahku sana," kataku sambil menggigil. Hujan terasa dingin. Aku tidak sabar ingin pulang dan berganti pakaian.
"Kau bisa mengantar aku ke sana?" tanya wanita itu. Dicengkramnya pergelangan tanganku.
Aku nyaris teriak keras-keras. Tangannya dingin seperti es !
"Bisa kau antar aku ke sana?" tanyanya ulang, didekatkannya wajahnya. "Aku akan sangat berterima kasih."
Ia sudah menarik tangannya. Tapi aku masih bisa merasakan genggamannya yang sedingin es di pergelangan tanganku. Kenapa aku tidak lari saja ?
Kenapa tidak kuangkat saja kakiku ke pedal sepeda dan mengayuhnya secepat mungkin ?
"Tentu. Akan kutunjukkan di mana letaknya," kataku.
Aku turun dari sepeda dan mendorongnya sambil memegangi setang. Wanita itu berjalan di sampingku, dirapatkan syal nya. Ia berjalan di tengah jalan, matanya tak henti-henti menatapku.
Hujan terus turun, kulihat ada kilatan petir di kejauhan langit yang berwarna hitam. Angin yang berputar-putar membuat mantelku berkibar-kibar mengenai kakiku.
"Apa jalanku terlalu cepat ?" tanyaku.
"Tidak sayang, aku bisa mengimbangi langkahmu," jawabnya sambil tersenyum. Di bahunya tersampir tas ungu kecil. Dikepitnya tas itu supaya tidak basah.
Ia mengenakan sepatu bot hitam di bawah roknya yang panjang. Kulihat di bagian samping sepatu botnya itu ada deretan kancing-kancing kecil. Ketika kami berjalan, sepatunya berbunyi di jalanan yang basah.
"Maaf jika aku merepotkanmu," kata wanita itu, dikerutkannya bibir dengan penuh penyesalan lagi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa," jawabku. Amalku untuk hari ini, pikirku. Kuusap tetesan hujan dari hidungku.
"Aku suka hujan," katanya. Diangkat tangannya, dibiarkannya air hujan membasahi telapak tangannya yang terbuka. "Kalau tidak ada hujan, siapa yang akan mengusir setan ?"
Aneh omongannya, pikirku. Aku menggumam tidak jelas, aku ingin tahu setan apa yang dimaksudnya tadi.
Rambut hitamnya sudah basah kuyup, kelihatannya ia tidak peduli. Ia berjalan cepat dengan langkah yang panjang dan mantap sambil mengayun satu tangan dan melindungi tas ungu dikepitan tangan yang satunya lagi.
Beberapa belok kemudian, setang sepeda terlepas dari peganganku. Sepedaku jatuh dan lututku tergores pedal waktu aku berusaha menyambar sepeda supaya jangan jatuh. Dasar Bodoh !!
Kutarik sepedaku dan berjalan lagi. Lututku berdenyut-denyut, aku menggigil, Angin meniup hujan ke wajahku.
Buat apa aku disini ? pikirku dalam hati.
Wanita itu terus berjalan cepat, wajahnya kelihatan serius.
"Hujannya deras juga," katanya, dipandangnya awan-awan gelap. "Kau baik sekali sayang,"
"Tidak terlalu jauh dari tujuanku kok," kataku sopan. Cuma delapan atau sepuluh blok saja !
"Entah kenapa aku bisa tersesat begitu jauh," katanya sambil menggeleng-geleng. "Aku yakin menuju ke arah yang bener. Lalu waktu aku sampai di pepohonan itu..."
"Kita hampir sampai," kataku.
"Siapa namamu ?" tanyanya tiba-tiba
"Shopie Wilonna," jawabku
"Namaku Marissa," katanya, "Aku Sang Wanita Kristal."
__ADS_1
Aku tidak yakin apa pendengaranku mengenai perkataanya yang terakhir itu benar begitu. Aku bingung sebentar, lalu kulupakan saja.