MY CEO ALIEN

MY CEO ALIEN
BAB 21 Menangis Tidaklah Lemah


__ADS_3

Sejak kecil Aruna berbeda dengan anak-anak lain seusianya, yang selalu meminta dibelikan mainan baru, Aruna si


gadis kecil yang sangat perasa tidak ingin membuat kedua orang tuanya susah.


"Aruna mau hadiah apa dari Mama kalau nanti nanti Aruna jadi juara kelas."


Aruna akan selalu bilang. "Runa nggak mau apa-apa Ma, uangnya ditabung aja buat Mama."


Aruna akan selalu meminta Mamanya untuk menceritakan dongeng Cinderella jika menjelang waktu tidur. Terus


berulang meskipun ia sudah tau akhir ceritanya seperti apa.


"Aruna mau jadi Cinderella seperti di dongeng Ma, tapi Runa nggak mau punya Ibu tiri seperti Ibu tirinya Cinderella, Runa pengin punya pangeran seperti pangerannya Cinderella."


Mamanya terkekeh mendengar celotehan Aruna kecil yang memimpikan mempunyai seorang pangeran seraya mengusap-ngusap Surainya, hingga Aruna terlelap dalam tidurnya. Yang Aruna impikan untuk mempunyai seorang pangeran ternyata tidaklah menjadi kenyataan malah yang mejadi kenyataan ia mempunyai seorang Ibu tiri yang tidak jauh berbeda dengan Ibu tirinya dongeng Cinderella.


"Aruna cepat bangun! Mau sampai kapan kamu tidur, cepet buatkan sarapan!" titah Gantari seraya menarik selimut yang membungkus tubuhnya.


"I-iya Bu sebentar Runa mandi dulu, Runa bangunnya kesiangan."


"Makanya pulang kerja tuh, langsung pulang ke rumah, jangan kelayapan mulu!"


Gantari menggerutu hingga membuat telinga Aruna terasa panas. Ia segera pergi ke kamar mandi meninggalkan Gantari yang menggerutu kesal.


"Anak itu--"


Di dalam kamar mandi Aruna menghela napas panjang. Sudah dapat omelan dan harus mengerjakan pekerjaan rumah pula. Meski hati kesal Aruna tetap melakukan pekerjaan yang Gantari berikan kepadanya.


"Runa, cepetan dong bawa piringnya lama banget sih," teriak Gloria.


Aruna sedikit berlari dengan membawa piring, karena Gloria terus memanggilnya, tanpa sengaja kakinya tersandung hingga piring yang ia bawa terjatuh.


Prang


"Lo itu bisa bawa piring nggak sih? Pake jatuh segala, cepetan bawa yang baru, gue laper."


Aruna kembali mengambil piring untuk Gloria, dan setelah itu ia memungut pecahan beling yang berserakan di lantai, saat hendak mengambil pecahan beling ia menatap tangannya yang terbungkus kain kasa, Aruna teringat kejadian pagi itu dimana Renan mengusir paksa dari rumahnya, setetes cairan bening menetes tanpa bisa dihentikan. Kenapa nasibnya tak seindah dongeng Cinderella yang bertemu dengan seorang pangeran membawanya pergi dari rumah yang penuh dengan siksa.


"Aruna kalau itu udah beres jangan lupa, dibersihkan meja makannya sama langsung di cuci piringnya, kalau nggak langsung dicuci kecoa banyak yang masuk ke rumah," titah Gantari.

__ADS_1


"Iya Bu, nanti Runa bersihin sama langsung cuci, Runa sekarang mau makan dulu."


"Ya udah buruan makannya jangan lama-lama, siapin bekal juga buat Ayah kamu, mau Ibu bawa ke toko soalnya."


Pagi-pagi sekali Alfaro pergi ke toko, hingga ia tidak sempat sarapan di rumah. Ibu tiri Aruna bak seperti seorang Ibu tiri di dalam dongeng Cinderella, ia akan bersikap baik ketika Ayahnya ada di rumah, namun ketika tidak ada Ayahnya ia akan mendiskriminasi Aruna.


"Glori bisakah kamu menungguku sebentar, aku harus mencuci piring dulu."


"Lama, ya udah buruan! Gue tunggu di mobil."


Aruna melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ia sudah hampir telat. Aruna pergi keluar dengan sedikit berlari karena suara klakson mobil Gloria terus berbunyi menyuruhnya untuk segera keluar, namun sayang ketika sampai di luar mobil Gloria baru saja pergi meninggalkan pekarangan rumah.


"Glori tunggu--" teriakan Aruna tidak berarti apa-apa, Gloria terus melajukan mobilnya tanpa melihat ke belakang.


"Ya ampun, aku pasti telat."


Aruna berjalan ke depan jalan raya, untuk mencari angkutan umum, namun sangat disayangkan tak ada satupun angkutan umum yang lewat. Lama berjalan sekitar lima belas menit menunggu angkutan umum, akhirnya ia menemukan angkutan dan segera pergi ke kantor. Aruna benar-benar telat sampai di kantor pukul delapan lebih.


"Maaf Pak saya telat," ucap Aruna seraya menunduk.


Renan menatap sinis gadis berambut sebahu yang ada di hadapannya yang tengah menunduk takut.


"Saya mau kerja Pak."


"Kerjakan semua berkas-berkas itu!" titah Renan seraya melemparkan beberapa map pada Aruna.


"Baik Pak."


Renan menggelengkan kepalanya seraya menatap punggung kecil Aruna yang sedang berjalan menuju meja kerjanya.


"Danilo kenapa aku bisa menjadikan dia sekertarisku? Kerjanya tidak becus."


Danilo mendekat pada Renan sedikit membungkuk dan membisikan sesuatu di telinga Renan. "Karena memiliki darah suci tuan."


"Aku tidak percaya, gadis seperti dia memiliki darah suci?"


Meskipun Danilo sudah memberitahu Renan, jika Aruna memiliki darah suci dan Aruna adalah gadis yang sedang


dicintainya tapi Renan tetap tidak percaya, karena ia tidak mengingat Aruna sama sekali.

__ADS_1


"Kalau aku mencintainya, tidak mungkin aku bisa lupa padanya Danilo."


Berulang kali Danilo menjelaskan jika Aruna telah menyelamatkan nyawanya, tetap saja Renan tidak mau mengakui jika Aruna adalah pemilik darah suci yang telah menyelamatkannya.


"Bagaimana aku harus membuktikan jika dia pemilik darah suci?"


"Ketika tuan bersentuhan dengannya, maka tuan akan merasa seperti tersengat aliran listrik."


Ingatan Renan benar-benar seperti gelas yang kosong, ia tidak tau apa-apa tentang darah suci. Yang ia ingat hanya ketika datang pertama kali ke bumi untuk menenangkan diri karena merasa patah hati oleh Vela. Sepanjang Aruna mengerjakan berkas-berkas yang diberikannya, ia menatap Aruna dengan tatapan yang susah diartikan, batinnya mengatakan, kenapa ia bisa jatuh cinta kepada wanita biasa seperti Aruna. Jika dibandingkan dengan Vela antara angka tujuh dan angka sembilan.


"Aruna, bawa semua berkasnya ke sini, sudah sampai mana kau mengerjakannya?"


"B-baik Pak!"


Aruna memberikan beberapa map kepada Renan, map yang berisi berkas yang sudah dikerjakannya. Seketika wajah Renan berubah menjadi merah padam ia kembali melepar map pada Aruna.


"Dasar tidak becus, bukan seperti itu mengerjakannya, ulangi lagi!"


Bentakan demi bentakan Aruna dapatkan, tidak di rumah tidak pula di kantor, ia selalu mendapat caci maki,


membuat cairan bening di kelopak matanya menggenang, dan pada akhirnya cairan bening yang telah memupuk di kelopak matanya tidak bisa ia tahan, ia menangis tersedu di hadapan Renan.


"Hey, aku tidak memintamu menangis di hadapanku, aku memintamu untuk mengerjakan berkas itu dengan


benar."


Aruna masih menangis dengan sesegukan, ia tidak bisa menjawab ucapan Renan, bibirnya terasa sulit untuk


digerakkan.


"Aruna berhenti menangis, kenapa perempuan selalu menunjukkan sisi kelemahannya!"


Seketika Aruna menatap bengis Renan yang ada di hadapannya, dengan air mata yang terus mengalir ia berusaha


berbicara.


"M-menangis itu bukan berarti lemah, A-ada juga tangis kebahagian--" sanggah Aruna dengan sesegukan.


Tanpa menunggu perintah Renan, Aruna melenggang pergi dari hadapannya, dengan membawa kembali berkas yang tadi dilemparkan oleh Renan.

__ADS_1


"Huft, kenapa aku bisa menjadikannya sekertarisku," gumam Renan.


__ADS_2