
Langit ibukota tiba-tiba saja berubah menjadi gelap, panas yang begitu terik kini diselimuti awan hitam menggumpal. Aruna yang berada di lantai tujuh dapat merasakan perubahan cuaca yang terjadi di luar. Aruna menandatangani berkas-berkas yang disodorkan oleh Danilo. Ketika Renan meminta bantuan Aruna untuk memulangkannya ke planet asalnya, hampir saja Aruna tertawa jika pada saat yang bersamaan Danilo tidak segera masuk ke dalam ruangan.
"Apa saya boleh pulang sekarang?" tanya Aruna.
"Silahkan nona!"
"Tunggu dulu!"
Ucap Renan dan Danilo secara bersama-sama hingga Aruna sedikit bingung sampai ia memijit pangkal hidungnya.
"Ini sebenarnya saya boleh pulang atau tidak?"
"Siapa namamu?"
"Aruna Isvara tuan, apa ada lagi yang mau anda tanyakan?"
"Tidak!"
"Baiklah saya permisi tuan."
"Tunggu dulu!"
Aruna menarik napas dalam. "Haduuuh.. nih manusia satu mau apa lagi sih?" umpat Aruna dalam hati.
"Aku yang akan antar kau pulang!"
"Apa? Hah?"
Dengan sangat terpaksa Aruna menyetujui ketika Renan memaksa ingin mengantarkannya pulang. Sepanjang perjalanan hanya terdengar musik instrumen dari radio yang Renan nyalakan semenjak mereka keluar dari gedung Tekno Intel. Diam-diam Aruna memperhatikan Renan dari ekor matanya. Dalam hati ia bertanya-tanya kenapa bos
barunya ini ingin mengantarkannya pulang.
"Aku tau apa yang kau pikirkan."
"S-saya tidak sedang memikirkan apapun kok tuan."
Ketika Renan akan mengoperkan gigi mobilnya, tanpa sengaja ia menyentuh tangan Aruna, hingga ia merasa tersengat aliran listrik kembali ketika bersentuhan dengan Aruna. Tanpa Renan sadari jika sentuhan itu membuat dirinya menjadi lebih kuat, tapi Renan sama sekali belum menyadarinya. Ia hanya merasa tubuhnya terasa
lebih ringan.
"Tuan jangan macam-macam, jangan mentang-mentang anda adalah bos saya, anda bisa berbuat seenaknya!" Aruna turun dari mobil dengan wajah memberenggut kesal.
Bruk
Aruna menutup pintu mobilnya dengan sangat kencang, hingga membuat penghuni yang ada di dalam rumahnya berhambur keluar.
__ADS_1
"Pulang sama siapa Runa?" tanya Gantari ibunya Aruna.
"Sama bos Runa, Bu."
Aruna yang masih kesal atas kelakuan Renan, tanpa memandang Renan pemilik perusahaan sekaligus bosnya di kantor, ia melenggang pergi begitu saja. Gantari tidak habis pikir kenapa Aruna bersikap tidak sopan terhadap bosnya.
"Maafkan Aruna tuan," ucap Gantari seraya menunduk malu.
"Tidak apa, saya permisi nyonya!"
Melihat mobil Renan sudah pergi meninggalkan pekarangan rumahnya, Gantari bergegas menyusul Aruna.
"Runa, kenapa kau tidak sopan sama bosmu sendiri?" cecar Gantari.
"Dia nggak sopan, pegang-pegang tangan Runa, Bu!"
"Tapi, kan dia itu seorang bos, Runa."
"Sekalipun dia bos Runa, Runa nggak peduli, Bu!"
"Runa mungkin bosmu itu naksir kali, bagus dong kalau gitu."
"Cukup Bu, mendingan Ibu keluar dari kamar Runa, Runa mau istirahat."
"Runa, ih dibilangin suka ngelawan ya!"
Malam menjelang ketika Aruna sedang mempersiapkan makan malam, Ayahnya baru saja pulang dari toko, keluarga Aruna bukanlah dari keluarga ningrat, hanya saja Ayahnya mempunyai sebuah toko mebel yang cukup besar, hingga mampu menyekolahkan kedua putrinya menjadi sarjana.
"Runa tolong, buatkan Ayah kopi," titah Alfaro.
Tak lama setelah Alfaro meminta kopi, beberapa menit kemudian Aruna datang dengan membawa kopi hitam yang masih mengepul. Setiap hari selalu seperti itu, ketika Ayahnya pulang Gantari sama sekali tidak menyambut kepulangan suaminya, ia sibuk menonton sinetron kesukaannya dan herannya Alfaro tidak pernah mempermasalahkan itu. Makan malam sudah tertata rapi di meja makan, baru saja Aruna hendak menyuapkan nasi ke dalam mulutnya tapi suara Gantari menahannya.
"Panggil Kakakmu di kamar, dia belum makan!"
Tanpa banyak kata dan tanpa protes sedikitpun, Aruna pergi memanggil Gloria Kakak tirinya.
"Glori disuruh makan sama Ibu!" ucap Aruna seraya membuka pintu kamar Gloria. Dan ternyata Gloria sedang asik rebahan dengan telepon menempel ditelinganya sambil tertawa riang.
"Glori disuruh makan sama Ibu!" panggil Aruna lagi.
"Berisik banget sih, lo!" umpat Gloria seraya melemparkan bantal kepada Aruna.
Aruna mengusap dadanya, entah kesalahan apa yang dilakukannya, hingga Gloria sangat membenci dirinya. Padahal Alfaro selalu memperlakukannya sama seperti dirinya, malah sepertinya Arunalah yang di nomor duakan oleh Alfaro.
"Mana Glorinya Runa?" tanya Gantari.
__ADS_1
"Lagi sibuk teleponan Bu," jawab Aruna.
"Ayah tau nggak, masa tadi Runa pulang dari kantor dianterin sama bosnya."
Seketika Aruna yang sedang makan ia terbatuk-batuk hingga matanya berair. Alfaro menatap lekat Aruna, meminta penjelasan akan aduan yang dilayangkan oleh Gantari.
"Oh, tadi kita kebetulan satu arah Yah, makanya Runa numpang sama bos Runa."
"Udah gitu turunnya nggak sopan lagi Yah, masa bosnya langsung ditinggal gitu aja."
Aruna menghembuskan napas kasar, Gantari memang paling pandai jika berakting.
"Bukan seperti itu Yah--"
"Runa, Ayah tidak pernah mengajarkanmu untuk bertindak tidak sopan kepada semua orang, apa lagi dia seorang bos!"
Gantari sedikit menyunggingkan bibir ya ke atas, melihat Aruna yang sedang diceramahi oleh Alfaro ia merasa seperti sedang menonton stand up komedi. Mendengar Alfaro yang sedang menasehati Aruna, Gloria lekas menuju meja makan, Ibu dan anak itu sepertinya sama-sama menyukai ketika Aruna mendapat nasehat dari Ayahnya.
"Apa? Jadi tadi Runa dianterin bosnya pulang ke rumah Bu?" tanya Gloria, yang langsung diangguki oleh Gantari. "Wah ini mah udah nggak bener nih Yah, mana ada bos yang mau nganterin karyawannya pulang, apa lagi karyawan baru, pasti Runa jadi wanita penggoda Yah, di kantornya," sambung Gloria.
"Glori kalau ngomong jangan sembarangan," tunjuk Aruna pada Gloria.
"Sudah-sudah, kalau sampai Ayah dengar lagi kamu diantar sama bos kamu, jangan harap kamu bisa kerja Runa."
Aruna menunduk takut, jika Ayahnya sudah berkata demikian maka Aruna tidak bisa membantah. Baginya ucapan Alfaro adalah ucapan yang harus ia turuti semenjak Ibu kandungnya meninggal dunia. Kini di meja makan hanya tersisa Aruna yang sedang membersihkan makanan dan membawa piring yang kotor ke wastafel.
"Yang bener Bu? Bosnya Runa ganteng dan masih muda?" tanya Gloria antusias.
"Iya sayang, kamu sih tadi nggak ada di rumah."
"Aku pikir bosnya, gendut, botak gitu Bu."
"Pokoknya kamu juga harus melamar di perusahaan itu!"
"Tapi, Glori nggak suka kerja di kantor Bu, Glori sukanya jadi model, dan bulan ini masih ada beberapa kontrak kerja dengan beberapa iklan Bu."
"Kamu mau kan, punya suami kaya dan ganteng."
"Maulah Bu."
Gantari dan Gloria bergegas menghampiri Aruna yang sedang mencuci piring di dapur.
"Heh, Runa, pokoknya kamu juga harus masukin Glori kerja di kantor tempat kamu kerja sekarang!"
Aruna yang sedang memegang piring seketika ia menyimpan piringnya sejenak lalu menghadap Gantari.
__ADS_1
"Bu, Runa nggak punya kewenangan untuk memasukan orang kerja di sana."
"Ya.. pokoknya Ibu nggak mau tau, kalau sampai kamu nggak turutin kemauan Ibu, kamu lihat apa yang akan Ibu lakukan sama Ayah kamu."