
Meskipun benci pada Yuni, aku jelas tidak mau dia menghilang untuk selamanya. Sambil mengerang keras, aku melompat ke tempat tidur. Apa yang harus kulakukan? pikirku dalam hati.
Aku harus tahu apakah harapanku jadi kenyataan. Kuputuskan untuk menelepon rumah Yuni. Aku tidak mau bertemu dan bicara dengan dia. Jadi lebih baik kutelepon saja rumahnya dan kulihat apa dia masih ada. Aku tidak perlu mengatakan siapa aku, jika dia menanyakan telepon dari siapa.
Kucari nomor telepon Yuni. Aku tidak hapal. Aku cuma pernah meneleponnya sekali. Tanganku gemetar ketika meraih telepon di atas meja. Kutekan nomor
teleponnya. Aku perlu mengulangi sampai tiga kali. Salah tekan terus. Aku benar-benar ketakutan. Rasanya perutku melilit dan jantungku lompat ke tenggorokan.
Teleponnya berbunyi.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Apakah ia sudah menghilang?
EMPAT kali.
Tidak ada yang mengangkat.
__ADS_1
"Dia sudah tidak ada," gumamku keras-keras,punggungku terasa dingin.
Sebelum telepon berdering lima kali, kudengar ada bunyi klik. Ada orang mengangkat telepon.
"Halo?" Yuni! kataku.
"Halo? Siapa ini?" desaknya. Kubanting telepon.
Jantungku berdebar-debar. Tanganku sedingin es. Berharap dia tidak mengenali suaraku. Aku menarik napas
lega. Yuni masih ada. Ia benar-benar masih ada. Ia belum menghilang dari muka bumi ini.
Dan, kusadari suaranya sudah kembali normal. Ia tidak kedengaran parau atau lemah. Suaranya kedengaran judes seperti biasanya. Apa artinya ini? Aku melompat berdiri dan mulai berjalan mondar-mandir lagi, berusaha memahami segalanya. Tentu saja, aku tidak bisa memahaminya.
Kubuka sebelah mataku, lalu yang sebelah lagi. Cahaya matahari pagi
yang pucat bersinar menembus jendela kamar tidurku. Sambil menggeram mengantuk, kusibak selimut dan duduk.
Kupandang jam di atas meja dan terkesiap. Sudah hampir pukul enam lewat tiga puluh? Kugosok mataku dan kupandang lagi. Ya. Pukul enam lewat tiga puluh.
"Hah?" teriakku, berusaha menghilangkan kantuk dari suaraku.
__ADS_1
Setiap pagi Ibu selalu membangunkan aku pukul lima lewat tiga puluh supaya aku bisa bersiap-siap sebelum berangkat dan bisa sampai di sekolah pukul setengah tujuh. Ada apa? Sekarang aku pasti sudah telat.
"Hei...Ibu!" teriakku. "Ibu!"
Aku melompat bangun dari tempat tidur. Kakiku yang panjang terlilit selimut, aku nyaris jatuh. Hebat sekali, pagi-pagi sudah kacau begini memang ciri khas aku!
"Hei, Bu" teriakku dari pintu kamar. "Ada apa? Aku jadi telat, nih!"
Karena tidak mendengar jawaban, kubuka baju tidur dan cepat-cepat mencari pakaian bersih dari dalam lemari.
"Hei, Bu? Rendy? Apa kalian sudah bangun?"
Setiap pagi Ayahku berangkat kerja pukul enam. Biasanya aku mendengarnya berjalan ke sana kemari. Tapi pagi ini aku tidak mendengar apa-apa. Aku sudah kesiangan, aku tidak sempat mandi lagi. Kupakai seragam sekolahku, lalu kusisir rambutku, kupandang wajahku yang masih mengantuk di cermin.
"Ada yang sudah bangun?" teriakku. ''Kenapa hari ini tidak ada yang
membangunkan aku? Ini bukan hari libur kan?"
Kudengarkan dengan cermat sambil memakai sepatuku. Tidak terdengar suara televisi dari ruang tengah. Aneh sekali, pikirku.
Setiap pagi Ibu selalu melihat siaran berita dari televisi itu. Kami selalu bertengkar soal televisi. Ibu ingin melihat berita, sedangkan aku ingin
__ADS_1
melihat kartun saat sarapan.
Tapi hari ini tidak terdengar suara apa-apa.