
Tubuhnya terasa dingin, matanya mulai berembun, tangannya bergetar, gadis berambut sebahu menatap iba kepada pria yang ada di atas di ranjang. Bibirnya membiru, kelopak matanya menghitam. Baru beberapa waktu lalu kenapa tiba-tiba wajahnya berubah seketika.
"Tuan Danilo apa yang harus kita lakukan? Lihat dia."
"Aku sudah menyuruh dokter Fred untuk ke sini, tenanglah."
"Kenapa dia harus menolongku sampai membahayakan nyawanya."
"Kenapa kau tidak juga mengerti Aruna, tuan Renan rela menaruhkan nyawanya hanya karenamu."
"Apa yang harus aku lakukan, agar dia kembali sembuh?"
Danilo membuka buku sejarah nenek moyangnya, sambil menunggu kehadiran dokter Fred. Danilo fokus pada bukunya, sedangkan Aruna ia duduk di sisi ranjang menatap Renan yang terbaring kaku tanpa mau beranjak sedikitpun dari sana. Kehadiran dokter Fred membuat jantung Aruna sedikit kembali berdetak normal.
"Kenapa dia mengeluarkan tenaga dalamnya berlebihan Danilo? Itu sangat membahayakan nyawanya. Dia tau itu!"
Danilo tidak menjawab, ia hanya melirik Aruna sebagai jawaban. Dan dokter Fred langsung memberikan cairan
suntikan kepada Renan, Aruna tidak banyak bertanya ia hanya menyaksikan dokter Fred yang sedang serius memeriksa Renan.
"Bagaimana keadaannya dokter Fred apa dia bisa segera sembuh?"
"Kita tunggu reaksi obatnya sampai dua jam, kalau dia masih tetap tidak sadarkan diri, kita harus segera mencari alternatif yang kedua."
"Alternatif yang kedua? Apa itu dokter?"
"Darah suci."
Seketika Danilo menatap Danilo dan Aruna secara bergantian, dan Dokter mengangguk yakin.
"Kita hanya butuh darah suci setetes saja, untuk mengembalikan tenaga dalam tuan Renan."
Aruna mengerutkan alis matanya. "Bagaimana kita mendapatkan darah suci itu dokter?"
Dokter Fred dan Danilo saling pandang, pemilik darah suci adalah Aruna, tapi baik Danilo ataupun Dokter Fred
pantang untuk memberitahunya.
"Kemana kita harus mencari darah suci itu dokter, aku akan membantu kalian mencarinya."
Kembali Danilo dan dokter Fred saling pandang, membuat Aruna merasa jengkel dibuatnya.
"Kalian itu kenapa sih? Jawab dong! Aku mau Renan segera sembuh."
"Aruna sebenarnya kaulah pemilik darah suci itu."
Aruna membatu, tubuhnya terasa kaku, apa benar dia memiliki darah suci? Aruna menggelengkan kepalanya cepat, ia tidak percaya begitu saja.
"A-aku?"
"Iya kau Aruna," jawab Danilo yakin.
__ADS_1
Lututnya terasa lemas, ia terduduk di lantai dengan cairan bening yang tidak bisa tertahan lagi.
"Jadi dia mendekatiku karena aku mempunyai darah suci," gumamnya.
"Jangan berpikiran buruk dulu Aruna, kau sudah lihatkan bagaimana tuan Renan mempertaruhkan nyawanya hanya demi dirimu. Lihatlah pengorbanannya!"
Aruna menghapus cairan bening yang terus merembes dari kelopak matanya, ia berusaha kuat menerima kenyataan. Ia mulai berpikir jernih, ia tidak ingin berhutang nyawa, maka ia harus menyelamatkan Renan bagaimanapun caranya.
"Ambil darahku sebanyak-banyaknya agar bisa menyelamatkannya!" tukas Aruna.
"Kita tidak bisa menggunakan darah suci begitu saja, ada tata caranya Aruna."
Aruna semakin dibuat bingung, ia tidak mengerti tata cara apa yang dimaksudkan? Ia pikir jika Renan butuh darah
suci ia bisa langsung memberikannya.
"Kita tunggu dulu saja, apakah obat yang aku suntikan berfungsi," timpal dokter Fred.
Aruna, Danilo dan dokter Fred memilih menunggu dua jam untuk melihat reaksi obat yang diberikan dokter Fred
berfungsi atau tidak. Jika tidak maka mereka harus benar-benar menggunakan darah suci Aruna agar bisa menyelamatkan nyawa Renan.
Di tempat lain, gadis cantik bertubuh tinggi sedang memikirkan cara bagaimana ia bisa membawa Aruna, dan
mengambil darah sucinya untuk ia berikan kepada Renan, agar Renan bisa kembali pulang bersamanya ke planet asalnya.
"Kalian harus mencari cara lain, agar bisa membawa gadis itu ke hadapanku. Paham!" bentaknya.
apapun, meskipun taruhannya nyawa orang lain.
"Aku tidak mengerti, kenapa Renan melindungi gadis itu, jangan sampai dia benar-benar jatuh cinta padanya, jika itu terjadi akan aku buat gadis itu tidak ada lagi dimuka bumi ini," batinnya.
Sudah tiga jam menunggu reaksi obat yang disuntikan oleh dokter Fred, tapi Renan sama sekali tidak bereaksi
apa-apa. Matanya masih terpejam, wajahnya semakin pias.
"Dokter Fred ayo ambil darahku, lihatlah Renan tidak bereaksi sedikitpun."
Dokter Fred kembali mengecek tubuh Renan, yang masih terbujur kaku.
"Danilo siapkan alatnya, kita akan mengambil darah Aruna," ucap dokter Fred.
Danilo segera pergi meninggalkan kamar itu, tidak ada rasa kecemasan sedikitpun dibenak Aruna ketika ia akan
memberikan darahnya pada Renan. Yang terpenting Renan bisa selamat pikirnya begitu.
"Kau rela mengorbankan nyawamu demi aku, sedikitpun aku tidak akan menyesal telah mengenalmu meskipun kau bukan manusia baisa," batin Aruna.
Aruna berharap Renan bisa mendengar ungkapan hatinya, namun sayang tidak ada balasan sama sekali. Aruna kembali meneteskan cairan bening di kelopak matanya. Lama menunggu kedatangan Danilo, akhirnya Danilo datang dengan membawa nampan berisi pisau belati yang ditaburi kelopak bunga mawar putih dan merah, pisau belati yang Danilo bawa, bukanlah pisau belati sembarangan, ia telah memanaskannya ditumpuan api hingga pisau itu hitam dan panas.
"Irislah tanganmu dengan pisau ini, berikan darahnya pada tuan Renan."
__ADS_1
Aruna mengambil nampan dari tangan Danilo yang berisi pisau belati hitam yang panas, yang ditaburi kelopak bunga mawar, ia sedikit meringis melihat pisau belati tersebut. Aruna ragu ia takut, ketika menatap pisau tersebut.
"A-aku takut--"
"Tidak usah takut Aruna, hanya tiga tetes saja berikan darahmu pada mulut tuan Renan."
"Dampak apa yang akan terjadi nanti, jika aku memberikan darahku pada Renan?"
"Kemungkinan tuan Renan akan lupa siapa dirimu Aruna--"
"Kenapa begitu? Bukankah dia membutuhkan darah suciku untuk pulang ke planet asalnya?"
"Tuan Renan memang membutuhkan darah suci agar kita bisa kembali pulang ke planet kita, tapi bukan dengan kondisi seperti ini Aruna."
"Apakah nanti Renan akan mengingatku kembali?"
Danilo dan dokter Fred sama-sama kembali diam, mereka berdua belum mempunyai jawabannya.
"Tenanglah Aruna, aku akan membantu tuan Renan, agar dia bisa mengingatmu lagi," ucap Danilo meyakinkan.
Meskipun ragu, Aruna tetap akan melakukannya, agar Renan kembali seperti semula. Aruna sudah mengambil pisau belati di atas nampan, ia tatap pisau tersebut seraya menggigit bibir bagian bawahnya ada ketakutan yang menjalar ditubuhnya. Bukan takut karena tangannya akan ia iris, tapi ia takut Renan tidak akan mengingatnya lagi.
Sret
Jari telunjuknya sudah ia iris, darah yang keluar cukup lumayan banyak, karena ia mengirisnya sangat lebar, Aruna membuka mulut Renan dan memberikan tiga tetes darah dari tangannya.
Satu.. dua.. tiga...
Aruna segera menutup mulut Renan, dan ia membersihkan luka pada tangannya dengan menggunakan tisu. Rasa sakit ditangannya tidak sebanding dengan apa yang telah Renan korbankan untuknya.
"Aku akan mengobati lukamu, agar tidak infeksi," ujar dokter Fred.
"Terima kasih banyak dokter Fred."
Dokter Fred membungkus jari telunjuk Aruna dengan kain kasa, dan memberikan beberapa obat untuknya, agar Aruna tidak sakit akibat luka dari tangannya.
"Istirahatlah Aruna, pasti kau lelah," titah Danilo.
Aruna membaringkan tubuhnya di sofa yang ada di kamar Renan, ia sama sekali tidak ingin meninggalkan Renan meskipun Danilo sudah menyuruhnya beristirahat di dalam kamar yang dulu dia tempati. Tubuhnya yang terasa lelah dan ia merasakan sakit di bagian tangannya, akhirnya ia memutuskan untuk memejamkan matanya, membawanya ke alam mimpi indahnya.
Aruna masih terjaga dari mimpi indahnya, ia masih enggan untuk membuka matanya, Pagi-pagi buta, Aruna mendengar suara teriakan seseorang hingga mendengung ditelinganya.
"DANILO.. DANILO.. DANILO..."
Mendengar suara teriakan dari dalam kamar Renan, Danilo segera masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa tuan?"
"Siapa dia? Kenapa ada wanita asing di dalam kamarku?"
Aruna mengucek matanya, mengumpulkan segala kewarasannya, benar apa yang di katakan Danilo, jika sekarang Renan benar-benar tidak mengenalinya, hatinya terasa dihujani ribuan duri yang tajam, sakit sungguh terasa amat sakit, hingga Aruna tidak bisa membedakan rasa sakit ditangannya dan dihatinya.
__ADS_1
"Apa ini yang namanya sakit tidak berdarah?"