MY CEO ALIEN

MY CEO ALIEN
BAB 35 Hutan


__ADS_3

Langit malam yang tamaram diselimuti awan hitam menggumpal tak sedikit pun membuat Aruna bergerak dari tempatnya ia masih duduk membeku meremas jemarinya yang terasa mendingin.


"Aruna?"


"Hah, iya?"


Mendadak titik-titik air turun dari atas langit, Pedri segera mengajak Aruna masuk ke dalam mobil. Untung saja mobil mereka tidak jauh terparkir, hingga Aruna dan Pedri bisa segera berteduh. Rambut Aruna sedikit basah begitu pun rambut Pedri.


"Maaf gara-gara aku kita jadi kehujanan."


"Tidak pa-pa."


Pedri melajukan mobilnya, membuat Aruna bertanya dalam hati, kenapa Pedri tidak membahasnya lagi? Apa dia sakit hati karena Aruna tidak menjawab pertanyaannya? Batin Aruna seperti itu. Sepanjang perjalanan Pedri sama sekali tidak membahasnya, ia hanya fokus menyetir. Aruna sedikit melirik ke arah Pedri ia sedang menerka-nerka pikiran Pedri. Ketika lampu merah dan mobil berhenti membuat Aruna sedikit terkaget atas pertanyaan Pedri.


"Kenapa pada malam hari anak-anak pengamen itu tidak ada?"


"Apa, hah? Mungkin mereka sedang beristirahat, cuaca juga sangat tidak mendukung."


Selanjutnya tidak ada obrolan lagi, Aruna menatap ke luar jendela, dimana hujan kini mulai deras, ketika hujan ia menjadi teringat kepada Renan.


"Apa dia sekarang sedang berubah menjadi kucing?" tanyanya dalam hati.


Awal mula Aruna mengetahui Renan adalah bukan manusia bumi itu karen hujan. Kenapa Aruna mengingat-ingat kejadian tempo lalu bersama Renan? Apa ia sedang rindu? Seketika Aruna menggelengkan kepalanya cepat. Melihat Aruna yang tiba-tiba menggelengkan kepalanya membuat Pedri bertanya bingung.


"Kau kenap Aruna?"


"A-aku tidak apa, hanya sedikit tidak nyaman dengan bajuku yang basah."


"Sebentar lagi kita sampai di rumahmu."


Aruna mengangguk seraya tersenyum kepada Pedri, membuat Pedri pun membalas senyuman itu, sedikit canggung dan kaku setelah Pedri mengungkapkan keseriusannya. Tiba di depan rumah minimalis sederhana baru saja Aruna hendak menawari Pedri untuk turun dan meminjamkan baju Ayahnya untuk Pedri tapi Pedri terlebih dahulu memotong ucapannya.


"Aruna?"


"Iya?"


"Aku tidak butuh jawabanmu sekarang, tapi pikirkan baik-baik tentang perasaanku. Aku akan selalu menunggu jawaban darimu."


"Pedri--"


Baru saja Aruna akan menolak dan meminta Pedri untuk tidak terlalu berharap kepadanya karena ia tidak tahu bisa membuka hatinya untuk orang lain atau tidak setelah hatinya sepenuhnya dikuasai Renan.


"Tidak perlu sekarang Aruna, aku tahu kau tidak ada perasaan terhadapku, tapi aku akan selalu menunggumu, kapan pun itu. Aku berharap kau mau membuka hatimu untukku."


Aruna masih berdiri mematung menatap kepergian Pedri yang baru saja mengungkapkan isi hatinya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Rasanya Aruna ingin bersembunyi di tempat yang tidak akan seorang pun mengetahui keberadaannya. Saat Aruna membuka pintu ia di sambut dengan tatapan sinis Gloria.


"Darimana aja jam segini baru pulang?" cerca Gloria.

__ADS_1


"Kan, tadi kita makan bareng di alun-alun," balas Arun dengan polosnya.


"Ada sesuatu hal yang pengin aku omongin."


Gloria menarik Aruna duduk di sampingnya, ia menatapnya sambil duduk bersila.


"Hal penting apa?"


"Aku mau balikan sama Pedri, dan kau harus membantuku."


"Tapi Glori--"


"Sebagai imbalannya, aku akan menuruti semua keinginanmu."


"T-tapi aku tidak bisa berjanji akan berhasil."


"Semuanya harus berjalan lancar tanpa hambatan, aku tidak mau mendengar kata gagal."


Kepala Aruna terasa akan pecah, masalahnya saja dengan Renan, belum selesai ditambah masalah yang lainnya.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku butuh Pedri agar bisa terlepas dari Renan, tapi Glori--"


Aruna mengusap wajahnya prustasi, ia sedang dilema tanpa disadarinya ia mulai terlelap masuk ke alam bawah sadarnya. Tiba-tiba saja ketika Aruna terbangun ia berada di hutan belantara.


"Kenapa aku ada di sini?" tanya Aruna dalam hati.


Aruna mulai berjalan menyusuri jalan setapak, tiba-tiba saja suara serigala menggema membuat Aruna ketakutan, ia mulai berlari dan mencari tempat persembunyian. Tapi nahas Aruna malah bertemu dengan beberapa serigala sekitar lima ekor serigala yang mengelilinginya.


Tapi serigala tidak mengerti ucapan Aruna, mereka malah semakin mendekatinya dan ingin menerkamnya. Salah satu dari serigala itu melompat ke arah Aruna hingga tangan Aruna terkena gigitannya.


"Aawwwhh..." ringis Aruna.


Belum sempat Aruna melarikan diri kemudian serigala yang lain hendak menerkamnya, Aruna berjongkok menyembunyikan wajahnya dibalik kaki dan dan tangannya.


"Aaahhhhh..." teriak Aruna.


Setelah ia berteriak sekuat tenaga, tapi ia merasa tubuhnya tidak merasa terkena gigitan apa pun, dan ternyata serigala-serigala itu telah melawan seorang laki-laki berambut cokelat, Aruna berusaha melihat wajah laki-laki tersebut namun tidak bisa karena ia sedang berusaha mengalahkan serigala-serigala itu.


"Pergi dari sana!" teriaknya.


Seketika Aruna terlonjak kaget, ia bergegas berdiri dan berlari mencari pohon yang besar untuk tempatnya bersembunyi. Bukan hanya satu dua serigala itu yang mati tapi semuanya mati di tangan laki-laki tersebut. Entah kekuatan darimana Aruna bisa memanjat pohon dan sekarang ia masih berada di atas pohon bersembunyi dari serigala yang akan memangsanya.


"Hey, ayo turun!"


Aruna melihat ke arah bawah, laki-laki itu sedang menunggunya turun karena serigala itu sudah tewas olehnya.


"Ayo turun! Serigalanya sudah mati."


"Iya sebentar aku akan turun," teriak Aruna dari atas pohon.


Aruna turun dari atas pohon dengan hati-hati tapi sayang kakinya terpeleset hingga ia terjatuh dari atas pohon.

__ADS_1


"Aaaahhhh..." teriak Aruna.


Bruk


Aruna terjatuh namun ia merasa tubuhnya baik-baik saja, tidak merasa sakit sedikit pun. Ternyata laki-laki yang telah menyelamatkannya dari serigala kini menyelamatkan kembali.


"Apa kau tidak apa?" tanyanya.


"Aku tidak apa," balas Aruna seraya membuka matanya dengan perlahan.


Kini setelah matanya terbuka sempurna ia tidak percaya ternyata orang yang telah menyelamatkannya adalah Renan.


"Renan? Kenapa dia ada di sini?" tanya Aruna dalam hati.


Aruna masih dalam rengkuhan Renan, mereka sama sekali tidak bergerak, malah mereka saling menatap satu sama lain.


"Siapa namamu?" tanya Renan.


"Kau Renan kan?" tanya balik Aruna.


Renan menaikkan kedua alis matanya. "Maksudnya?"


"Kau Renan Ribeiro pemilik perusahaan tekno intel kan?"


"Perusahaan? Apa itu?"


"Perusahaan kau mempunyai perusahaan gedung bertingkat dimana orang-orang bekerja padamu untuk mendapatkan uang."


"Ah, aku tidak mengerti," ucapnya seraya membangunkan Aruna.


"Apa dia kembali hilang ingatan?" tanya Aruna dalam hati.


"Kenapa kau bisa berada di sini?"


"Aku juga tidak tahu, kenapa tiba-tiba aku terbangun lalu berada di tengah-tengah hutan."


Kembali suara seekor serigala kembali menggema di tengah-tengah mereka sedang berbincang.


"Sebaiknya kau ikut ke kastilku."


"Kastil?"


"Iya tempat tinggalku, apa kau masih mau di sini dan kembali bertemu dengan serigala-serigala itu yang siap menerkam mu."


"Aku tidak mau," ucap Aruna seraya memegang tangan Renan dan bersembunyi di balik punggungnya membuat pria itu menyunggingkan bibirnya ke atas.


...****************...


Bersambung....


Visual Renan dan Aruna cek di IG @siti_marriam14

__ADS_1


__ADS_2