MY CEO ALIEN

MY CEO ALIEN
BAB 5 Darah Suci


__ADS_3

Danilo segera membawa Renan pulang ketika Renan tidak sadarkan diri, alih-alih membawanya ke UGD Danilo malah membawa Renan pulang ke rumah. Aruna mulai bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa Danilo membawa Renan pulang? Sebenarnya Renan sakit apa?


"Ini salahku, pasti Pak Renan alergi makanan yang aku kasih," keluh Aruna.


Sebelum pergi ke kantor Aruna pulang terlebih dahulu untuk mengganti bajunya, diantar oleh Alfaro yang kebetulan ia juga harus membuka tokonya.


"Runa, sebaiknya sepulang dari kantor kamu jenguk Pak Renan, Ayah juga merasa bersalah telah membuat Pak Renan sakit karena Ayah yang menyuruhnya makan di kantin rumah sakit."


"Mudah-mudahan saja Pak Renan sudah sembuh dan masuk kantor Yah."


Gadis berambut sebahu dan berponi memasuki perusahaan Tekno Intel dengan perasaan cemas, ia berharap hari ini Renan masuk kantor, agar ia tidak terlalu merasa bersalah karena telah membuat Renan pingsan. Tapi hingga matahari sudah berada tepat di atas kepala, Renan tak juga memperlihatkan batang hidungnya begitupun dengan Danilo. Aruna hanya tau kabar dari rekan kerjanya jika bos mereka tidak masuk kantor karena sedang sakit.


"Pulang dari kantor aku harus jenguk Pak Renan, bodoh kenapa waktu itu aku paksa dia makan," rutuknya pada diri sendiri.


Bermodalkan nekat Aruna mendapatkan alamat rumah Renan, yang ternyata terletak di perumahan elite di kawasan Bintaro.


"Gila ini sih jauh banget," keluh Aruna.


Bagaimana ia bisa sampai di rumah Renan, sedangkan uang di dompetnya saja hanya cukup untuk naik angkutan umum. Di rumah Renan, Renan sedang terbaring lemah, wajahnya pucat, kelopak matanya menghitam, sepanjang malam Renan tidak bisa tidur akibat perutnya yang tidak bisa menerima makanan manusia biasa.


"Tuan, anda kalau mau bunuh diri jangan di tempat umum, untung saja dokter belum memeriksa anda, kalau sampai mereka mengetahuinya pasti kita sudah di kirim ke laboratorium untuk penelitian mereka."


"Berisik!"


"Tuan, anda kan, bisa menolak untuk tidak makan makanan itu, kenapa anda tetap memakannya?"


"Sekali lagi mulutmu bicara, aku pastikan besok kau tidak bisa bicara lagi!"


Baru saja Danilo hendak menyahuti ucapan Renan, tetapi suara bel pintu rumahnya mengalihkan atensinya.


"Kenapa ada orang datang ke sini?" gumam Danilo.


Danilo melihat CCTV yang terpasang di luar pintu utama untuk melihat orang yang tengah berkunjung ke rumah Renan, pasalnya Renan tidak pernah mengizinkan siapapun untuk berkunjung ke rumahnya, terlihat gadis berambut sebahu dan berponi sedang berdiri kaku di depan pintu.


"Aruna ada di depan tuan? Apa yang harus saya lakukan?"


"Dasar bodoh, cepat buka pintunya."

__ADS_1


"Tapi tuan--"


Hanya dengan menatapnya sengit membuat Danilo menurut akan perintah Renan.


"Semoga saja demi untuk mendapatkan darah suci, tuan Renan tidak memakai hatinya pada gadis itu," ucap Danilo dalam hati.


"Selamat malam tuan Danilo, saya ingin menjenguk tuan Renan apakah bisa?"


"Silahkan masuk!"


Aruna masuk ke dalam rumah dua lantai bercat putih yang megah dan artistik, Model rumahnya sangat klasik, terlihat dari lampu gantung yang ada di ruang tamu, serta lemari-lemari antik yang terpajang di sana. Aruna menatap takjub semua benda yang ada di rumah itu, pasti untuk mendapatkan lemari-lemari antik itu, Renan rela mengeluarkan banyak uang.


"Tuan, dimana tuan Renan?"


"Banyak tanya kau ini."


"Tuan dari tadi saya sudah mengikuti anda, dan anda hanya mengajak saya memutar-mutar rumah ini."


Akhirnya Aruna sampai di kamar Renan, kamarnya terletak paling ujung di lantai dua. Jika nanti Aruna pulang ia harus meminta bantuan Danilo ataupun Renan, karena jika tidak sudah di pastikan ia akan tersasar di dalam rumah.


"Tuan maafkan saya, karena saya anda jadi--"


Aruna menatap lekat wajah Renan yang pucat, bibir yang kering dan kelopak mata yang menghitam. Ia merasa kasihan dan iba, apakah Danilo tidak merawatnya dengan benar?


"Tuan apa ada yang bisa saya bantu?" Renan menggeleng lemah.


"Tapi tuan anda terlihat sangat kesakitan," ucap Aruna seraya memegang dahi Renan, Aruna merasa suhu tubuh Renan dingin sedingin es. Ia pun mengerutkan keningnya, bukankah jika orang sakit suhu tubuhnya memanas? Kenapa Renan malah mendingin?


Ketika Aruna menempelkan tangannya di dahi Renan, kembali Renan merasakan sengatan seperti aliran listrik yang masuk ke dalam tubuhnya, dan tidak sampai lima detik Renan telah kembali membaik dan saat itu juga Aruna merasa suhu tubuh Renan berubah menghangat.


"Tuan kenapa suhu tubuh anda berubah-ubah? Sebentar dingin sebentar hangat."


"Oh.. I-itu mungkin karena efek obat yang sudah saya konsumsi."


Aruna mengangguk paham, kini wajah yang pucat itu telah berubah cerah seperti semula, entah hanya perasaan Aruna atau memang wajah Renan benar-benar telah berubah karena ia telah kembali sehat.


"Tuan anda--" tanya Danilo yang baru saja masuk ke dalam kamar Renan.

__ADS_1


"Saya sudah sembuh, berkat--" Renan sedikit melirikkan bola matanya pada Aruna.


"Benar-benar wanita super tuan, dalam sekejap langsung bisa menyembuhkan anda tuan."


"Maksud tuan Danilo wanita super siapa tuan?" tanya Aruna dengan polosnya.


"Oh.. Danilo hanya sedang membicarakan film drakor yang baru saja kami tonton."


"Tuan ini sudah malam, saya harus segera pulang, syukurlah sekarang anda sudah lebih membaik."


"Aaww..." Erang Renan yang seketika membuat Danilo dan Aruna khawatir.


"Tuan anda kenapa? Apa yang harus saya lakukan tuan Danilo?"


Ketika Aruna sedang mengkhawatirkannya Renan mengedip-ngedipkan matanya pada Danilo, memberikan isyarat bahwa dirinya baik-baik saja. Itu hanya alasan agar Aruna masih tetap tinggal di sana.


Danilo menghembuskan napas kasar. "Kau saja yang urus, saya masih banyak pekerjaan lain."


Danilo melenggang pergi meninggalkan kamar Renan, tanpa sedikitpun mengkhawatirkan keadaan Renan, yang otomatis membuat Aruna mendengus kesal, karena ia tidak tau apa yang harus dilakukannya.


"Tuan, tuan Danilo apa yang harus saya lakukan?" teriak Aruna.


Danilo tetap tidak menggubris teriakan Aruna, ia dengan sengaja menutup pintu kamarnya kencang.


"Tuan, kenapa anda tetap memperkerjakan tuan Danilo? Lihat dia pergi begitu saja tanpa peduli keadaan anda," protes Aruna.


"Biarkan saja, mungkin dia lelah seharian mengurus saya."


"Sekarang apa yang harus saya lakukan tuan?"


Renan terlihat berpikir sejenak, ia harus meyakinkan Aruna bahwa ia masih dalam keadaan sakit.


"Kau tidak usah melakukan apapun, temani saja saya di sini."


"Tapi tuan sekarang sudah malam."


"Tenang saja Danilo yang akan mengantarkan kau pulang."

__ADS_1


Renan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, ia berpura-pura memejamkan matanya, meyakinkan Aruna bahwa ia sudah tertidur, tapi lambat laun Aruna yang duduk di sopa di samping ranjang Renan, tanpa terasa ia mulai memejamkan matanya. Ia berusaha terjaga untuk memantau kondisi Renan, tetapi yang terjadi malah sebaliknya Renan yang sedang memperhatikan Aruna yang sedang tertidur lelap di atas sopa. Renan menyelipkan surai Aruna yang menjuntai ke depan wajahnya ke belakang telinganya. Menatap lekat gadis yang akan membantunya pulang ke planet asalnya.


"Siapa kau sebenarnya? Hingga memiliki darah yang suci."


__ADS_2