MY CEO ALIEN

MY CEO ALIEN
BAB 11 Bertemu Seseorang


__ADS_3

Semenjak Aruna meminta Renan untuk bersikap wajar terhadapnya, Renan benar-benar menuruti ucapan Aruna. Ketika tanpa sengaja Renan melihat Aruna kesusahan karena ulah para senior di kantornya, ia membiarkannya. Renan berusaha menahan rasa amarahnya ketika melihat Aruna tersakiti, Tapi nyatanya mungkin suatu saat nanti Renan akan lebih parah menyakiti Aruna. Renan berpura-pura tidak melihat ketika Aruna mendapat pekerjaan sampingan menjadi asisten pribadi para senior itu.


“Danilo pecat mereka semua yang memperlakukan Aruna seperti seorang budak!”


“A-apa tuan?”


“Aku bilang pecat mereka Danilo!”


“Tuan, jika tuan memecat mereka maka Aruna akan marah kepada anda.”


Danilo berusaha menenangkan Renan agar tidak tersulut emosi, karena melihat Aruna yang diperlakukan seperti seorang budak.


“Tapi aku tidak bisa melihatnya menderita Danilo.”


“Kita tidak bisa melakukan apa-apa tuan, karena itu keputusan Aruna.”


Renan mengacak rambutnya prustasi, permintaan Aruna sangat berlainan dengannya. Renan


 erlihat sedang memikirkan sesuatu agar karyawan tidak mengganggu Aruna terus menerus.


“Danilo apa sebaiknya kita bunuh saja mereka.”


“Apa tuan sudah gila, kita tidak bisa membunuh orang sembarangan tuan.”


“Lalu aku harus bagaimana—“


“Saya punya ide tuan, saya akan memberikan mereka pekerjaan tambahan, agar mereka tidak bisa menganggu Aruna.”


Renan menganggukkan kepalanya tanda setuju atas ide dari Danilo.“Kalau begitu cepat lakukakn sekarang tunggu apa lagi!”


Danilo segera keluar dari ruangan Renan dengan kepala terus menggeleng, ia tidak habis pikir cinta bisa membuat seseorang terlihat bodoh, sepanjang perjalanan hidupnya menemani Renan, kali pertama ia melihat Renan benar-benar jatuh cinta seperti orang yang tidak waras.


“Cinta telah melupakan siapa status anda tuan,” gumam Danilo.


Sesuai janjinya kepada Renan, ia memberikan pekerjaan tambahan terhadap karyawannya yang selalu mengganggu Aruna, tetapi hasilnya tetap sama, yang ada semua pekerjaan yang telah Danilo berikan, mereka menyerahkannya pada Aruna. Hingga waktu pulang tiba Aruna masih sibuk di meja kerjanya.

__ADS_1


“Dimana Aruna?” tanya Renan pada Danilo.


“Saya pikir Aruna sudah bersama dengan tuan.”


“Aruna belum ke ruanganku, cepat cari dia.”


Danilo membuka ponselnya untuk melihat keberadaan Aruna diseluruh penjuru kantor, ia menemukannya yang ternyata Aruna tengah tertidur di meja kerjanya, nampak sangat kelelahan terlihat dari hembusan napasnya.


“Dia masih di ruangan kerjanya tuan.” Ucap Danilo seraya memberikan ponselnya kepada Renan.


“Biar aku saja yang ke sana.”


Renan segera pergi meninggalkan Danilo untuk menyusul Aruna yang sedang tertidur, sampai di sana, Renan tidak tega untuk membangunkan Aruna bangun dari tidurnya, ia berusaha menggendong Aruna membawanya ke mobil, sebelum menggendong Aruna, Renan mengeluarkan sarung tangannya, agar ketika bersentuhan dengan Aruna tidak menimbulkan efek apapun Aruna. Renan membawa tubuh Aruna layaknya seperti benda porselin yang sangat berharga, sangat hati-hati agar Aruna tidak terbangun dari tidurnya. Sampai di parkiran mobil Danilo membantu Renan membuka pintu mobilnya, Renan terus menatap wajah Aruna yang sangat menawan dimatanya, hingga saat ia hendak memasukkan Aruna ke kursi penumpang tanpa sengaja kepala Aruna terbentur dengan pintu mobil.


“Aaawww…”erang Aruna seraya turun dari gendongan Renan.“Kau ini apa-apaan sih? Ini sakit sekali,” sambungnya dengan tangan mengusap-ngusap kepalanya yang sakit.


“Maaf aku nggak sengaja, sumpah,” ucap Renan seraya mengacungkan jari tengah dan jari telunjuknya.


Aruna mendengus kesal lalu tanpa peduli dengan Renan ia masuk ke dalam mobil yang diikuti oleh Renan.


“Kenapa nggak dibangunin aja sih, benjolkan nih, jadinya,” akunya pada Renan.


Reflek Aruna memperlihatkan kepalanya yang benjol, meskipun hanya terbentur sedikit tapi membuat kepala Aruna membiru. Sesampainya di rumah Renan memberikan es batu untuk Aruna mengompres luka di kepalanya yang membiru.


“Terima kasih.”


“Sini aku bantu.”


Aruna tidak bisa menolak, ia membiarkan Renan mengompres luka di kepalanya. Diperlakukan lebih dari special oleh Renan, membuat Aruna merasakan menjadi seorang putri raja. Seumur hidupnya ia tidak pernah diperlakukan seistimewa itu.


“Aku harus ke kamar, untuk mempelajari berkas-berkas yang kau berikan.”


“Baiklah.”


 Aruna meninggalkan Renan, ia fokus di dalam kamar mempelajari dan membaca berkas-berkas yang harus ia kuasi beberapa hari lagi. Sejak kecil Aruna tidak pernah tidak serius dalam mempelajari sesuatu, ia akan giat belajar sampai ia benar-benar menguasinya. Dari balik pintu Renan tengah memperhatikan Aruna yang tengah serius belajar. Tanpa permisi Renan masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


“Besok kita akan bertemu dengan klien di hotel Blitz.”


Aruna tampak syok dengan kalimat Renan. “Apa besok? Renan aku benar-benar belum mempelajari semua berkasnya, bagaimana menjadi seorang sekertaris?”


“Aku percaya dengan kemampuanmu Aruna Isvara,” Bisik Renan ditelinga Aruna, yang otomatis membuat bulu roma Aruna berdiri.


Matahari mulai menyingsing diufuk timur, langit berwarna merah begitu indah, seorang gadis berambut sebahu menatap tampilan dirinya di depan cermin, sudah dari berjam-jam yang lalu ia bersiap-siap untuk pergi bersama Renan menemui kliennya. Berulang-ulang kali ia menyisir rambutnya menata ulang hingga beberapa kali, polesan lipstik ia juga berulang-ulang kali menggantinya.


Aruna mondar-mandir di depan meja riasnya. “Oh.. ya ampuuun apa yang harus aku katakana nanti. Bagaimana jika nanti gara-gara aku klien itu membatalkan kerja samanya? Tidak-tidak aku harus berusaha keras agar kerja sama mereka terjalin.”


Renan melipat kedua tangannya di dada memperhatikan Aruna yang sedang bermonolog, baginya ketika Aruna merasa gelisah, entah kenapa wajahnya terlihat lebih cantik.


“Apa yang sedang kau lakukan?”


Pertanyaan Renan membuat Aruna terlonjak kaget, hingga ia sampai mengusap dadanya.“Kau ini sukanya buat jantung orang copot.. Renan bagaimana dengan penampilanku?”


Renan menekan pundak Aruna meyakinkannya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.“Sempurna.”


Hanya satu kata yang Renan ucapkan tapi mampu membuat hati Aruna serasa melayang di udara dengan ribuan kupu-kupu yang menemaninya. Mobil sedan berwarna hitam membelah jalanan ibu kota yang padat akan kendaraan beroda empat dan dua, Danilo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesampainya ditempat tujuan Renan segera memilih meja yang akan digunakan untuknya meeting bersama dengan kliennya. Aruna duduk di sebelah Renan yang tampak berkeringat dingin, kebiasaannya ketika cemas ia akan meremas jari-jemarinya untuk menghilangkan rasa gugupnya. Renan yang tau Aruna sedang dilanda kecemasan rasanya ia ingin sekali menggenggam tangan itu, namun ia tidak bisa melakukannya karena tidak memakai sarung tangan.


“Tenanglah semua akan baik-baik saja.”


“Tapi aku—“


“Itu dia sudah datang,” tunjuk Renan pada salah satu pengunjung yang baru saja masuk dengan penampilan yang sama persis seperti Renan. Sedangkan Aruna tidak berani untuk melihatnya, ia masih belum siap jika nantinya ia akan memberikan kesan yang buruk bagi klien Renan.


“Selamat pagi tuan Renan,” sapa orang itu.


“Pagi, silahkan duduk!” titah Renan pada kliennya yang baru saja tiba.


Hingga sampai orang itu berhadapan dengan Renan, Aruna sama sekali tidak berani mentapnya, ia terus menunduk ke bawah melihat lantai.


“Perekanalkan ini sekertaris saya, Aruna Isvara. Dan Aruna kenalkan ini tuan Pedri Tores pemilik perusahan Tores Itek.”


“Aruna? Kau Aruna adiknya Gloria‘kan? Ini aku Pedri.”

__ADS_1


Mendengar suaranya sangat familiar di telinganya, Aruna berani menatap orang yang telah memanggil namanya dan Gloria, sepertinya ia mengenali suara itu.


“Pedri?” batin Aruna lirih.


__ADS_2