
"Ini bukan proposalnya Aruna. Cepat keluarkan proposalnya."
Aruna membuka semua isi di dalam tasnya, tapi map yang berisi proposal itu sama sekali tidak ada.
"Pak Renan mohon maaf waktu anda habis, masih banyak kandidat lain yang akan menunjukkan proposalnya."
Akhirnya meeting itu berakhir dengan Pedri sebagai pemenangnya, Renan mengepalkan tangannya dan segera menarik Aruna keluar dari ruangan itu.
"Aruna, kau itu bisa kerja atau tidak? Sudah dua kali kau melakukan kesalahan."
"A-aku juga tidak tau kenapa proposalnya hilang."
"Kau bukan hanya ingin membuatku bangkrut tapi kau mempermalukanku di depan banyak orang."
"Aku tidak tau apa-apa tentang itu semua, aku berani bersumpah--"
"Aku tau--" Renan menjeda ucapannya sejenak lalu ia tersenyum miris. "Kau melakukan semua itu hanya untuk, agar bisa keluar dari perusahaanku kan?"
"B-bukan seperti itu--"
Renan mendorong tubuh Aruna hingga membentur dinding, jarak diantara mereka sangat dekat bahkan hembusan napas Renan sangat begitu terasa pada wajah Aruna. "Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkanmu keluar dari kantor sebelum aku sendiri yang membiarkanmu pergi."
Aruna memejamkan matanya seraya meremas kain kemeja yang digunakannya, ia terlalu takut untuk memandang wajah Renan, Renan pergi meninggalkannya yang berdiri kaku di sisi tembok. Pedri menghampiri Aruna ketika Renan sudah pergi meninggalkannya.
"Apa kau tidak apa?" tanyanya.
"Aku tidak apa."
"Tuan Renan keterlaluan, aku akan buat perhitungan dengannya."
"Tidak! Jangan lakukan apa pun," cegah Aruna seraya menarik tangan Pedri agar tidak pergi dari sana.
Pedri menghembuskan napas kasar ia tidak habis pikir kenapa Aruna tetap bertahan di perusahaan Renan?
"Aruna kenapa kau tetap bertahan bekerja di perusahaannya? Jika kau butuh bantuanku aku akan menolongmu."
"Terima kasih Pedri, untuk saat ini aku tidak membutuhkan bantuan apa pun."
"Tapi kau harus berjanji padaku, jika butuh sesuatu bilang padaku."
Aruna tersenyum simpul sebagai balasan jawaban pertanyaan Pedri.
"Aku harus pergi sekarang, sampai ketemu lagi."
__ADS_1
Pedri menatap kepergian Aruna, gadis manis yang beberapa hari ini merasuki batinnya.
"Aku akan selalu ada untukmu Aruna," lirih Pedri.
Aruna masuk ke dalam mobil, di sana sudah ada Renan dan juga Danilo yang sedang menunggunya. Sikap Renan terhadap Aruna tidak lagi hangat seperti dulu setelah Aruna memutuskan untuk menjauh darinya. Mungkin hatinya sedang terluka. Aruna pun dapat merasakannya.
"Kenapa kau lama sekali."
"Maaf--"
Kembali Aruna hanya menundukkan pandangannya, ia tidak sanggup untuk menatap netra hitam Renan. Di dalam mobil Renan terus mengumpat perihal proposal yang gagal ia promosikan.
"Sialan proyek kali ini gagal, dan Pedri memenangkannya semua ini gara-gara kau Aruna."
Kembali Aruna tersentak kaget atas perlakuan Renan. Aruna hanya bisa pasrah menerima segala umpatan Renan kepadanya tanpa mau menyangkalnya. Meskipun Aruna bersikeras menyangkal segala tuduhan Renan, pasti akhirnya hanya akan berujung sia-sia.
"Tenanglah tuan, kita bisa memenangkannya lain waktu," ujar Danilo berusaha menenangkan Renan.
Renan sedikit lebih tenang setelah mendengar ucapan Danilo, mobil melaju dengan kecepatan rata-rata kembali menuju perusahaan tekno intel.
"Tuan ada sesuatu yang penting yang ingin saya bicarakan."
Renan melirikkan ekor matanya pada Aruna yang tengah menatap ke luar jendela. "Tentang pekerjaan? Kalau soal pekerjaan saat ini aku sedang tidak ingin membahasnya Danilo."
Danilo menggantung perkataannya karena ia tidak ingin membahasnya di hadapan Aruna.
"Apa Danilo? Kalau bicara itu yang jelas."
"Nanti saja tuan."
"Kau ini aneh sekali."
Gadis berambut sebahu tidak mempedulikan Renan dan Danilo yang berdebat, pikirannya kembali kepada map bewarna hijau yang berisi proposal penting dan kembali hilang.
"Apa pelakunya sama? Apa Vela yang melakukannya lagi?" tanya Aruna dalam hati.
Seketika Renan menatap Aruna lekat, ia dengan jelas mendengar isi hati Aruna. Masih tidak percaya Vela melakukan hal yang mustahil menurutnya.
"Aku harus menyelidikinya lagi," gumam Aruna.
Sesampainya di kantor Aruna bergegas ke meja kerjanya, mencari map berwarna hijau yang berisi proposal, namun sayang hasilnya nihil ia tidak menemukannya. Saat ia menutup laci mejanya, ekor matanya melihat ada sesuatu benda yang tidak asing dari penglihatannya, map berwarna hijau yang ada di tumpukkan berkas-berkas di atas meja Vela.
Aruna melirik ke arah Renan yang sedang fokus pada laptopnya, sedangkan Vela baru saja berpamitan pergi ke toilet. Aruna segera mengambil map berwarna hijau yang di meja Vela, dan ternyata benar isinya adalah proposal penting yang akan Renan promosikan dan Vela menukarnya dengan map berwarna hijau yang lain. Tanpa berpikir panjang lagi Aruna pergi ke toilet menyusul Vela. Saat sampai di dalam toilet Aruna bersandar pada tembok menunggu Vela keluar dari bilik toilet dengan perasaan mencekik. Saat Vela keluar Aruna langsung menodongnya dengan beberapa pertanyaan.
__ADS_1
"Vela kenapa kau menukar map proposal dengan map yang lain?"
"Apa maksudnya? Aku nggak ngerti!"
"Vela di sini hanya ada kita berdua, jadi kau tidak perlu lagi berpura-pura."
Vela tertawa sumbang. "Kenapa? Kau tidak terima?"
"Vela gara-gara kau menukar map proposal itu, kita gagal mendapatkan proyek itu."
"Bagus, dong ternyata rencanaku berhasil."
"Vela jika kau terus seperti itu, kau akan merugikan perusahaan."
"Kalau kau peduli pada perusahaan ini, angkat kaki dari sini secepatnya."
"Vela jika aku bisa pergi dari sini aku akan pergi, kau sudah tau alasanku kenapa aku masih tetap berada di kantor ini."
"Keberadaanmu di dekat Renan membuatku tidak nyaman Aruna."
"Aku sudah menuruti keinginanmu untuk menjauhi Renan, aku di sini hanya sebatas hubungan profesional kerja."
Vela melangkah mendekati Aruna, seketika Aruna melangkah mundur, Aruna tau Vela ingin menyentuhnya dengan begitu energinya akan bertambah.
"Jangan mendekat dan jangan sentuh aku Vela."
"Aku bisa saja menghabisimu sekarang juga Aruna, tapi aku tidak mau semakin membuat Renan membenciku."
"Aku mohon jangan lakukan lagi kecerobohan yang bisa merugikan perusahaan, perusahaan ini hasil kerja keras Renan bertahun-tahun, apa kau tega akan menghancurkannya? Jangan butakan mata hatimu hanya karena cinta Vela."
"Cinta? Ya! Aku memang sudah dibutakan oleh cinta, cintanya Renan yang kau ambil Aruna."
Baru saja Vela akan memegang tangan Aruna, tapi tiba-tiba saja ia mengurungkan niatnya, kehadiran seseorang yang masuk ke dalam toilet membuat Vela mati langkah.
"Sedang apa kalian berdua di sinj?" tanya Zora.
"Memangnya kau pikir kita sedang apa di sini?" balas Vela seraya melenggang pergi keluar toilet.
Zora menaikkan kedua alis matanya. "Kau tidak apa kan Aruna?"
"Aku tidak apa."
"Dia tidak melakukan apa-apa padamu kan Runa?"
__ADS_1
"Tidak, untung saja kau hadir di waktu yang tepat."