MY CEO ALIEN

MY CEO ALIEN
BAB 1 Wanita Kelahiran Hari Jumat


__ADS_3

Tubuh yang atletis terbalut rapi dengan jas berwarna biru dongker, rambut berwarna kecoklatan tersisir rapi, sepatu pantofel menghiasi kaki jangkungnya. Ia berjalan masuk ke dalam gedung yang menjulang tinggi, sebuah perusahan teknologi, perusahan yang dikenal oleh seluruh dunia yakni perusahan yang bernama Tekno Intel.


"Tuan hari ini akan ada beberapa staf karyawan baru yang akan mulai bekerja, apa saya harus memperkenalkannya kepada anda?"


"Terserah, aku tidak peduli!"


"Tapi tuan--"


Renan Ribeiro menatap sinis Danilo asisten pribadinya, matanya berubah berwarna merah jika kemarahannya tersulut. Danilo menatap kepergian Renan dengan umpatan-umpatan yang ia lontarkan dalam hatinya. Jarum pendek sudah menunjuk angka delapan, mataharipun bersinar sangat terang, beberapa karyawan baru berbaris untuk menemui siapa pemilik perusahan Tekno Intel. gadis berambut sebahu dan berponi berlari dari arah luar dan masuk ke dalam gedung perusahaan Tekno Intel, karena ia hampir saja telat. Aruna Isvara gadis yang baru saja meraih gelar sarjana dan melamar di perusahaan Tekno Intel, nasib baik sedang berpihak padanya hingga ia langsung mendapat panggilan kerja dan akan mendapatkan kontrak kerja di perusahaan tersebut. Gadis berambut sebahu segera mengikuti barisan karyawan baru yang akan memasuki lift.


"Maaf-maaf," ucap Aruna seraya menunduk.


Semua wanita yang ada di dalam lift sekitar enam orang termasuk Aruna Isvara. Mereka menatap remeh akan kehadiran Aruna, jika dibandingkan dari mereka hanya Aruna yang berpenampilan biasa saja. Celana bahan longgar, baju kemeja berwarna kuning dan sepatu plat membalut tubuh Aruna.


"Halo aku Aruna, semoga kita bisa menjadi partner ke depannya."


Tak ada yang menjawab ucapan Aruna, mereka seperti menganggap Aruna tidak ada, kecuali gadis yang berdiri di samping Aruna, ia menyahut ucapan Aruna.


"Hai aku Zora, salam kenal."


Aruna dan Zora saling menjabat tangan, sebelum sampai di ruangan pemilik perusahaan tersebut, Aruna dan Zora saling bertukar nomor telepon dan juga saling bercerita.


"Orang bilang pemilik perusahaan ini masih single, kesempatan bagus buat


kita."


"Katanya ganteng juga, mirip song jungki."


"Ada yang bilang juga ganteng tapi nyeremin."


"Ssstttt, gosip aja kalian!"


Aruna hanya menjadi pendengar terbaik, ia tidak ikut mengomentari pemilik perusahaan Tekno Intel yang katanya ganteng tapi menakutkan. Fokusnya hanya kerja agar ia tidak lagi dipandang sebelah mata. Danilo membawa ke enam wanita tersebut masuk ke dalam ruangan meeting, mereka dibawa ke sana untuk menandatangi kontrak kerja dengan perusahaan Tekno Intel. Aruna duduk di kursi paling ujung alias paling terakhir. Ke enam wanita tersebut sama sekali belum melihat keberadaan tuan Renan Ribeiro CEO dari perusahaan Tekno Intel. Dari ke enam wanita tersebut hanya Aruna yang nampak tidak mempoles wajahnya dengan make-up, bahkan wajahnya terlihat polos tanpa make-up.

__ADS_1


"Tuan semua kandidat wanita sudah menunggu di ruang meeting."


Terlihat Renan menghembuskan napas kasar. "Aku ingin wanita yang berhati suci agar aku bisa kembali ke planet kita Danilo."


"Saya juga sedang berusaha tuan, kita sudah terlalu lama berada di bumi, saya juga ingin kembali ke planet kita. Sebaiknya tuan temui dulu wanita-wanita itu."


Renan menggebrak meja kerjanya hingga semua benda yang ada di atasnya hancur lebur, padahal Renan memukul meja tersebut seperti sedang memukul nyamuk, tetapi karena kekuatannya super tinggi hingga benda yang ada di atas meja terkoyak.


"Aku bosan dengan ucapanmu, yang tidak pernah becus mencari wanita yang aku butuhkan."


"Tapi, tuan saya sudah cek semua tanggal lahir dan hari lahirnya, wanita yang ada di ruang meeting sekarang adalah wanita dengan kelahiran hari Jumat."


Renan menatap lekat Danilo. "Benarkah itu?" Danilo mengangguk yakin.


Renan segera bergegas ke ruang meeting yang diikuti oleh Danilo. Pria berambut cokelat itu berjalan cepat seraya melonggarkan dasinya. Setiap tahun, setiap bulan, bahkan setiap Minggu, Danilo selalu membawa kandidat wanita untuk bekerja di perusahaan Tekno Intel dengan tujuan mencari wanita kelahiran hari jumat tetapi memiliki hati yang suci agar Renan dapat kembali pulang ke planet asalnya.


"Selamat pagi semuanya," sapa Renan ketika sudah memasuki ruang meeting.


itu berharap salah satu diantara mereka adalah wanita yang ia cari. Namun sayang tidak ada tanda-tanda dari salah satu dari wanita tersebut, membuat Renan yang ketika bersentuhan seperti tersengat aliran listrik. Penandatanganan kontrak akan segera usai tetapi Aruna belum juga kembali.


"Terima kasih, kalian boleh pulang, dan mulai bekerja besok," ucap Danilo.


Ketika ke lima wanita tersebut hendak keluar pintu, Aruna baru saja tiba dengan napas tersengal dan keringat yang mengucur didahinya hingga poni rambutnya menjadi lepek.


"Kau darimana? Kita sudah selesai tanda tangan kontrak," bisik Zora.


"Perutku sakit, makanya lama di toilet," ucap Aruna tak kalah berbisik.


"Semoga berhasil, aku duluan," Zora pergi meninggalkan Aruna.


 Aruna merapikan sedikit rambutnya yang basah karena keringat, tangan dan kakinya bergetar, ia takut pihak perusahaan akan membatalkan kontrak kerjanya karena kelalaiannya.


"Maaf Pak, saya telat," ucap Aruna seraya menunduk.

__ADS_1


Renan yang bersender di kursi dengan memejamkan matanya serta hembusan napas lelah, sangat terdengar oleh Aruna.


"Maaf Pak, apa kita bisa mulai sekarang tanda tangan kontraknya?" tanya Aruna.


Tak ada jawaban dari Renan, hingga Aruna memberanikan diri menatap Renan yang sedang memejamkan matanya.


"Pak, apa kita bisa mulai sekarang?" tanya Aruna lagi seraya mengibaskan tangannya di depan wajah Renan. Tiba-tiba saja Renan memegang tangan Aruna, hingga Aruna terjengkat kaget, sedikit memundurkan langkahnya.


Seketika mata yang tertutup itu terbuka lebar, karena Renan merasakan seperti tersengat listrik ketika memegang tangan tersebut. Dengan susah payah Aruna melepaskan tangannya dari Renan.


"Maaf Pak, bukan maksud saya mengganggu tidur bapak, tapi apa kita bisa mulai tanda tangan kontraknya sekarang?"


Renan menatap Aruna lekat, ia tidak percaya ketika ia memegang tangannya seperti ada sengatan listrik yang mengalir di dalam aliran darahnya. Apakah wanita ini yang selama ini ia cari? Apakah wanita ini memiliki hati yang suci? Bibir Renan sedikit tersungging ke atas, akhirnya ia menemukan wanita yang selama ini ia cari. Aruna merasa risi ketika Renan menatapnya tanpa berkedip, ia mulai berpikir yang tidak-tidak terhadap Renan.


"Dasar cowok mesum, dia pikir aku akan sama dengan wanita lain apa?" gerutu Aruna dalam hati.


"Ehm.. ehm.."


Deheman Aruna sedikit mengalihkan atensi Renan yang menatapnya tanpa berkedip.


"Duduk!" titah Renan.


"Mana yang harus saya tanda tangani Pak?"


"Aku mau, kau membantuku pulang ke planet asalku."


"Apa? Hah?"


***


Bersambung....


IG : siti_marriam14

__ADS_1


__ADS_2