Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu
Permintaan Pertamaku Terkabul


__ADS_3

Aku berusaha menghibur diri, ini kan cuma permainan, tapi rasanya sama saja. Setiap kali kudengar orang tertawa, aku tahu mereka pasti


menertawakan aku, menertawakan bagaimana aku tadi memulai


pertandingan dengan berlari ke arah yang salah. Ketika kulihat hasil pertandingan untuk pertama kalinya, angkanya enam-kosong, untuk SMP Pelita Bangsa.


Tiba-tiba bola terbang ke arahku, entah dari mana datangnya. Kusambar, tapi tangkapanku meleset. Salah satu anggota timku mengambilnya, lalu mengembalikannya padaku. Aku melepaskan tembakan pertamaku. Bolanya mengenai papan, menurutku sudah hebat bisa kena papan! tapi masih jauh dari ring.


Tim lawan mengambil bola pantulannya. Beberapa saat kemudian,


kedudukan sudah delapan-kosong.


Permainanku semakin payah! erangku dalam hati.


Aku bisa melihat Yuni melotot marah dari seberang lapangan. Aku mundur, diam di sudut, jauh dari ring. Aku memutuskan akan berusaha sebisa mungkin, aku tidak berbuat apa-apa. Mungkin dengan begitu aku jadi tidak terlalu mempermalukan diriku sendiri.


Kira-kira lima menit sebelum babak pertama berakhir, kejadian mulai

__ADS_1


aneh. Kedudukan dua belas-dua, untuk Tim lawan. Yuni melempar bola ke dalam lapangan. Ia bermaksud melemparkannya ke Anna. Tapi lemparan Yuni lemah, bolanya mental ke pemain lawan yang berambut hitam pendek.


Kulihat Yuni menguap ketika mengejar anak itu. Beberapa detik kemudian, bola terlepas, mental di dekat tengah


lapangan. Anna berusaha menyambar. Tapi gerakannya lambat sekali, pemain lawan berambut hitam pendek tadi berhasil merebut bola. Anna berdiri mengamatinya, napasnya terengah- engah, keringat mengalir di dahinya. Aku terpaksa berhenti dan memandanginya. Anna kelihatan kepayahan padahal kami baru bermain lima menit! Tim lawan membawa bola melintasi lapangan, pemain-pemainnya saling melemparkan bola, sementara tim kami cuma berdiri bengong.


"Ayo, kawan !" teriak Yuni, berusaha membangkitkan semangat.


Tapi kulihat ia menguap lagi ketika berjalan ke pinggir lapangan untuk melempar bola ke dalam.


"Ayo, anak-anak! Semangat! Semangat!" teriak Pak Edi dari pinggir lapangan, tangannya dibulatkan seperti terompet di mulut. "Lari Yuni jangan


Dengan lemah Yuni melempar bola ke lantai. Bola itu mental menjauh dari pemain lawan. Kusambar dan kubawa sambil berlari secepat mungkin. Tepat di luar lingkaran tembakan tiga angka, aku berhenti, berbalik, dan mencari teman untuk diberi bola. Aku terkejut, teman-temanku masih jauh di belakang, berjalan pelan kecapekan ke arahku.


Ketika pemain-pemain lawan mengerumuni aku, berusaha merebut


bola, kutembakkan bolanya..Kena pinggiran ring dan memantul lagi ke tanganku. Kutembakkan lagi. Dan gagal lagi.

__ADS_1


Pelan-pelan Yuni mengangkat tangan untuk menangkap pantulan bola tadi. Tapi bola mental melewati tangannya. Dahinya berkerut karena kaget, tapi ia tidak berusaha mengejar. Kusambar bola, ku-dribble dua kali, nyaris tersandung dan kutembakkan.


Aku terkejut waktu melihat bolanya membal di atas ring, mendarat di


lingkaran besinya, lalu masuk.


"Bagus, Shopie!" kudengar Pak Edi berteriak dari pinggir lapangan. Teman-teman satu tim-ku bersorak lemah.


Kulihat mereka mengejar pemain lawan sambil menguap dan bergerak pelan, seperti terbius.


"Ambil! Ambil!" Pak Edi memompa semangat kami. Tapi percuma saja. Yuni tersandung dan jatuh. Aku bingung melihat ia tidak bangun. Anna menguap keras-keras sambil berjalan ke arah bola, bukannya lari. Dua teman tim-ku juga kelihatan seperti berjalan pelan


begitu saja, usaha mereka untuk menjaga ring kami lemah sekali.


Dengan mudah tim lawan menambah angka. Yuni masih berlutut, matanya setengah terpejam. Astaga, apa-apaan ini? pikirku. Suara peluit yang tinggi melengking membuyarkan lamunanku. Agak lama baru aku sadar Pak Edi meminta time out.


"Ayooo...”semangat! Semangat!" teriaknya sambil memberi tanda agar berkumpul d sekelilingnya.

__ADS_1


Aku cepat-cepat berlari mendatanginya. Ketika aku berbalik, kulihat Yuni, Anna, dan anak-anak lain berjalan pelan sambil menguap, terseret-seret.


Dan ketika Pak Edie teriak agar kami "bersemangat" kulihat mereka mendekat kepayahan. Aku terkejut ketika menyadari harapanku jadi kenyataan !!


__ADS_2