
Yuni melambai pada Anna dan bergegas mendekatiku. "Pagi, Shop," katanya, dan tersenyum. Lalu dibuka topinya dan aku terkesiap.
"Yuni...rambutmu!" teriakku terkejut.
"Kau suka?" tanyanya sambil menatapku penuh semangat.
Ia memotong rambutnya seperti rambutku dan diikatnya seperti buntut
kuda di samping, persis seperti aku!
"Ku...kurasa..." aku tergagap.
Ia menarik napas lega dan tersenyum padaku.
"Oh, aku senang sekali kau menyukainya, Shop!" teriaknya berterima kasih. "Persis seperti rambutmu, kan? Atau jangan-jangan kupotong terlalu pendek? Apa menurutmu mestinya lebih panjang?" Diamatinya rambutku. "Kurasa rambutmu lebih panjang."
"Tidak. Tidak. Rambutmu... bagus, Yuni," kataku sambil mundur.
"Tentu saja tidak sebagus rambutmu," kata Yuni lagi sambil menatap buntut kudaku. "Rambutku tidak seindah rambutmu. Tidak secantik rambutmu, dan warnanya tidak sebagus warna rambutmu."
Astaga! pikirku. "Rambutmu kelihatan bagus, kok," kataku pelan.
Kubuka mantel dan kugantung di dalam lemari. Lalu kupungut tasku.
"Biar kubawakan," kata Yuni berkeras. Dirampasnya dari tanganku. "Betul. Aku tidak keberatan, Shop."
__ADS_1
Aku akan protes, tapi Anna memotong. "Apa-apaan kau ini?" tanyanya pada Yuni sambil melirikku dingin. "Ayo masuk kelas."
"Kau masuk saja duluan," jawab Yuni. "Aku ingin membawakan tas Shopie."
"Hah?" Anna ternganga. "Kau benar-benar gila ya, Yuni?" desaknya.
Yuni tidak mempedulikannya dan berbalik memandangku. "Aku suka dengan tasmu, Shop. Tas itu sangat keren, Shop. Kau beli di Toko Borobudur, ya? Aku beli tasku di sana. Lihat. Aku pakai tas persis seperti tasmu."
Aku melotot kaget. Astaga, Yuni mengenakan tas yang sama seperti punyaku, tapi tasnya merah dan tasku biru muda.
"Yuni...kenapa sih kau ini?" tanya Anna sambil mengoleskan lipstik jingga menyala untuk kedua puluh kalinya di bibirnya. "Dan kauapakan rambutmu?" serunya, tiba-tiba ia menyadari gaya rambut Yuni yang baru.
"Persis seperti rambut Shopie, kan?" tanya Yuni pada Anna sambil mengibas-ngibaskan buntut kudanya.
Anna terbelalak. "Yuni, kau ini sudah gila, ya?"
"Hah?" Anna mengetuk kepala Yuni, seperti mengetuk pintu. "Ada orang di rumah?"
"Sampai nanti, ya?" kata Yuni tidak sabar. Anna menarik napas, lalu pergi dengan marah.
Yuni kembali menatapku. "Boleh aku minta tolong?"
"Yeah. Tentu," jawabku. "Minta tolong apa?"
Disandangnya tasku di bahu kirinya. Tasnya sendiri tergantung di bahu kanannya.
__ADS_1
"Kau mau membantuku memperbaiki tembakan penaltiku waktu latihan nanti siang?"
Aku tidak yakin pada apa yang kudengar. Kupandangi dia, mulutku
ternganga.
"Mau, ya?" pintanya. "Aku ingin sekali mencoba tembakan penalti seperti gayamu. Tahu, kan. Dari bawah. Pasti aku lebih bisa mengontrol bola kalau dari bawah, seperti kau."
Ini sudah keterlaluan! Keterlaluan! Ketika kupandang mata Yuni, kulihat ia benar-benar memujaku!
Di tim-ku dia yang paling jago melakukan tembakan penalti. Sekarang
dia malah memohon-mohon padaku untuk menunjukkan padanya cara menembak yang kaku yang selalu kulakukan!
"Yeah. Oke. Kuusahakan untuk membantumu," kataku.
"Oh, terima kasih, Shop!" teriaknya penuh terima kasih. "Baik sekali kau! Boleh aku nanti meminjam catatan pelajaran biologimu? Punyaku berantakan sekali."
"Yah..." kataku bingung. Catatanku benar-benar berantakan, aku sendiri tidak bisa membacanya.
"Biar kusalin dan langsung kukembalikan padamu. Janji," kata Yuni
terengah-engah. Kurasa ia mulai merasa berat karena menyandang dua
tas di bahunya.
__ADS_1
"Oke. Kau boleh meminjamnya," kataku.