
Waktu yang seharusnya digunakan untuk mempelajari bagaimana menjadi seorang sekertaris, Aruna malah terbaring lemah tidak berdaya, dua hari sudah Aruna terbaring sakit di rumah Renan, ia sama sekali tidak memberitahukan orang-orang rumah, mereka hanya tau Aruna bekerja ke luar kota. Dua hari tidak berdaya Renan dengan sabar menjaga Aruna, begitupun dengan Aruna ia merasa Renan memperlakukannya lebih dari sekedar seorang bawahan. Bahkan Renan rela tidak masuk kantor, semua urusan kantor untuk sementara ia serahkan pada
Danilo. Ia tidak tega jika harus meninggalkan Aruna bersama dengan pembantunya.
“Tuan, kenapa hanya aku yang makan? Kenapa tuan tidak makan?”
“Aku sudah makan.”
“Semenjak aku tinggal di sini, aku sama sekali belum pernah melihat tuan makan, terakhir kalinya ketika kita makan di rumah sakit.”
“Apa kau mau aku pingsan lagi?”
“B-bukan begitu tuan, aku hanya tidak enak saja, setiap hari tuan membawakan makanan.”
“Anggap saja rumah sendiri.”
“Maaf merepotkan,” ucap Aruna lirih.
Wajah Aruna seketika terlihat murung, sepertinya ia sedang mengingat sesuatu, melihat perubahan pada wajah Aruna, Renan menaikkan kedua alis matanya.
“Ada apa? Apa kau mau pulang?”
“B-bukan tuan, di rumah ketika aku sakit aku tidak pernah dimanjakan seperti ini tuan, Ayah sibuk di toko, sedangkan Ibu—“ Aruna menarik napas dalam untuk menetralisir rasa sesak di dalam dadanya. “Ibu tidak peduli denganku, hanya karena aku anak tirinya,” sambungnya lirih.
“Kalau begitu mulai sekarang rumah ini adalah rumahmu, aku yang akan selalu menjagamu.”
Aruna menatap intens pria berambut cokelat yang duduk di sisi ranjang, ia berusaha mengartikan ucapan Renan, apakah maksudnya secara tidak langsung Renan menyatakan cinta? Tapi selanjutnya Aruna menggelengkan kepalanya cepat, pikirnya tidak mungkin seorang CEO perusahaan Tekno Intel jatuh hati pada dirinya, yang
bisa dibilang gadis yang tidak mempunyai daya Tarik apapun, gadis yang tidak mempunya bentuk tubuh seksi.
“Apakah dia mengerti maksud yang aku ucapkan?” tanya Renan dalam hati.
Entah mengapa Aruna dapat mendengar isi hati Renan, ia pun mulai bingung kenapa sekarang ia bisa mendengar suara hati Renan yang jelas-jelas padahal tidak diucapkannya.
“Aku tidak mengerti tuan, maksud tua itu apa?”
“Hah? Apa?”
“Bagaimana dia bisa mendengar apa yang aku ucapkan dalam hati?” batin Renan.
Spontan Aruna langsung menjawabnya. “Aku juga tidak tau tuan, kenapa aku bisa mendengar kata-kata yang ada dalam hati tuan.”
Bukan hanya Aruna, Renan pun sama bingungnya, ia tidak habis pikir kenapa sekarang Aruna dapat mendengar kata hatinya? Ia harus menanyakannya pada Danilo ketika ia pulang dari kantor.
“Tuan, maksud tuan akan selalu menjagaku, apa sekarang tuan sudah mulai menyukaiku?” tanya Aruna dengan wajah polosnya.
__ADS_1
“Entahlah, tapi aku merasa aku ingin selalu menjagamu.”
Aruna mengulum senyum.“Itu sih udah cinta namanya tuan.”
Renan membeku, apakah benar apa yang diucapakan Aruna, jika ia mulai mencintainya. Ia memang pernah merasakan jatuh cinta tapi itu dulu ketika sebelum ia turun ke bumi.
“Tuan mau kemana?” tanya Aruna ketika melihat Renan berdiri dari duduknya.
“Ada sesuatu yang harus aku kerjakan.”
Aruna menatap punggung lebar Renan, yang mulai pergi meninggalkan kamarnya.
“Apa dia malu karena telah jatuh cinta padaku?”tanya Aruna dalam hati. Tapi saat ini yang jelas perasaan Aruna sedang berbunga-bunga.
Langit sore itu begitu indah ditemani senja yang berwarna jingga, Renan menatap langit sore itu dengan perasaan yang sedang berkecamuk di dalam dadanya, ia sedang menyangkal pernyataan Aruna jika ia mencintainya. Sebelum terjadi sesuatu di luar kendalinya sebaiknya ia melupakan perasaan itu, dan berusaha untuk menghindarinya. Tapi bagaimana dengan darah suci?
“Permisi tuan,” ucap Danilo seraya masuk ke dalam ruang kerja Renan.
Danilo belum sempat mendaratkan bokongnya di atas kursi tetapi Renan sudah menyambutnya dengan beberapa pernaytaan yang membuat Danilo harus membuka kembali buku tebal sejarah nenek moyangnya.
“Danilo kenapa Aruna bisa mendengar suara dalam hatiku? Coba jelaskan!”
“Sebentar tuan.”
Renan memperhatikan Danilo yang sedang membaca buku tebal dihadapannya. Terlihat rasa penasaraan yang terpancar dari sorot matanya, ia begitu tidak sabar apa yang akan Danilo ucapkan.
“Apa maksudmu Danilo?”
“K-kalian berdua saling mencintai, itu sebabnya Aruna bisa mendengar kata hati tuan.”
“Bagaimana itu bisa terjadi? Aku tidak mencintainya Danilo—“
“Tuan sebesar apapun tuan menyangkalnya, tapi hati tidak bisa dibohongi tuan.”
“Lalu aku harus bagaimana Danilo?” Reflek Danilo langsung mengedikkan bahunya,
Hembusan napas berat keluar dari keduanya, jatuh cinta memang tidak salah, tetapi masalahnya mereka berdua dari dua alam yang berbeda, apakah mereka bisa hidup bersama? Atau cinta mereka hanya akan membawa malapetaka?
“Tuan sebaiknya kita fokus pada darah suci, jika Aruna memberikan darahnya dengan suka rela kita bisa pulang ke planet asal kita.”
“Itu akan sangat membahayakan nyawanya Danilo.”
“Tapi, --tuan sebelum terjadi sesuatu yang kita takutkan, lebih baik kita menghindarinya, dan kembali kepada tujuan awal kita.”
“Dasar makhluk astral egois, kau hanya mementingkan kepentinganmu saja, tanpa peduli nyawa orang lain. Cari cara yang lain brengsek!” seketika sorot mata bening kini berubah menjadi berwarna merah, kilatan amarah terpancar di sana.
__ADS_1
“Hanya dengan darah suci, kita bisa kembali pulang ke planet kita tuan, tidak ada cara lain.”
“Dasar tidak becus, aku yang akan cari caranya sendiri!”
Renan pergi meninggalkan rungan itu dengan membanting pintu sangat keras, Danilo hanya terpaku merenungi apa yang telah terjadi baru saja. Apa yang ia takutkan kini terjadi juga, Renan telah jatuh cinta pada manusia biasa. Baru saja Renan akan masuk ke dalam kamar Aruna, tetapi mereka bertemu dibibir pintu ketika Aruna hendak keluar.
“Kau mau kemana?”
“Aku bosan tuan, dari tadi di kamar terus.”
“Apa sekarang keadaanmu lebih baik?”
Aruna tersenyum menggoda. “Lihatlah tuan, keadaanku jauh lebih baik, karena tuan yang
merawatnya.”
Renan menggaruk tengkuknya tidak gatal, ia menjadi salah tingkah. “Kalau begitu ayo ikut aku!”
“Kemana tuan?”
Aruna berusaha mensejajari langkah kaki Renan yang lebar, Renan membawa Aruna ke atas rooftop rumahnya. Untuk pertama kalinya Aruna menginjakkan kakinya di sana, matanya disuguhi tanaman hias yang cantik, dan juga sofa panjang yang tertata rapi di sana, semakin indah ketika Aruna menatap ke atas langit, dimana langit sedang sangat bersahabat bertabur bintang-bintang yang menghiasinya, kalau tau dari awal di rumah ini ada tempat sebagus itu mungkin Aruna akan betah berdiam di tempat itu.
“Tuan kenapa tidak bilang, ada tempat sebagus ini?”
“Kau suka?”
Aruna mengangguk yakin dengan mata berbinar. “Sangat suka.”
“Aruna—“
“Iya tuan?”
Renan terlihat sangat gugup, padahal ia sering bertemu dengan klien dari kalangan manapun, tetapi tidak membuatnya segugup itu, peluh mulai membasahi dahinya, jantungnya berdetak tidak normal, ia meremas jari-jemarinya sendiri untuk menghilangkan rasa gugup.
“Kenapa tuan?” tanya Aruna lagi.
“A-aruna, bagaimana jika aku benar-benar mencintaimu—“
Seketika Aruna mematung ia pun sedang menata detak jantungnya agar berdetak normal.
“Tuan ini ngomong apa? Bagus dong berarti tuan normal. Hahaha,” Aruna berusaha
membuat suasana agar tidak terasa canggung.
“Aruna dengar, aku benar-benar ingin selalu bersamamu, aku ingin selalu menjagamu, aku ingin selalu menikmati malam berdua bersamamu seperti malam ini.”
__ADS_1
“Tuan aku—“