MY BOS MY MANTAN

MY BOS MY MANTAN
BAB 64. PURA PURA TIDAK TAU_ MBMM


__ADS_3

Keesokan harinya Nyonya Riana kembali memberanikan diri untuk menemui Tuan Thomson di rumah sederhana yang ditempati oleh Tuan Thomson dan juga Claudia. Nyonya Riana mengira saat itu Claudia sudah pergi ke kantor. Hingga Nyonya Riana pun langsung melajukan mobil miliknya ke arah rumah Tuhan Thomson.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih satu jam menelusuri jalanan ibu kota yang lumayan macet, Nyonya Riana tiba disana. Seperti biasa jika pagi-pagi Tuan Thomson selalu merawat tanamannya yang ada di pekarangan rumah. Tuan Thomson menghabiskan hari-harinya merawat tanaman sayuran dan juga bunga yang indah di pekarangan rumahnya.


Tuan Thomson memanfaatkan tanah setapak yang ada di sana untuk dapat mengurangi biaya pengeluaran mereka sehari-hari. Bahkan Tuan Thomson juga bercocok tanam dengan polybag agar mereka dapat menghasilkan sayuran yang ia tanam sendiri hingga membuat aura rumah sederhana itu semakin asri.


Nyonya Riana keluar dari mobil miliknya. berniat ingin menghampiri Tuan Thomson.


"Mas Thomson!" Panggil Nyonya Riana ketika dirinya sudah berdiri di pekarangan rumah Tuan Thomson membuat Tuan Thomson terhenyak melihat kehadirannya.


Ngapain lagi kamu datang ke sini, lebih baik kamu langsung pulang sebelum putriku menyadari kehadiranmu di sini." ucap Tuan Thomson kepada Nyonya Riana meminta Nyonya Riana agar segera meninggalkan rumah sederhana miliknya. Tuan Thomson takut kalau Claudia melihat kedatangan Nyonya Riana, Claudia akan marah besar kepada nyonya Riana.


Sesuai dengan janji Claudia kepada Tuhan Thomson dia tidak akan Sudi menerima Nyonya Riana lagi di rumah sederhana milik mereka. Hati Claudia begitu sakit ketika mengetahui kalau Nyonya Riana ternyata berada di kota yang sama. Tetapi Nyonya Riana sama sekali tidak pernah mencari tahu tentang kehidupan Claudia dan juga Tuan Thomson.


Itu artinya Nyonya Riana sama sekali tidak peduli kepada Claudia. Hari ini Claudia memang sengaja tidak perlu lagi ke kantor sesuai dengan permintaan Kenzo. Kenzo meminta Claudia untuk istirahat saja di rumah sebelum hari pernikahan mereka dilangsungkan. Kenzo tidak ingin membebani Claudia dengan pekerjaan-pekerjaan dari kantor sebelum hari pernikahan mereka.


Claudia yang mendengar Tuan Thomson berbicara dengan seseorang. Ia keluar dari dapur dengan membawakan nampan dan berisikan secangkir kopi dan makanan ringan untuk disuguhkan kepada tuan Thomson pagi itu. "Selamat pagi Ayah ngopi dulu." sapa Claudia Aulia Thomson belum menyadari kehadiran Nyonya Riana disana.


Ketika Claudia mendongakkan kepalanya. setelah menghidangkan secangkir kopi di atas meja kecil yang ada di teras rumah mereka. "wah ada angin apa Nyonya Riana datang ke rumah kami? tanya Claudia pura-pura tidak mengetahui kalau dirinya sudah mengetahui Nyonya Riana merupakan ibu kandungnya sendiri.


Nyonya Riana mengembangkan senyumnya menatap Claudia dengan Tatapan yang sulit diartikan. Terlihat Tuan Thomson sama sekali tidak bicara apa-apa. Ia memilih diam dan duduk di samping meja kecil untuk menikmati kopi yang dihidangkan oleh putrinya itu.

__ADS_1


"Apa kau tidak ke kantor? Nyonya Riana penuh sendiri kepada Claudia.


"Tidak, kali ini aku tidak ke kantor Memangnya ada apa Nyonya datang kesini? tanya Claudia dengan wajah yang biasa saja tanpa menunjukkan ekspresi apa-apa. Tuhan Thomson juga merasa kalau Claudia tidak mengetahui kalau Riana merupakan ibu kandungnya sendiri.


Tuan Thomson mempersilahkan Nyonya Riana duduk di sebelah kursi kecil itu. "Silakan duduk jika anda Sudi duduk di kursi seperti ini." ucapThomson kepada Nyonya Riana membuat Nyonya Liana semakin merasa bersalah kepada tuan Thomson dan juga Claudia.


"Bolehkah aku memelukmu? tiba-tiba saja Nyonya Riana memohon kepada Claudia agar Claudia mengizinkan Nyonya Riana memeluk dirinya. "Maaf aku tidak biasa dipeluk Orang asing. Hanya ayah dan kekasihku yang bisa memelukku."ucap Claudia menghindar dari tubuh Nyonya Riana.


Ayah jangan lama-lama duduk, jika pembicaraan Ayah dengan Nyonya Riana telah usai istirahatlah. Aku tahu kerja kondisi kesehatan Ayah tidak memadai untuk melakukan ini semua. Tapi ayah selalu melakukannya untukku. Ayah selalu melakukan yang terbaik untuk Claudia. Agar Claudia merasa bahagia. ucap Claudia kepada Tuan Thomson


Tuan Thomson mengembangkan senyumnya menatap putrinya yang tampak sudah dewasa dan sebentar lagi akan menjadi seorang istri pengusaha kaya raya. Claudia Aulia Thomson langsung memeluk ayahnya. "Claudia menyayangimu ayah, Claudia tidak ingin terjadi sesuatu kepada ayah. Karena hanya ayah satu-satunya orang yang aku punya. orang yang selalu ada buat Claudia walaupun susah dan senang. orang yang merawat Claudia semenjak kecil.


"jangan terus memikirkan wanita yang sudah meninggalkan ayah dan meninggalkan karena menurut Claudia dia tidak layak untuk dipikirkan dan dipertahankan." ucap Claudia sambil melepaskan pelukannya dari Tuan Thomson.


Tuan Thomson mengelus pundak putrinya, lalu berusaha menutupi segalanya. Claudia sengaja membicarakan seperti itu kepada Tuhan Thomson agar Nyonya Riana mendengarnya. Dan Claudia berharap Nyonya Riana menyadari apa yang dilakukannya di masa lalu itu sangatlah salah besar.


Sudah Ayah Claudia masuk dulu. Claudia tidak ingin Ayah sakit jadi cepat-cepatlah berbicara dengan orang ini jika ada sesuatu yang ingin Ayah bicarakan. ucap Claudia sambil berlalu meninggalkan Tuan Thomson dan nyonya Riana disana. Claudia masuk ke dalam kamarnya, ia menutup kamarnya rapat-rapat.


kali ini tangis Claudia di balik pintu pecah. iya tidak dapat membendung air matanya yang sudah membasahi kedua kelopak matanya.


"Ngapain kamu datang lagi ke sini, itu sama saja kau menguras luka lama lagi. Kenapa sesudah sekarang kau datang ke sini?! kau tidak ada saat aku masih sakit. Dan aku masih butuh perhatian darimu. Kau benar-benar wanita yang sangat tidak memiliki perasaan kepada ku." tangis Claudia di balik pintu sambil menekuk lututnya terduduk di sana.

__ADS_1


"Apa dia benar-benar tidak mengenaliku sebagai mamanya?"tanya Nyonya Riana kepada tuan Thomson.


"Mungkin saja dia tidak mengenalmu. karena kau meninggalkannya masih terlalu kecil. aku tidak bisa menyalahkan Claudia, tidak mengenalimu sebagai ibu kandungnya sendiri.


Nyonya Riana menangis sesungguhkan bersujud di kaki Tuan Thomson meminta maaf kepada Tuan Thomson berharap Tuhan Thomson mengijinkannya bertemu kembali kepada Claudia dan mengungkap jati dirinya. dia tidak mengetahui kalau Claudia sudah tahu segalanya.


"Sudahlah itu tidak perlu lagi kamu sesalkan. lebih baik kamu langsung pulang. Yang penting kamu sudah melihat kalau putriku baik-baik saja tanpa adanya kamu. Aku bisa menjaga putriku dan merawat putriku hingga dewasa seperti ini tanpa adanya kamu. walaupun hidup kami pas-pasan, tapi kami bahagia hidup di rumah sederhana ini. ucap Thomson mempersilahkan Nyonya Riana segera meninggalkan rumah sederhana miliknya.


Karena jika Nyonya Riana terlalu lama berada di sana luka lama itu semakin menggores hati Tuan Thomson."Maafkan aku Mas." kata-kata Maaf Kembali keluar dari mulut Nyonya Riana.


"Kau sudah aku maafkan, Tetapi entah kalau putriku memaafkanmu atau tidak. Aku tidak bisa memastikan itu jika dirinya mengetahui kalau kau itu adalah ibu kandungnya." ucap Thomson kepada Nyonya Riana.


Bersambung.....


hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏


JANGAN LUPA, LIKE COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓🙏🙏


sambil menunggu karya ini up kembali. mampir ke karya emak yang lain


__ADS_1


__ADS_2