MY CEO ALIEN

MY CEO ALIEN
BAB 24 Hancur Lebur


__ADS_3

Aruna mendorong tubuh Renan hingga Renan terduduk di lantai, menurut Aruna perlakuan Renan di luar batas normal, karena ia baru saja akan menjilat darah yang mengalir di kaki Aruna.


"Akhirnya kau kembali pada wujud aslimu," Aruna berdiri hendak meninggalkan Renan tapi Renan dengan cepat mencekal tangannya sangat keras dan menyudutkannya ke dinding.


"Aku tidak bisa menahannya lagi, ijinkan aku mencicipinya sedikit saja--"


Aruna semakin terpojok, ia tidak bisa melakukan apa pun. Renan berjongkok di hadapannya memandangi kaki yang penuh dengan darah.


"Hentikan tuan, anda bisa melukainya," teriak Danilo.


Seketika Renan menatap Danilo dengan sorot mata menyala merah, ia tidak suka Danilo menghentikannya.


"Sok, tauk! Aku tidak peduli."


Tanpa peduli ucapan Danilo, pria berambut cokelat yang sudah diselimuti ***** untuk segera mencicipi darah yang mengalir di kaki gadis berambut sebahu. Ia segera menjilat dan menggigit kaki Aruna tanpa peduli Aruna yang mengaduh kesakitan. Danilo hendak menarik Renan dari sana, tapi seketika tubuhnya terpental jauh cuma karena Renan menjentikkan jarinya.


"Tuan, hentikan anda akan membunuhnya, dia adalah satu-satunya orang yang bisa membuat kita pulang ke planet kita tuan."


Mendadak Renan menghentikan aksinya, ia berdiri menatap Aruna yang sudah menampilkan wajah piasnya. Aruna merasa tubuhnya melayang di udara, kakinya begitu lemas hingga akhirnya ia ambruk di hadapan Renan, Matahari yang berwarna keemasan tak mengurungkan niat kedua pria yang sedang didera kecemasan berlebih, berjalan di lorong rumah sakit menatap gadis yang sedang tertidur di atas brankar. Bekas gigitan Renan pada kaki Aruna tidak lagi bersimbah darah tapi berubah menjadi bengkak dan membiru,


"Silahkan anda tunggu di luar!"


Kedua pria dengan raut wajah cemas tidak bisa ikut masuk ke dalam ruang UGD, para suster melarangnya untuk masuk dan mereka tidak bisa melakukan apa pun, selain mengikuti aturan rumah sakit yang berlaku.


"Danilo apa yang harus aku lakukan? Kenapa aku menyakitinya?"


Sejak Renan menggigit dan menghisap darah Aruna, tiba-tiba Renan mengingat semua tentang Aruna. Rasa bersalah terus merasuk dalam dirinya. Wajahnya yang tampan berubah menjadi murung, apakah Aruna bisa sembuh seperti semula?


"Tenanglah tuan, dokter dan para perawat sedang berusaha meyelamatkan Aruna."


"Kenapa kita tidak memanggil dokter Fred?"

__ADS_1


"Aruna manusia normal tuan, dia harus mendapat perawatan medis sesuai dengan tubuhnya, kita bisa saja memanggil dokter Fred tapi kemungkinan besar dokter Fred tidak mempunyai banyak peralatan medis yang bisa menyembuhkan Aruna dan ujungnya pasti dokter Fred akan menyuruh kita membawanya ke rumah sakit."


Renan mengacak rambutnya prustasi. "Aku sudah memakan darah Aruna, apa itu artinya kita sudah bisa pulang ke planet kita?"


"Kita akan tanyakan nanti dengan dokter Fred tuan, karena kita harus melihat kondisi tubuh tuan setelah menghisap darah Aruna."


Beberapa menit setelah itu dokter dan para perawat keluar dari dalam ruang UGD, jelas Renan dan Danilo bergegas menghampirinya.


"Bagaimana keadaanya dokter?"


"Mohon ikut ke ruangan saya!"


Renan dan Danilo mengikuti langkah kaki seorang pria yang mengenakan jas putih. Mereka berharap dokter hendak memberitahu kabar yang baik bukan kabar yang buruk.


"Silahkan duduk tuan-tuan!"


Pria yang mengenakan jas putih itu memperlihatkan hasil rontgen pada Renan dan juga Danilo. Pertama sebelum dokter itu menjelaskannya terlihat hembusan napas kasar dari hidungnya.


"Lalu?"


"Saya masih belum bisa malakukan tindakan apa pun, karena saya tidak mau mengambil resiko, tapi tuan tenang saja, kami akan memasukkannya ke ruang ICU, agar kondisinya bisa terpantau."


"Lakukan apa pun, agar dia sembuh dokter!"


"Saya akan berusaha."


Mendapat kabar yang tidak enak di dengar Danilo segera pergi meninggalkan rumah sakit untuk menemui dokter Fred, sedangkan Renan tetap berada di sana. Ia masuk ke dalam ruangan yang khas dengan kabel medis yang menempel pada tubuh seseorang yang terbaring lemah di sana. Pria berambut cokelat itu mendekati Aruna dengan penampilan yang biasanya terlihat rapi kini terlihat lusuh. Ia ingin menggenggam tangan Aruna namun ia urungkan karena takut akan kembali melukainya. Renan menatap gadis yang telah merubah dunianya yang kini tengah terpejam entah kapan akan membuka matanya.


"Aruna apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa melihatmu seperti itu, diam tertidur tanpa sepatah kata pun, yang aku tau kau adalah gadis yang ceria, ayo buka matamu Aruna!"


Percuma Renan berbicara atau pun, berteriak karena Aruna tidak akan pernah mendengarnya. Ia menatap gadis yang ada di tempat tidur yang penuh dengan kabel medis dengan tatapan penuh rasa bersalahnya, bahkan ia enggan untuk meninggalkannya di sana. Meratapi kesalahan yang sebenarnya tidak ia sengaja lakukan, tapi membuatnya begitu merasa bersalah bahkan kata maaf atau pun, jeruji besi tak pantas untuknya. Hari kian sore Alfaro dan Gantari datang ke rumah sakit untuk melihat putrinya yang berada di dalam ruangan ICU.

__ADS_1


"Runa apa yang terjadi sayang? Kenapa kamu tiba-tiba ada di ruangan ini?"


Alfaro tidak kuasa melihat putri kandungnya yang tengah terbaring dengan wajah pias tidak sadarkan diri. Hening seketika hanya terdengar suara detak jantung Aruna pada mesin elektrokardiogram, Renan tidak bisa menjelaskan apa pun, bibirnya terasa kelu ia hanya bisa berdiri membatu di samping Aruna.


"Apa yang terjadi dengannya tuan Renan? Bukankah tadi dia bekerja di kantor?" tanya Gantari.


Diam menutup mulut yang bisa Renan lakukan, tidak peduli tatapan sinis yang Alfaro suguhkan ia tetap berada di sana. Seketika para suster menyuruh Renan dan kedua orang tua Aruna menyuruhnya untuk segera keluar karena waktu besuk pasien sudah habis. Alfaro dan Gantari mengikuti perintah perawat dan keluar dari dalam ruangan, kecuali Renan yang masih berdiri membatu di sana.


"Tuan silahkan anda keluar! Anda bisa berkunjung lagi besok pagi."


"Diam kau, jangan mengusirku dari sini, aku bisa saja membeli rumah sakit ini kalau aku mau!"


"T-tapi tuan, saya hanya menjalankan prosedur rumah sakit ini."


"Aku tidak peduli--"


Sorot mata yang bening sebening embun kini berubah menjadi merah, kemarahannya tersulut jika saja Danilo tidak segera masuk ke sana, mungkin perawat itu akan terluka karena Renan.


"Tuan, saya datang ke sini bersama dengan dokter Fred."


Dengan bujukan dokter Fred dan juga Danilo akhirnya perawat itu mengizinkan mereka tetap berada di dalam sana. Dengan syarat jika sudah selesai mereka harus segera keluar dari ruangan itu.


"Cepat sembuhkan dia dokter Fred."


Dokter Fred mengecek kondisi kaki Aruna yang membengkak dan membiru, seketika ia menggelengkan kepalanya tampak terlihat wajah bingung.


"Apa yang terjadi dokter Fred?" cecar Renan.


"Aku juga belum mendapatkan jawabannya tuan--"


Renan merasa dunianya kini hancur lebur seperti butiran pasir, dokter Fred yang notabennya seorang ahli saja tidak mengetahui bagaimana cara menyembuhkan Aruna.

__ADS_1


__ADS_2