MY CEO ALIEN

MY CEO ALIEN
BAB 15 Cinta Yang Nyata


__ADS_3

Derasnya hujan tak mengurungkan niat Aruna untuk lebih mendekat kepada kucing berwarna jelmaan Renan, sebenarnya ketika Renan menciumnya, ingatan Aruna tidak benar-benar sepenuhnya menghilang. Rasanya


seperti halusinasi dan seperti mimpi. Kilatan petir terlihat jelas menyambar di celah-celah ventilasi toilet, ketika Aruna hendak mengambil kucing berwarna hitam dalam pangkuannya.


"Aku akan membawamu pergi dari sini!" gumam Aruna.


Aruna membawa kucing hitam dalam gendongannya hendak membawanya meninggalkan pesta. Bukannya ketakutan melihat manusia seketika berubah menjadi binatang, ia malah dengan sengaja membawanya pergi dari sana. Pantas saja ia memiliki darah dan hati yang suci. Ketika Aruna melewati ballroom di sana ia kembali bertemu dengan Pedri dan sialnya Pedri menghampirinya dan menyapanya.


"Aruna kemana tuan Renan?" sapa Pedri.


"Oh, i-itu anu T-tuan Renan pamit pulang ada urusan mendadak katanya," bohong Aruna.


"Lalu kenapa kau membawa kucing? Kucing siapa itu?" tanya Pedri menyelidik.


"I-ini kucingku, aku akan membawanya pulang!" jawab Aruna gugup.


"Tunggu dulu Aruna, aku ingin mengajakmu berdansa sebentar," ajak Pedri.


Tiba-tiba saja kucing dalam gendongan Aruna bersuara, pertanda bahwa kucing tersebut tidak setuju. Kucing hitam itu terus mengeong agar Aruna cepat meninggalkan pesta. Bukannya meninggalkan pesta Aruna malah menyetujui ajakan Pedri.


"Tenanglah aku hanya sebentar, kalau aku langsung pulang dia akan curiga," bisik Aruna pada kucing hitam yang ada dalam gendongannya.


Aruna menaruh kucing hitam tersebut di sisi ruangan, agar tidak terinjak oleh orang lain. Ia mulai berdansa dengan Pedri, Aruna melingkarkan tangannya pada leher Pedri, dan Pedri memegang pinggang Aruna. Alunan musik instrumen romantis mengiringinya. Pedri begitu menikmati dansanya.


"Kenapa dulu aku menjadi orang paling bodoh, dengan tidak memilihmu!" katanya.


Aruna mengernyit bingung, ia tidak tau maksud perkataan Pedri. "Maksudmu apa?"


"Kenapa aku lebih memilih bunga anggrek dasi yang memiliki bau tidak sedap, kenapa bukan anggrek yang biasa saja, tetapi memiliki bau yang harum."


Saat Aruna hendak menimpali ucapan Pedri, tiba-tiba saja kucing hitam berada di dekat Aruna, hampir saja terinjak jika Aruna tidak menahannya. Lantas selanjutnya yang Aruna lakukan menghentikan dansanya dan kembali menggendong kucingnya.


"Dasar kucing sialan," gerutu Pedri.


"Tuan Pedri, maaf aku harus segera pulang," pamit Aruna.


"Kapan-kapan bolehkan, aku mampir di rumahmu?"


"B-boleh."

__ADS_1


Tidak mau terlalu lama di sana, Aruna mengiyakan ucapan Pedri. Lalu ia bergegas pergi ke luar pesta. Tanpa disadari sepasang mata telah menatap sinis kearahnya, Gloria tidak terima mantan kekasihnya yang kini menjadi salah satu CEO perusahan terbesar di negaranya sedang mendekati Aruna.


"Kalau aku tau, dia bakalan jadi CEO perusahan besar, waktu itu aku nggak akan putusin dia, sial!" gerutu Gloria dalam hati.


Aruna melangkahkan kakinya dengan cepat, agar segera sampai di parkiran, kakinya belum sempat sampai menginjakkan area parkiran tiba-tiba saja seseorang menarik lengannya dengan sangat kasar.


"Aaawwwhh.. sakit," erang Aruna.


"Eh, gue nggak suka ya, lo kecentilan sama mantan pacar gue!"


"Kau salah paham Glori, dia yang duluan ngajak dansa."


"Ya.. pokoknya gue nggak suka lo deket-deket sama dia, ataupun sama tuan Renan, salah satu dari mereka bakal jadi calon suami gue, ngerti lo!"


Setelah puas memaki Aruna, Gloria melenggang pergi begitu saja, masuk kembali ke dalam pesta. Aruna menatap nanar kepergian Gloria, dari dulu Aruna sudah sering mengalah tapi untuk kali ini entah mengapa hatinya tidak mau mengalah ketika Gloria menyebutkan nama Renan.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus telepon tuan Danilo?"


Sambil berpikir Aruna membawa Renan ke parkiran, mencari mobil sedan berwarna hitam, ia ingin masuk tetapi kunci mobilnya tidak ada, yang ia lakukan kini hanya berdiri di dekat pintu mobil. Saat Aruna tengah berpikir bagaimana caranya membuka pintu mobil, tiba-tiba saja kucing hitam dalam gendongannya mengeong, seolah memberitahukan sesuatu dan turun dari gendongan Aruna, ia menunjuk kunci mobil yang tergeletak di dekat ban mobil.


"Kucing pintar," ujar Aruna seraya mengusap kucing hitam itu, dan kucing itu seolah sangat menikmati sentuhan yang Aruna berikan.


Perlahan Aruna membuka pintu mobilnya yang terkunci, setelah terbuka ia membawa masuk kucing hitam itu ke dalam mobil, masih dalam gendongan Aruna, kucing itu sangat menikmati ketika Aruna mengusap-ngusap kepalanya.


Jika Aruna bisa mengendarai mobilnya, mungkin ia akan melakukannya, namun sayangnya ia tidak bisa mengendarainya, yang ia lakukan hanya berdiam diri duduk di dalam mobil. Hujan yang deras disertai petir, kini


telah reda, membuat Aruna mendudukkan kucing hitam itu di kursi sebelah, Aruna menutup rapat pintu mobilnya, dan untungnya kaca jendelanya berwarna hitam, jadi tidak akan ada yang menyadari jika di dalam mobil ada mereka. Dalam hitungan detik, ketika hujan baru saja reda, kucing hitam itu berubah menjadi manusia tinggi, tampan, berambut cokelat, Aruna menyaksikannya sendiri tanpa berkedip.


"R-renan j-jadi k-kau s-sebenarnya?"


"Iya, aku bukan manusia biasa, aku manusia dari planet lain," akunya kepada Aruna.


"Sulit untuk aku mempercayainya, tetapi aku menyaksikannya sendiri."


"Kau tenang saja, aku tidak akan menyakitimu."


"Lalu kalimat cinta yang kau ucapkan itu artinya apa Renan? Kita itu berbeda."


"Cintaku padamu itu nyata Aruna, tidak peduli seberapa jauh perbedaan membentang diantara kita, aku akan berusaha untuk tetap menyimpan rasa ini. Sampai kau benar-benar juga merasakan rasa yang sama."

__ADS_1


Aruna menggeleng cepat. "Ini salah Renan. Kau mencintai orang yang bukan sebangsamu."


"Aku tau, diam-diam kau menyelidikiku 'kan? Sudah tiga kali kau menyelamatkan aku untuk tidak memakan makanan manusia, lalu kenapa sekarang kau seperti orang yang terkejut?"


"Aku hanya sedang berusaha menyangkalnya, tapi ternyata semuanya kenyataan!"


Aruna berpikir jika cinta Renan untuknya percuma, karena mereka dari dua alam yang berbeda, sebelum terlanjur mencintainya terlalu dalam, lebih baik Aruna mengakhirinya sekarang juga. Aruna memutuskan untuk segera turun dari dalam mobil, tapi secepat kilat Renan mengunci mobilnya dan tidak membiarkan Aruna turun dari sana. Sebelum Aruna bertindak nekad, Renan segera melajukan mobilnya membawa Aruna pergi dari sana.


"Renan stop, aku tidak mau ikut denganmu kau bukan manusia!"


Renan tidak menggubris perkataan Aruna, ia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan yang becek dan sepi akibat hujan deras tadi.


"Renan aku bilang stop, atau aku akan teriak!"


"Teriak saja, tidak akan ada yang dengar Aruna!"


"Renan kalau kau tidak menghentikan mobilnya, aku akan lompat dari sini--"


Seketika Renan melihat ke arah Aruna, dengan sorot mata merah, menandakan kemarahannya tengah tersulut. Bukan marah karena Aruna meminta turun, tapi lebih kepada Renan khawatir akan keselamatannya. Aruna


membeku ketika ia melihat sorot mata merah Renan, untuk pertama kalinya ia melihat sorot mata kemarahannya.


"Apa kau masih mau turun?"


Aruna menggeleng. "T-tidak, tapi aku harus secepatnya pulang."


Renan memelankan laju mobilnya, ia kembali fokus pada stir mobilnya, pandangannya kembali ke arah jalanan yang sepi. Dalam hati Aruna sedang berpikir bagaimana caranya ia bisa lari dari Renan, tanpa harus membuat


Renan marah. Ia mulai berpikir ketika nanti mobil berhenti ia akan langsung berlari meninggalkan Renan, Aruna mengangguk pelan atas ide yang muncul di kepalanya, namun sayangnya, Renan dapat mendengar isi hati Aruna.


Kedua hati yang berbeda alam itu kini telah saling menyatu satu sama lain, hingga dapat mendengar isi hati satu dan isi hati yang lainnya. Renan sengaja berhenti di tempat yang sepi, dan di saat itu Aruna membuka kunci mobilnya hendak turun dari mobil dan akan berlari sekencang-kencangnya. Namun sangat disayangkan idenya hanya menjadi sebuah mimpi.


"Kau tidak bisa pergi dariku Aruna," ujar Renan seraya mencekal pergelangan tangan Aruna.


"Lepaskan Renan, aku tidak mau!"


Aruna terus berontak, agar Renan melepaskan tangannya, tidak ada seperti tersengat aliran listrik karena Aruna memakai sarung tangan, dengan sangat terpaksa Renan mencium bibir ranum Aruna agar Aruna tidak melarikan


diri.

__ADS_1


Cup


Seketika Aruna terkulai lemas, tidak berdaya, matanya mengerjap pelan dengan sisa-sisa kesadarannya, Aruna pingsan setelah Renan mencium bibirnya.


__ADS_2