
Hatinya sedang tidak karuan, ia ingin segera memberitahu Renan, jika orang yang telah menghapus data untuk persentasinya adalah Vela. Gadis berambut sebahu terlihat mondar mandir di ruang kerjanya, ia sedang menunggu Renan.
"Kenapa dia lama sekali? Kemana dia?"
Sekian lama Renan tak juga muncul, jam kantor sudah akan berakhir, apa Renan sudah pulang?
"Kalau begitu besok saja aku beritahunya."
Aruna memutuskan untuk pulang, karena para pegawai sudah berhamburan keluar. Setelah selesai meeting Renan belum juga kembali ke kantor, karena ia harus bertemu dengan kliennya yang lain. Seperti biasanya Pedri menjemput Aruna ke kantor, tapi kali ini Gloria sengaja tidak membawa mobilnya di parkiran hanya untuk ikut bersama dengan Pedri.
"Pedri apa aku boleh ikut denganmu, mobilku mogok?" tanya Gloria.
Pedri menaikkan kedua alis matanya. "Silahkan, tapi tunggu Aruna sebentar, kenapa dia belum juga keluar?"
"Dia itu sekertaris pemilik perusahaan ini, pasti kerjaannya banyak, kita pulang duluan saja."
"Tunggu aku akan meneleponnya."
Panggilan pun terjawab, dan Pedri dengan sabar menunggu Aruna keluar gedung kantor, berbeda dengan Gloria yang sudah memasang wajah masam, kenapa ia harus pulang bersama Aruna? Pada hal ia ingin mengenang masa-masa indahnya bersama Pedri.
"Maaf, aku terlambat keluar."
"Tidak apa, ayo masuk!"
Aruna baru saja akan membuka pintu mobil bagian depan, tapi Gloria mendahuluinya. Ia pun akhirnya mengalah duduk di kursi penumpang bagian belakang. Sepanjang perjalanan Gloria terus mengingatkan Pedri tentang kenangan mereka berdua ketika masa SMA memadu kasih, dan ekspresi Pedri begitu datar ketika menanggapi ucapan Gloria. Aruna tidak begitu fokus terhadap Gloria dan Pedri pandangannya mengarah ke arah jendela, melihat pemandangan yang ada di jalan. Ia sedang berpikir bagaimana caranya memberitahu Renan tentang Vela yang sudah menghapus data untuk persentasinya.
"Aruna apa kau mau makan dulu?" tanya Pedri.
Terlihat Gloria mencebikkan bibirnya, ia tidak suka Pedri begitu perhatian kepada Aruna.
"Aku lapar, lebih baik kita makan dulu," sahut Gloria.
"Aruna apa kau mau makan dulu?" tanya ulang Pedri.
"Ah, iya terserah kalian berdua saja."
Pedri mengajak Aruna dan Gloria makan di salah satu restaurant, entah mengapa Aruna tidak begitu berselera untuk makan. Hatinya masih tidak tenang sebelum mengungkap siapa pelaku yang telah menghapus datanya kepada Renan.
"Aruna kau mau makan apa?" tanya Pedri.
"Terserah kau saja, aku tidak begitu mengerti makanan di restaurant ini."
"Kampungan sekali," gumam Gloria.
Aruna dapat mendengar sindiran Gloria, karena ia berada di sampingnya, tapi ia sudah terbiasa atas sikap Gloria yang selalu menghinanya atau mengatainya, Aruna tidak mempedulikannya.
"Pedri apa aku boleh memesan makanan yang ini?" tanya Gloria.
"Pesan apa pun, yang kau suka."
Mendapat respon yang baik dari Pedri, Gloria memesan begitu banyak makanan, tanpa berpikir panjang apakah makanan sebegitu banyak dapat ia habiskan sendiri. Akhirnya makanan yang Gloria pesan tidak semuanya termakan, karena keserakahan ia telah membuat makanan menjadi mubajir.
"Tunggu sebentar jangan dibuang, biar semua makanan sisanya aku bawa pulang," pinta Aruna.
__ADS_1
"Dasar rakus nggak bisa lihat makanan mahal," gerutu Gloria.
"Pelayan tolong bungkus semua makanan yang tidak dimakan di meja ini, dan juga tambahkan yang baru untuk dibungkus juga."
"Baik tuan."
"Pedri kenapa kau memesan makanan lagi? ini sudah cukup banyak untuk dibawa pulang."
"Tidak apa, untuk Ayah dan Ibu di rumah."
Setelah pelayan restaurant memberikan bungkusan makanan, mereka segera pulang dari sana. Dalam perjalanan pulang ketika lampu merah, ada beberapa anak pengamen menghampiri mobil Pedri.
"Aruna tutup jendelanya, lihat anak-anak pengamen itu, bau dan kotor pasti mereka akan ke sini," ujar Gloria.
Tapi Aruna malah dengan sengaja membuka jendelanya lebar-lebar, membuat anak-anak pengamen jalanan menghambur mendekatinya. Selesai anak-anak pengamen itu menyanyikan lagunya, Aruna membagikan bungkusan makanan yang tadi diberikan oleh Pedri, ia hanya menyisakan dua kantong untuk ia bawa pulang untuk Ayah dan Ibu di rumah.
"Aruna kenapa kau kasih makanan mahal itu kepada anak jalanan itu?" protes Gloria.
"Aku sengaja membungkus makanan itu, untuk aku bagikan kepada mereka Glori."
"Tapi makanan itu terlalu mahal untuk mereka, anak jalanan itu tidak pantas memakan makanan mewah seperti itu."
"Apa salahnya kita membagikan sedikit rizki kita kepada mereka, rizki yang kita dapat darimana pun, itu ada hak mereka di dalamnya."
Pedri semakin dibuat kagum atas sikap Aruna, ia merasa telah menemukan wanita yang tepat untuk ia jadikan seorang istri. Aruna menyukai anak-anak pasti kelak jika nantinya Aruna mempunyai anak, ia akan sangat menyayangi anaknya.
"Makanannya dibagi-bagi, ya."
Aruna menaikkan kedua alis matanya kenapa anak-anak itu mendoakannya tentang jodoh.
"Kenapa kalian mendoakan Kakak tentang jodoh? Apa di wajah Kakak tertulis jones alias jomblo ngenes?"
Anak-anak itu tidak menjawab, mereka malah menertawakan Aruna. Mobil pun kembali melaju meninggalkan anak-anak pengamen jalanan yang melambaikan tangan pada Aruna.
"Aruna apa kau sering bertemu mereka?" tanya Pedri.
"Tidak sering, tapi setiap aku lewati jalanan itu mereka pasti ada di sana."
"Tampaknya mereka sudah mengenalmu?"
"Mungkin, tapi orang yang sering memberi makanan pada mereka bukan hanya aku Pedri."
"Jangan terlalu sering memberi mereka makanan, nanti mereka males kerja Runa, maunya dikasih terus," timpal Gloria.
Jika berdebat dengan Gloria, Aruna akan selalu mengalah dengan tidak membalas ucapan Gloria. Aruna memilih diam dari pada akan berakhir panjang kali lebar.
"Tidak pa-pa sesekali memeberi makanan enak untuk mereka, toh nggak setiap hari juga ngasih makanannya," bukan Aruna yang membalas perkataan Gloria, melainkan Pedri.
***
Langit gelap kini telah berubah menjadi cerah, Aruna kembali bersiap-siap untuk pergi ke kantor, kali ini ia berangkat ke kantor lebih awal, karena ia akan menyiapkan rekaman cctv untuk ia tunjukkan pada Renan. Aruna memilih menaiki angkutan umum dari pada Pedri yang menjemputnya, ia tidak ingin Pedri bertanya yang tidak-tidak mengapa hari ini berangkat ke kantor lebih awal, Aruna hanya mengirimi Pedri pesan WhatsApp agar jangan menjemputnya ke rumah karena ia ada urusan mendadak.
"Aku harus segera sampai di kantor, sebelum Vela sampai terlebih dulu."
__ADS_1
Dalam perjalanan menuju kantor Aruna meremas jeri-jemarinya yang saling bertautan, ia khawatir jika Vela sampai di kantor terlebih dahulu, maka rencananya bisa saja gagal untuk memberitahu Renan.
Aruna menghela napas lega. "Untung saja aku sampai lebih dulu."
Saat tiba di perusahaan tekno intel, belum banyak karyawan yang hadir, karena memang masih sangat pagi, hanya ada beberapa clening service yang sedang membersihkan kantor.
"Selamat pagi nona Aruna," sapa salah satu office girl pada Aruna.
"Pagi."
Aruna lantas berjalan cepat menuju ke ruangannya, ia harus segera menyiapkan rekaman cctv untuk ia tunjukkan pada Renan, sesuai rencananya ia hanya tinggal menunggu kedatangan Renan. Beberapa kali Aruna melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sebentar lagi dia pasti datang."
Namun sangat disayangkan orang yang ia harapkan belum juga tiba, malah Vela tiba terlebih dulu dibanding Renan.
"Aruna kenapa wajahmu terlihat tegang sekali?" tanya Vela.
"T-tidak pa-pa, kok," jawab Aruna gugup.
Setelah Vela sampai di kantor beberapa menit, Renan baru saja tiba bersama dengan Danilo. Aruna tidak membuang waktu ia langsung menghadang langkah kaki Renan.
"Pak, saya ingin menunjukkan sesuatu pada anda."
"Menunjukkan apa?"
"Orang yang telah menghapus data untuk persentasi kemarin," Aruna sedikit melirikkan matanya ke arah Vela.
"Jadi kamu tau siapa orangnya?"
"Saya tau Pak."
"Siapa dia Aruna? Dengan sengaja dia telah memperlakukanku di depan umum."
"Dia orangnya Pak!" tunjuk Aruna kepada Vela.
Vela langsung berdiri tidak terima atas tuduhan Aruna. "Jangan asal tuduh Aruna, Renan mana mungkin aku melakukan itu."
"Saya punya buktinya Pak."
Aruna segera memasukkan flashdisk pada laptop Renan, ia memutar kejadian ketika Vela sedang menghapus datanya, namun sayang kembali rekaman cctv yang sudah ia copy ke dalam flashdisk isinya kosong.
Renan menatap tajam Aruna. "Jangan main-main denganku Aruna!"
"Kalau begitu aku akan mengcopy ulang lagi dari rekaman cctvnya."
"Tidak perlu, kau hanya sedang melakukan pekerjaan sia-sia Aruna."
"T-tapi Pak--"
"Kembali ke meja kerjamu!" bentak Renan.
"Seharusnya kau itu tidak pantas memiliki darah suci, dengan tanpa alasan kau menuduhku yang tidak-tidak Aruna, kau manusia licik," cerca Vela.
__ADS_1