MY CEO ALIEN

MY CEO ALIEN
BAB 32 Rencana Kedua


__ADS_3

"Pak beri aku kesempatan untuk menunjukkan ulang rekaman cctvnya."


"Jangan menuduhku sembarangan Aruna, semuanya sudah jelas aku tidak menghapus data itu."


"Pak aku mohon--"


Aruna terus mengiba kepada Renan agar dia mau memberikannya kesempatan membuktikan bahwa ia tidak sembarangan menuduh orang. Aruna tidak peduli kepada Vela yang terus menyangkalnya dan membalikkan fakta. Seketika pria berambut cokelat itu menghentikan langkah kakinya.


"Aku tidak mempunyai waktu untuk menonton rekaman yang tidak bermanfaat itu, waktuku sangat berharga."


"Pak tapi aku tidak sembarangan menuduh, aku berani bersumpah."


"Sekalipun semuanya benar," Renan menatap Vela sejenak. "Aku tidak peduli, data itu sudah tidak penting lagi," sambungnya.


Aruna menatap nanar pria berambut cokelat yang kini sedang berjalan meninggalkannya, dadanya bergetar hebat, ia tidak terima jika ucapannya hanya dianggap sebuah kebohongan.


"Sekalipun itu benar, Renan hanya akan percaya padaku Aruna."


Ucapan Vela beberapa kali sering berdengung di telinganya, membuat Aruna tidak bisa konsentrasi dalam bekerja.


"Apa yang harus aku lakukan," gumam Aruna.


Setelah berhasil menjalankan rencana pertamanya, kini Vela kembali mengatur rencana keduanya, ia ingin Renan tidak lagi mempercayai Aruna dan ingin mengeluarkan Aruna dari kantor tekno intel secara diam-diam.


"Aku harus segera mengatur rencana selanjutnya," ucap Vela dalam hati seraya menatap gadis berambut sebahu yang sedang berkutat dengan laptopnya.


"Aruna simpan berkas ini baik-baik. Ini adalah berkas penting yang akan kita bawa meeting esok hari," ujar Danilo seraya memberikan map berwarna hijau pada Aruna.


"Baik."


Seketika bibir Vela tersungging ke atas, ia akan menjalankan rencananya. Tanpa harus diminta nasib baik sedang berpihak padanya. Aruna memasukkan map pemberian Danilo ke dalam laci mejanya. Ketika pulang ke rumah, Gantari sudah menyiapkan beberapa pekerjaan untuknya, tanpa bisa menolak dan membantah meski badannya butuh istirahat tapi ia memaksakan diri untuk tetap mengerjakan pekerjaan yang telah Gantari suguhkan.


"Aku capek Bu, bikinin jus dong pasti seger," keluh Gloria.


"Aruna.. Aruna..."


"Iya Bu kenapa?"


"Bikinin minuman jus untuk Glori."


"Iya Bu."


Pada hal pekerjaan yang satu belum juga selesai ditambah pekerjaan yang lainnya, tapi Aruna dengan sabar menjalankan semuanya, terkadang ia butuh oksigen untuk sekali saja bernapas lega, gadis berambut sebahu itu menjadi teringat semasa dirinya tinggal di rumah Renan, ia sama sekali tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, di sana ia diperlakukan bak seorang putri.


"Ah, kenapa jadi ingat dia," gumam Aruna.

__ADS_1


"Aruna buruan lama banget haus, nih."


"Iya sebentar lagi selesai."


Ketika minuman yang ia buat sudah jadi, Aruna bergegas membawanya pada Gloria.


"Ini minumannya."


"Jus apa ini?"


"Itu jus mangga, tidak ada buah lagi di dalam kulkas hanya tersisa itu."


Gloria menenggak minumannya hingga tandas, membuat Aruna menelan ludahnya dengan susah payah, pasti rasanya sangat segar sekali.


"Apa kau mau?" tanya Gloria.


Aruna mengangguk pelan. "Mau."


"Nih es batunya doang, ha..ha..ha..."


Sambil tertawa Gloria meninggalkan Aruna yang tengah memegang gelas yang hanya berisi es batu bekas Gloria. Aruna kembali ke dapur ia membuat jus yang baru untuk dirinya, tapi saat ia akan meminumnya Gantari datang merebutnya dari tangan Aruna.


"Bu, sisain dikit buat Runa," pinta Aruna.


"Itu kan di dalam kulkas masih banyak air putih, jadi orang jangan belagu segala pengin minum jus."


"Tidak pa-pa lain kali minum jusnya," Aruna memotivasi dirinya sendiri.


Selesai berkutat di dapur Aruna membersihkan dirinya dan berganti pakaian memakai piyama, ia ingin segera merebahkan tubuhnya di atas kasur, tapi saat ia sedang menyisir rambutnya tiba-tiba saja Gantari masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Runa, Ibu minta duit, dong buat besok belanja sayur, Ayah kamu belum ngasih jatah bulan ini, katanya toko lagi sepi."


"Runa belum gajian Bu, gajian seminggu lagi."


"Gaji bulan kemarin pasti masih ada kan? Kamu kan jarang belanja pasti kamu simpanan kan?"


Aruna menghela napas panjang seraya mengambil dompetnya yang ada di dalam tas. "Segini dulu, ya Bu." Aruna memberikan uang berwarna merah lima lembar kepada Gantari.


"Kok cuma segini, sih? Itu di dalam dompet masih ada," Gantari mengambil seluruh uang yang ada di dalam dompet Aruna.


"Bu, jangan diambil semuanya itu ongkos buat Runa sampai bulan depan."


"Nanti minta ganti sama Ayah, uang ini Ibu pake dulu."


"Tapi Bu--"

__ADS_1


Kalimat Aruna terhenti bersamaan dengan menutupnya pintu kamar. Aruna tidak pernah berani meminta ganti kepada Alfaro karena ia tidak mau menambah beban ayahnya.


"Semua uang diambil sama Ibu, terus besok aku gimana?"


Meski Aruna dan Gloria satu kantor, tapi Gloria tidak pernah menawarinya menumpang di mobilnya, kecuali ketika alfaro kebetulan belum berangkat ke toko, maka Gloria akan memainkan dramanya. Pagi-pagi sekali Alfaro sudah kembali berangkat ke toko, semangat berwirausahanya masih tinggi, karena ia mempunyai keluarga yang selalu menunggunya di rumah berharap penghasilan hari ini lebih baik dari hari kemarin. Sebelum berangkat ke toko Alfaro sempat menghampiri Aruna yang tengah memasak di dapur.


"Kerja yang semangat Runa, mumpung masih muda raih cita-citamu setinggi-tingginya tidak ada yang mustahil kalau kita berusaha, pepatah mengatakan kejarlah dunia seolah kau akan hidup seribu tahun," ujar Alfaro seraya mengusap puncak kepala Aruna.


"Ayah jangan terlalu capek, ingat usia Ayah udah nggak lagi muda, kerja sewajarnya aja," ujat Aruna seraya tersenyum simpul.


Ayah dan anak itu saling menumpahkan rasa rindunya, mereka satu rumah tapi sepertinya jarang sekali bertemu, mereka hanya akan bertemu pagi hari dan malam hari menjelang akan tidur.


"Gloria boleh aku menumpang denganmu?"


"Aku pikirkan dulu, berdoa saja semoga hari ini moodku baik."


"Aku mohon kali ini saja boleh, ya? Hari ini aku harus meeting dengan Pak Renan."


"Dengan satu syarat."


"Syarat apa?"


"Aku mau kau mengatur pertemuanku dengan Pedri."


Aruna sedikit berpikir sejenak tapi untuk sekarang tidak ada pilihan yang lebih baik selain menuruti permintaan Gloria.


"Baiklah aku akan mengatur pertemuanmu dengan Pedri setelah pulang kantor."


"Oke akau setuju."


Akhirnya Aruna pergi ke kantor bersama dengan Gloria, Aruna bergegas pergi ke ruangannya mempersiapkan berkas-berkas yang akan ia bawa meeting bersama dengan Renan.


"Oh, iya map warna hijau hampir saja aku lupa," gumam Aruna seraya mengeluarkan map berwarna hijau di dalam laci mejanya.


"Apa kau sudah mempersiapkan semuanya sesuai dengan permintaanku?"


"Sudah Pak."


"Meeting kali ini di perusahaan tores itek."


"Tores itek? Itukan perusahaan Pedri."


"Ada apa? Apa kau sangat senang akan datang lagi ke perusahaan tores itek?"


Sindiran Renan tidak berarti apa-apa bagi Aruna, ia menganggapnya seperti angin lalu, karena memang ia tidak merasakan debaran apa pun ketika bertemu dengan Pedri. Semua pemilik perusahaan masuk ke dalam ruangan meeting, sekitar ada lima perusahaan yang akan beradu tender di sana, termasuk perusahaan Renan dan juga perusahaan Pedri.

__ADS_1


"Silahkan promosikan proposal yang telah kalian buat," ucap seorang moderator.


Masing-masing perusahaan mendapat waktu untuk mempromosikan proposalnya, tiba saatnya giliran Renan, ia meminta Aruna mengeluarkan map berwarna hijau yang telah disiapkannya. Tapi tiba-tiba saja Renan melempar map tersebut pada wajah Aruna, membuat Aruna menunduk takut, semua pasang mata yang ada di dalam ruangan itu saling pandang dan bergumam.


__ADS_2