
Aruna berjalan di belakang Renan, ia mengikuti langkah kaki Renan yang akan membawanya ke kastilnya. Lagi-lagi suara serigala menggema membuat Aruna reflek memegang tangan Renan.
Renan tersenyum seraya berkata. "Jangan takut, serigala itu tidak akan berani datang ke kastilku."
"Kau tidak sedang berbohong kan?"
"Untuk apa aku berbohong? Berbohong tidak ada gunanya."
"Lalu kenapa serigala itu tidak berani datang ke sini?"
"Kau tidak tahu di sini banyak jebakan untuk mereka."
Tanpa terasa Aruna sampai di depan kastil, kastil berwarna putih usang membuat Aruna bergidik ngeri ketika akan memasukinya.
"Aku takut."
"Jangan takut di sini wilayahku."
"Kau tidak akan berbuat macam-macam padaku kan?"
"Aku hanya akan berbuat satu macam padamu."
Tiba-tiba saja Aruna menghentikan langkah kakinya ia menatap pria yang ada di hadapannya dengan tatapan menelisik. Renan berbalik menghadap Aruna karena derap langkah kaki Aruna tidak terdengar.
"Satu macam yaitu aku akan menyiapkan makanan untukmu," ucap Renan dengan terkekeh.
Aruna bernapas lega ketika mendengar ucapan Renan, ia melangkahkan kakinya mengikuti Renan. Tiba di dalam kastil seketika bola mata Aruna terbelalak, dari luar kastil tersebut terlihat usang dan menyeramkan tapi begitu masuk semua barang yang ada di dalam kastil terlihat antik namun sangat mewah.
"Dari mana kau mendapatkan semua barang-barang ini?"
"Kau tidak perlu tahu, aku mendapatkannya dari mana."
"Duduklah di sini, aku akan menyiapkan makanan untukmu, aku yakin kau sangat lapar setelah bergelut dengan serigala itu."
Aruna duduk di kursi meja makan, terdapat beberapa kursi meja makan berjejer sekitar ada dua belas kursi di sana, pandangan Aruna menjelajah ke seluruh isi ruangan, sangat menarik dan memanjakan mata membuat Aruna betah berada di kastil itu.
"Apa Renan sering makan malam di sini? Bukankah dia tidak pernah makan?" batin Aruna.
tiga puluh menit berlalu Renan datang membawa nampan berisi makanan ke hadapannya, makanan yang masih berasap dan wanginya semakin menggugah rasa laparnya.
"Apa yang kau masak? Kenapa baunya harum sekali."
"Ini sop rempah-rempah, pasti enak aku sering makan ini ketika persediaan makanan di kastil habis."
"Sop rempah-rempah?"
"Iya rempah-rempah yang aku petik dari tumbuh-tumbuhan yang ada di hutan ini."
Aruna mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya, rasanya sangat aneh untuk pertama kalinya rasa yang tidak biasa masuk ke dalam mulutnya, tapi membuatnya menyendokkan lagi dan lagi makanan itu ke dalam mulutnya.
"Enak sekali."
Aruna menghabiskan makanan tersebut tanpa sisa membuat Renan tersenyum. Aruna terbatuk-batuk ketika melihat Renan mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Uhuk... uhuk..."
__ADS_1
Renan memberikan air minum kepada Aruna ketika Aruna terbatuk-batuk.
"Pelan-pelan saja makannya, makananmu tidak akan ada yang mengambilnya."
Aruna mengelap sisa makanan yang ada di mulutnya dengan punggung mulutnya. "B-bukan itu, sejak kapan kau makan?"
Renan mengernyit. "Aku memang makan, terus ada yang aneh?"
"Bukankah kau tidak memakan makanan manusia?"
"Bukan aku yang memakan makanan manusia, tapi kau yang memakan makananku," ucap Renan dengan terkekeh.
"Jadi ini makanan bangsamu?"
Renan mengangguk yakin. "Iya, sangat enak kan? Pasti kau belum pernah memakannya."
"Kau tidak bermaksud membunuhku dengan makanan ini kan?"
"Untuk apa aku menyelamatkanmu dari serigala-serigala itu kalau pada akhirnya aku akan membunuhmu, seharusnya aku biarkan saja kau tewas di makan serigala."
Aruna terkesima atas jawaban Renan, apa yang dikatakan Renan cukup masuk akal.
"Setelah makan aku akan mengajakmu berkeliling kastilku."
"Heem."
Setelah selesai makan Renan benar-benar mengajaknya berkeliling kastil. Mulai dari bawah hingga ke lantai atas, Aruna sangat menikmati waktunya bersama dengan Renan tanpa seseorang yang mengganggunya. Tetapi ada satu ruangan yang Renan tidak perlihatkan kepada Aruna.
"Kenapa kau tidak memperlihatkan ruangan itu kepadaku?"
"Ruangan itu tidak terpakai, pasti kotor."
"Ayo!"
"Hah, iya."
Tempatnya sangat asri dan sejuk, berbeda dengan tempat tinggalnya di kota, rasanya Aruna tidak ingin meninggalkan kastil itu.
"Kau di sini tinggal bersama siapa?"
"A-aku tinggal dengan saudaraku," ujar Renan ragu.
"kemana saudaramu? Sejak aku menginjakkan kaki di sini aku tidak melihat siapa pun."
"Mungkin mereka sedang bermain di hutan."
"Kalian itu aneh, mainnya di hutan."
"Kau pikir kita bisa bermain dimana selain di hutan."
"Apa kau akan tetap berubah menjadi kucing meskipun berada di hutan ini?"
Mendadak Renan menghentikan langkah kakinya, ia menunggu Aruna berjalan mendekatinya dan menatapnya sangat intens.
"Kenapa kau bisa tahu aku jelmaan seekor kucing?"
__ADS_1
Aruna menelan ludahnya dengan susah payah. "Apa kau sama sekali tidak mengingatku?"
"Apa sebelumnya kita pernah bertemu? Jujur untuk pertama kalinya aku melihatmu di hutan ini."
"Renan, Aku Aruna, Aruna Istana."
"Iya aku Renan, kenapa kau bisa tahu namaku?"
Aruna menghembuskan napas kasar. "Sudahlah tidak ada gunanya berbicara tentang itu."
"Tunggu!" Renan mencekal tangan Aruba.
"Aku memang tidak mengenalmu, tapi entah kenapa hatiku mengatakan jika kita pernah memiliki ikatan."
"Jangan sentuh aku, kau bisa mencelakaiku."
Reflek Renan melepaskan tangan Aruna. "Kenapa aku bisa mencelakaimu, aku hanya memegangmu."
Dan memang benar tidak terjadi apa pun, setelah Renan menyentuhnya, bahkan Renan sama sekali tidak merasa tersengat aliran listrik.
"Apa kau tidak merasa seperti tersengat aliran listrik setelah menyentuhku?"
"Kau itu bicara apa? Aku tidak mengerti aliran listrik itu seperti apa?"
"Oh, ya ampun aku seperti sedang berbicara dengan manusia purba."
"Sebenarnya kau datang dari mana? Kenapa bicaramu aneh sekali?"
"Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba aku ada di hutan."
Dari atas Aruna dapat melihat pemandangan sekitar kastil, tiba-tiba saja matanya membola ketika melihat segerombolan orang sedang menuju kastil.
"Siapa mereka?"
"Ayo cepat sembunyi."
Renan segera membawa Aruna untuk bersembunyi, jantungnya mulai berdegup kencang, kecemasan sedang melandanya.
"Memangnya mereka siapa?"
"Jangan banyak bertanya cepat sembunyi."
Ketika merasa Aruna sudah bersembunyi dengan aman, Aruna mencuri kesempatan untuk masuk ke dalam ruangan yang Renan bilang ruangan kosong tidak terpakai.
"Maaf aku hanya ingin tahu isi kamar itu," gumam Aruna.
Aruna mengendap-endap untuk masuk ke kamar itu, dan untungnya ia berhasil masuk, ketika masuk wangi bunga melati yang tercium di indera penciumannya.
"Wangi sekali, kamarnya bersih dan harum kenapa dia bilang tidak terpakai?"
Aruna mulai menjelajah kamar itu, kamarnya cukup luas hanya ada penerangan lilin di dalam kamar membuat Aruna sedikit berhati-hati ketika berjalan, Aruna mencari jendela untuk membuka tirai agar cahaya bisa masuk ke dalam kamar. Baru saja Aruna hendak menggapai tirai dan membukanya namun suara dari luar membuat ia urung.
"Aku mencium bau manusia di sini, rupanya ada manusia yang masuk ke dalam kastil."
***
__ADS_1
Bersambung....
Cuma mau minta sumbangan like, kopi atau bunga semoga ada orang baik yang ngasih :)