
Aruna menatap laptopnya dengan serius, ia tidak menyadari jika teman-teman kantornya sudah pergi setengah jam yang lalu. Sejak duduk di bangku sekolah Aruna memang gadis yang rajin tak jarang teman-temannya, memanfaatkannya untuk mengerjakan tugas kelompok.
"Akhirnya selesai juga," ucap Aruna seraya bersender pada kursi putarnya. Ia melihat ke sekelilingnya yang ternyata sudah sepi.
Aruna melihat jam tangan yang melingkar di tangannya, bukan jam tangan mahal, tapi jam tangan jadul hadiah ulang tahun dari Ayahnya ketika Aruna menginjak usia tujuh belas tahun. Mempunyai Kakak tiri mengharuskannya selalu berbagi apapun dengannya. Aruna bergegas pergi dan segera turun ke lantai dasar, saat ia hendak memasuki lift ia merasa seseorang mengikutinya, Aruna sudah bersiap-siap mengambil gerakan kuda-kuda, ia takut jika tiba-tiba saja seseorang itu menyerangnya.
"Heh jangan anggap aku cewek lemah ya, awas saja kalau kau macam-macam," erang Aruna seraya memukulkan tasnya pada seseorang tersebut.
"Hey, hentikan, aku bosmu!"
Seketika Aruna menghentikan aksinya, ia menatap Renan dari ujung hingga ujung.
"Kenapa tuan belum pulang? Pasti tuan nguntit saya lagi 'kan?"
"Jangan kepedean, saya baru selesai lembur. Dan ini kantor saya ingat itu!"
"Oh.. saya pikir tuan sengaja supaya bisa ketemu saya di sini."
Tiba-tiba saja lift berhenti seketika, membuat Aruna sedikit oleng ke arah Renan. Dan itu sudah dipastikan perbuatan Danilo dengan sengaja membuat lift berhenti agar Renan bisa mendekati Aruna.
"Tuan apa yang harus kita lakukan? Liftnya mati."
"Kau tenang saja, sebentar lagi akan ada tukang yang memperbaikinya."
Lama menunggu lift terbuka Aruna memutuskan duduk bersila di dalam lift yang diikuti oleh Renan yang duduk di sebelahnya.
"Sudah malam, pasti angkutan umum jarang yang lewat, bagaimana aku pulang," gumam Aruna.
Sebenarnya Renan mendengar ucapan Aruna, tapi ia ingat ucapan Danilo jangan terlalu terang-terangan memberikan perhatian lebih kepada wanita jika saat sedang mendekatinya.
"T-tuan berapa lama lagi kita di sini?"
"Tunggulah sebentar lagi selesai."
Tepat pukul sepuluh lift baru saja terbuka, Renan sengaja menyuruh Danilo membuka liftnya tepat pukul sepuluh disaat jalanan sudah hampir sepi. Aruna berdiri di depan kantor berharap akan ada angkutan umum yang lewat, namun sayang harapannya sia-sia, tidak ada satupun angkutan umum yang lewat. Hingga mobil sedan hitam melintas di depannya Aruna memberanikan diri menghentikan laju mobil itu.
"Sudah saya duga, ide saya bagus kan, tuan?" ucap Danilo seraya turun dari mobil menghampiri Aruna, sedangkan di dalam mobil Renan tengah tersenyum senang.
"Pak apa saya boleh menumpang?" tanya Aruna.
"Saya bukan pemilik mobil ini, silahkan tanyakan pada tuan Renan."
Aruna berjalan mengitari mobil untuk berbicara dengan Renan, meski ragu ia tetap mengetuk jendela mobil hingga menampakkan sosok pria berambut coklat yang ada di dalam.
__ADS_1
"Tuan apa saya boleh menumpang? Ini sudah malam sangat jarang angkutan umum yang lewat."
Tanpa sepengetahuan Aruna sudut bibir Renan tertarik ke atas, tidak membuang-buang waktu Renan mengangguk dan menyuruh Aruna masuk ke dalam mobilnya. Kali ini Aruna dan Renan duduk di kursi penumpang sedangkan Danilo yang mengemudikan mobil tersebut.
"Apa yang akan kau lakukan jika saya dan Danilo bukanlah manusia."
"Hahaha.. Tuan ini bicara apa sih? Jadi tuan ini hantu atau dedemit? Lucu sekali tuan
ini."
"Saya hanya bertanya, bagaimana jika saat ini saya dan Danilo bukan manusia, apa yang akan kamu lakukan?"
Keheningan sempat menyelimuti mereka bertiga, hanya deru mesin mobil melaju yang terdengar. Aruna menganggap pertanyaan Renan hanya guyonan belaka dan ia begitu saja melupakannya, Aruna memberanikan diri untuk bertanya kepada Renan, perihal Gantari yang ingin memasukkan Gloria di perusahaan tempatnya bekerja.
"T-tuan apa masih ada lowongan kerja di kantor?" tanya Aruna.
"Untuk sekarang tidak ada, tapi mungkin bulan depan ada," jawab Renan.
Aruna mengangguk paham, setidaknya ia tidak akan menjadi olok-olokan Gantari dan Gloria, karena bulan depan Gloria bisa melamar ke perusahaan. Sesampainya di depan rumah minimalis lampu rumah terlihat padam, sepertinya semua penghuni rumah sedang tidak ada, karena sibuk dengan pekerjaannya ia sampai lupa melihat
ponselnya, yang ternyata ada beberapa panggilan dari Alfaro dan juga Gantari, Aruna kembali menghubungi Ayahnya, tak berapa lama panggilan pun terjawab.
"Halo Ayah dimana? Runa baru pulang kerja kok lampu rumah mati?"
"Kecelakaan? Runa ke sana sekarang Yah, kirim alamat rumah sakitnya."
Meskipun tidak sedarah tapi Aruna sudah menganggap Gloria sama seperti saudara kandungnya, tapi entah dengan Glori sepertinya tidak demikian.
"Tuan bisa antarkan saya ke rumah sakit?"
"Baiklah."
"Maaf tuan saya merepotkan Anda."
Renan hanya membalas dengan senyuman, senyuman yang sangat manis ketika Aruna melihatnya.
"Danilo putar balik ke arah rumah sakit," titah Renan.
Sesampainya di area rumah sakit baru saja Aruna hendak berpamitan kepada Renan, tapi suara Renan terlebih dulu menginterupsinya.
"Apa kau tidak mau mengajak saya masuk juga?"
Aruna sebenarnya tidak ingin mengajak Renan masuk untuk melihat Gloria, tapi karena ia tidak enak hati, akhirnya ia mengajak Renan masuk untuk melihat keadaan Gloria.
__ADS_1
"Yah, kenalin ini tuan Renan pemilik perusahaan Tekno Intel."
"Renan."
"Alfaro."
Renan dan Alfaro saling menjabat tangan, dalam sekejap Aruna bisa menilai jika Renan mudah bergaul dengan siapapun termasuk dengan Ayahnya. Pantas saja perusahaannya terkenal ke seluruh dunia ia pandai mengambil hati lawan bicaranya.
"Glori bangun, lihat ada bosnya si Runa, kesempatan kamu nih buat kenalan," bisik Gantari.
"Aduuh Bu, kaki Glori lagi sakit kenapa Ibu bangunin sih," Gloria baru saja melayangkan protesnya kepada Gantari, tapi tiba-tiba saja ia seperti melihat seorang pangeran berkuda datang untuk menjenguknya.
"T-tuan perkenalkan ini Gloria kakaknya Aruna," ucap Gantari.
Renan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum yang otomatis membuat Gloria seakan terhipnotis akan senyumannya, Gloria menatap Renan tanpa berkedip dengan mulut menganga.
"Tutup mulut kamu, tar nyamuk masuk," sindir Gantari.
"Ibu kenapa nggak bangunin aku dari tadi, ada manusia seganteng ini aku rela deh nggak merem."
Spontan Gantari menoyor kepala Gloria. "Dikasih yang bening baru melek tuh, dari tadi disuruh minum obat merem terus."
"Runa ajak tuan Renan makan di kantin, pasti kalian baru pulang dari kantor belum makan." titah Alfaro.
Aruna tidak bisa membantah apapun yang keluar dari mulut Alfaro ia akan menurutinya, ia mengajak Renan makan di kantin rumah sakit, sebelumnya mereka makan ditemani dengan Alfaro, tapi karena Alfaro sangat lelah seharian menjaga toko dan setelah pulang ia harus menjaga Gloria di rumah sakit, ia memutuskan kembali ke kamar rawat Gloria untuk tidur di sana.
"Tuan ayo makan yang banyak, maaf saya sudah merepotkan tuan."
"Saya tidak bisa makan makanan ini!"
"Lho, kenapa? Ini bersih kok tuan."
"Maksud saya bukan itu--"
"Ayo buka mulutnya tuan, aaaaa..."
Aruna memaksa Renan untuk memakan makanannya sampai ia yang menyuapinya, dengan terpaksa Renan menghabiskan makanan yang Aruna berikan. Hingga beberapa menit setelah ia memakan makanan dari Aruna, perutnya terasa sakit dan wajahnya berubah menjadi pucat.
"T-tuan anda kenapa? Apa anda sakit?"
Renan merasakan perutnya seperti sedang ditusuk-tusuk oleh sebuah pisau, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, perutnya seakan bergejolak seperti air mendidih, pandangannya mulai buram. "S-saya--"
Renan pingsan.
__ADS_1