
Setiap hari Aruna harus bangun pukul empat dini hari, untuk mengerjakan pekerjaan rumah agar pergi ke kantor tidak terlambat, saking terlalu seringnya mendapat bentakan dari Renan membuat dia harus cepat dalam bekerja dan supaya Gloria tidak meninggalkannya lagi. Pukul enam, sarapan pagi sudah tersaji di atas meja makan membuat Gantari menyunggingkan bibirnya.
"Nah, gitu dong kalau bangun lebih awal kan, Ibu seneng."
Aruna hanya sedikit tersenyum semir, lalu ia kembali ke kamar untuk bersiap-siap ke kantor. Baru saja tangannya
membuka pintu kamarnya tiba-tiba ponselnya berdering.
"Pak Renan," gumam Aruna.
Aruna menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel pada telinganya.
"Halo--"
Aruna baru saja mengucapkan satu kata, tapi Renan sudah menyemprotnya.
"Jangan sampai terlambat, hari ini kita akan bertemu dengan klien."
"Baik Pak."
Ketika panggilan teleponnya sudah terputus, Aruna bergegas mengganti bajunya dengan setelan kantor. Aruna
berangkat ke kantor lebih awal dari Gloria, ia tidak ingin mengambil resiko ketika Renan sering memarahinya di depan umum.
"Yah, Bu, Runa pergi duluan," pamit Aruna.
"Kenapa terburu-buru Runa?" tanya ayah.
"Ada meeting mendadak, Yah."
"Ya, udah hati-hati di jalan."
Gloria tidak acuh terhadap Aruna, yang pergi ke kantor dengan tergesa-gesa. Aruna segera pergi dengan ojek online yang sudah dipesannya.
"Ke kantor Tekno Intel, ya Pak. Tolong cepat sedikit Pak bawa motornya."
"Oke, neng."
Pria paruh baya yang memakai jaket berwarna hijau, melajukan motornya dengan kecepatan lumayan tinggi. Aruna
sampai di kantor tepat pukul tujuh. Ia bergegas naik ke lantai atas menuju ruangannya.
"Untung saja," ucap Aruna seraya mengusap dadanya lega.
Aruna masuk ke dalam ruangan yang masih kosong, ia segera mempersiapkan berkas-berkas yang akan dibawanya untuk bertemu dengan klien. Dirasa sudah semuanya dipersiapkan dengan baik, Aruna baru bisa bernapas dengan normal. Baru saja Aruna bernapas dengan normal Renan yang diikuti Danilo muncul dari balik pintu membuat Aruna sedikit terjengkat kaget.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Renan.
"Sudah Pak!"
Renan mengangguk ramah, membuat Aruna Tersenyum senang, karena ia tidak melakukan kesalahan.
__ADS_1
"Ayo, kita berangkat sekarang!"
Aruna mengikuti langkah kaki Renan yang lebar, ia mengekor di belakangnya. Setelah sampai di salah satu restaurant tempatnya meeting, Renan meminta semua berkas yang telah dipersiapkan Aruna, ia memeriksa semuanya sebelum rekan bisnisnya tiba.
Renan memijit pangkal hidungnya. "Kemana berkas yang sudah aku revisi Aruna?"
"Saya sudah membawa semuanya, kok Pak."
"Lihat sendiri!"
Aruna membuka satu persatu berkasnya, dan ternyata benar salah satu berkas yang cukup penting tidak dibawanya.
"Maaf Pak, berkasnya tertinggal satu. Saya akan kembali ke kantor mengambil berkasnya."
Sebelum Renan mengiyakan perkataannya, Aruna segera berlari keluar mencari taksi dan segera kembali ke
kantor.
"Bodoh, kenapa berkas sepenting itu kau tinggal Aruna," gerutunya pada diri sendiri.
Tidak peduli orang-orang yang menatapnya aneh, Aruna terus berlari agar segera sampai ke ruangannya, mengambil berkas dan segera kembali memberikan berkasnya pada Renan.
"Runa kau mau kemana?" tanya Zora ketika melihat Aruna berlari ke luar pintu utama perusahaan Tekno
Intel.
Aruna tidak menjawab, ia hanya melambaikan tangannya, dan segera menaiki taksi yang telah menunggunya. Sesampainya di sana ia langsung memberikan berkasnya kepada Renan, dan untung saja rekan kerja yang akan bekerja sama dengan Renan belum tiba.
Renan menerima berkasnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Membuat Aruna menghembuskan napas kasar. Setelah beberapa menit kedatangan Aruna memberikan berkas kepada Renan, pria paruh baya yang kira-kira usianya sama seperti Alfaro menghampiri Renan.
"Selamat pagi tuan Renan, maaf sedikit telat tadi di jalan macet."
"Tidak masalah Pak, santai saja. Saya juga belum lama tiba," ucap Renan seraya melirik ke arah Aruna, sepertinya Renan sedang menyindir Aruna.
Seperti biasa, ketika meeting Aruna akan diam, jika Renan menyuruhnya berbicara baru ia akan mengeluarkan suaranya.
"Baiklah Pak Renan, senang bisa bekerja sama dengan anda."
"Sama-sama, saya juga senang."
Pria paruh baya yang menjadi rekan bisnisnya Renan pergi dari restaurant setelah perjanjian kerja sama terjalin.
"Apa kita langsung kembali ke kantor sekarang Pak?" tanya Aruna.
"Ialah, memangnya kau berharap kita kemana?"
Aruna menggelengkan kepalanya cepat, ia salah telah bertanya. Saat mereka baru saja berdiri dari atas kursinya,
Pedri tiba di restaurant itu pula, entah apa yang akan dilakukannya di sana.
"Aruna kau di sini juga?" sapa Pedri dengan tersenyum hangat.
__ADS_1
Aruna mengangguk seraya membalas senyuman Pedri. "Kita baru saja selesai meeting di sini."
"Tinggallah sebentar lagi, aku akan mentraktirmu makan."
"Maaf aku tidak bisa," Aruna melirik ke arah Renan yang ternyata ia langsung mendapatkan tatapan bengis dari Renan.
"Maaf tuan Pedri, kami masih banyak pekerjaan, tidak bisa berlama-lama di sini."
Aruna terperangah atas ucapan Renan, kenapa Renan bisa mengingat Pedri, tapi tidak bisa mengingat dirinya. Renan segera pergi meninggalkan Pedri dan diikuti oleh Aruna dan juga Danilo. Renan ingat bahwa dia pernah bekerja sama dengan Pedri, tapi ditengah-tengah dia mengingat kejadian bersama dengan Pedri di dalam benaknya ada sesuatu yang terlupakan.
"Aaarrrrrgggg," Renan menggusar rambutnya prustasi.
"Tuan, apa tuan tidak apa-apa?" tanya Danilo.
"Tidak! Ayo, cepat kita harus kembali ke kantor."
Aruna menatap Renan dari arah samping, bukankah itu kesempatan bagus karena Renan tidak bisa mengingat
dirinya, dan dia bisa terbebas dari pria berambut cokelat pemilik perusahan Tekno Intel. Tapi kenapa dia merasa ada yang hilang dalam dirinya? Saat tiba di kantor, seorang wanita cantik dengan tubuh yang tinggi datang menyambutnya.
"Renan, aku sengaja ke sini karena aku rindu padamu," ucap Vela seraya menggandeng tangan Renan. Renan tidak menolak dia membiarkan wanita cantik bertubuh tinggi menggandengnya dan membawanya masuk ke dalam kantor.
Tiba-tiba saja hati Aruna terasa terbakar, kenapa dia masih berharap Renan untuk mengingatnya, harusnya dia
senang bukan?
"Tuan Danilo tunggu, kenapa Renan mengingat semua orang, sedangkan padaku dia sama sekali tidak mengingatku?"
Danilo menarik napas dalam. "Aruna, tuan Renan memang mengingat semua orang yang ada dalam kehidupannya, kecuali kau, karena darah sucimu sudah masuk ke dalam tubuhnya."
Aruna tidak mengerti, dia hanya membantunya memberikan darahnya agar Renan bisa kembali sembuh, tapi kenapa Renan bisa lupa kepadanya.
"Apa sampai selamanya dia tidak akan mengingatku lagi?"
"Mungkin--"
"Memangnya apa yang salah dengan darahku tuan Danilo?"
"Tidak ada yang salah dengan darahmu, malah darah kau lah, yang menyelamatkan tuan Renan untuk hidup kembali."
"Aku tidak apa-apa jika dia melupakanku, tapi bilang padanya jangan selalu membentakku."
Danilo tersenyum mengejek atas permintaan Aruna, Danilo memang selalu menjadi saksi dimana Renan tengah
membentak dan memarahinya.
"Makannya kau kerja yang betul."
Danilo melenggang pergi meninggalkan Aruna yang mematung.
"Enak saja, aku sudah kerja dengan benar, dan aku tidak memintanya untuk menjadikanku sekertarisnya, salahnya sendiri kenapa memintaku menjadi sekertarisnya."
__ADS_1