
Malam yang ditaburi bintang-bintang membuat malam itu kian sempurna. Aruna pulang ke rumah dengan membawa beberapa tote bag, membuat Gloria yang sedang menonton televisi mengalihkan atensinya pada Aruna.
"Wah-wah hebat lo, pulang bawa segitu banyak barang-barang baru, mana branded semua."
"Ini pemberian Pedri."
"Apa? Pedri?"
"Jadi semua barang-barang ini Padri yang beliin buat lo?"
Spontan Aruna mengangguk, tanpa membuang waktu Gloria bangkit dari duduknya dan mengambil salah satu tote bag milik Aruna.
"Yang ini buat gue."
Gloria melenggang pergi begitu saja dengan menenteng tote bag, Aruna tidak tau barang apa yang dibawa oleh Gloria. Dan tiba-tiba saja Gantari juga merebut salah satu tote bag dan membuka isinya, senyum senang menghiasi wajahnya yang sudah tidak terlihat lagi muda.
"Nah, kalau tas yang ini cocok buat Ibu."
"T-tapi Bu itu--"
"Ya elah, jangan pelit-pelit jadi anak, nyenengin orang tua dapat pahala kamu."
Gadis berambut sebahu tidak bisa mengelak, ia membiarkan saudara tiri dan ibu tirinya mengambil hadiah pemberian Pedri. Yang tersisa hanya dua tote bag berukuran kecil, yang mana di dalamnya ada jam tangan dan sepatu.
Matahari sudah menyingsing di ufuk timur, seperti biasa Aruna sudah menyiapkan sarapan pagi dan membersihkan rumah, dan sekarang ia tinggal berangkat ke kantor, terdengar bunyi suara klakson dari luar rumahnya, Aruna segera melihat ke luar dan ternyata Pedri sudah berada di sana. Aruna tidak sempat untuk sarapan pagi, karena ia merasa tidak enak jika Pedri menunggunya terlalu lama.
"Runa, pergi dulu!" pamit Aruna kepada Alfaro dan Gantari seraya membawa kotak bekal makannya.
"Hati-hati di jalan, bilang sama temanmu kapan-kapan ajak sarapan bersama di sini."
"Iya, Yah."
Gloria yang melihat Pedri kembali menjemput Aruna, ia menghentakkan kakinya tidak terima jika Aruna dekat dengan mantan kekasihnya yang ternyata sekarang sudah menjadi pengusaha kaya.
"Gue nggak terima Pedri lebih milih lo dari pada gue, gue harus melakukan sesuatu supaya Pedri menjauh dari Aruna," gumam Gloria.
"Apa aku terlalu pagi, datang ke sini?" tanya Pedri.
Aruna tersenyum simpul. "Sedikit hehehe."
"Maaf aku terlalu bersemangat untuk bertemu denganmu, jadi aku bangun lebih awal," akunya kepada Aruna.
"Bukankah seorang atasan memang harus memberi contoh yang baik untuk para pegawainya, salah satunya dengan datang ke kantor lebih awal."
"Apa kau tidak ada niatan untuk pindah ke perusahaanku?"
Tawaran yang sangat menggiurkan bagi Aruna, jika saja ia tidak terikat kontrak dengan denda lima milyar, pasti ia sudah menerima tawaran Pedri. Namun sayangnya tidak bisa.
__ADS_1
"Aku sudah terikat kontrak kerja dengan perusahaan tekno intel, jadi tidak bisa seenaknya pergi meninggalkan kantor itu, aku harus menjadi orang yang bertanggung jawab atas semua pekerjaanku."
Pedri menganggukkan kepalanya ia mengiyakan ucapan Aruna. "Jika aku memiliki pegawai sepertimu, yang mempunyai semangat bekerja yang tinggi, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari kantor. Apa Renan melakukan hal seperti itu?"
"T-tidak! Sejak awal aku masuk ke perusahan tekno intel aku sudah menandatangi kontrak kerja jauh sebelum mengenal pemilik perusahan tekno intel."
Mobil terus melaju dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu pelan, karena jalanan di pagi hari memang lebih sering macet, banyaknya para pekerja kantor yang akan berangkat ke kantor dan juga anak sekolahan yang akan bersekolah, membuat jalanan begitu ramai. Tidak mau membuang waktu Aruna membuka kotak bekal makannya dan hendak makan di dalam mobil.
"Aku belum sempat sarapan, tidak apa kan aku makan di sini?"
"Tentu saja Aruna, kau makan saja."
Ketika lampu lalu lintas berwarna merah, Pedri menghentikan laju mobilnya, yang kebetulan di samping mobil Pedri ada mobil Renan, Aruna dan Pedri tidak memperhatikan mobil yang ada di sampingnya, dan mereka tidak tau jika di dalam mobil tersebut adalah Renan dan Danilo yang duduk di kursi kemudi. Aruna nampak menikmati makanannya hingga Pedri menelan ludahnya dengan susah payah melihat Aruna yang sedang makan begitu nikmat.
"Kenapa? Kau mau?" tanya Aruna.
"Boleh?"
"Tentu saja."
Aruna menyuapkan sepotong roti sandwich pada Pedri, yang otomatis Renan dapat melihatnya karena jendela mobil Pedri memang sengaja dibuka sedikit.
"Apa dia tidak punya tangan? Makan saja harus disuapi?" gerutu Renan.
"Apa apa tuan?"
Danilo mengikuti perintah Renan, ia melihat ke arah kiri, dimana Aruna sedang menyuapi Pedri makan. Membuat Danilo merasa tegang, ia takut jika Renan tersulut emosi maka akan berbahaya bagi dirinya dan juga orang lain.
"Apa yang harus saya lakukan tuan?"
"Tidak ada!"
Sesampainya di perusahaan tekno intel, mobil Renan dan juga mobil Danilo datang beriringan, seperti biasanya Pedri akan selalu membukakan pintu mobil untuk Aruna, jelas saja Renan sangat tidak suka melihatnya.
"Selamat pagi tuan Renan."
"Pagi tuan Pedri, apa anda tidak ada kegiatan lain selain mengantar jemput pegawaiku?" sindir Renan seraya melenggang pergi meninggalkan Pedri.
"Aku harus masuk, karena atasanku sudah datang."
"Baiklah, pulang kantor aku akan menjemput lagi."
Aruna mengangguk sambil tersenyum dan pergi meninggalkan Pedri. Pedri menatap kepergian gadis berambut sebahu yang telah mencuri hatinya.
"Aruna aku harus bisa mendapatkanmu."
Aruna masuk ke dalam ruangannya, saat melangkahkan kakinya satu langkah, entah mengapa ia merasa memasuki dunia lain, seperti sedang berada di dunia fantasi. Rasanya begitu dingin dan sunyi. Ia berusaha memberanikan diri membuang semua sugesti negatif yang ada pada dirinya, berpikir positif yang akan menjernihkan pikirannya.
__ADS_1
"P-permisi P-pak"
"Aruna!"
Seketika Aruna terjengkat kaget mendengar suara yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
"I-iya P-pak?"
"Saya ingin kembali membicarakan kontrak kerja denganmu?"
"Kontrak kerja Pak?"
Renan mengangguk dan segera menyuruh Aruna duduk di kursi yang ada di depan mejanya.
"Selain kontrak kerja yang kemarin kita bahas, kamu juga masih mempunyai kontrak kerja yang lainnya."
"Yang lain? Kontrak apa itu?"
"Baca saja sendiri."
Aruna membaca secara seksama kontrak kerja yang diberikan Renan kepadanya, tulisannya memang sangat berbeda dengan kontrak kerja yang kemarin telah mereka bahas. Aruna masih tidak paham ia sampai membacanya berulang-ulang kali untuk memahami setiap kalimatnya.
Selama bekerja di perusahaan tekno intel tidak boleh berpacaran apa lagi sesama pegawai.
Boleh berpacaran tapi dengan syarat atas persetujuan pemilik perusahaan tekno Intel.
Aruna masih tidak percaya, sejak kapan ia menandatangani kontrak kerja seperti itu, tapi di kertas tersebut memang sudah terdapat tanda tangan dirinya.
"Pak, anda jangan coba-coba membodohi saya? Mana ada kontrak kerja seperti itu."
"Apa untungnya saya membodohi kamu? Buat saya kaya? Nggak kan? Saya hanya ingin para pegawai saya fokus pada pekerjaannya," Renan menghela napas sejenak. "Dan di kontrak kerja itu juga saya masih memberikan toleransi bagi para pegawai saya jika memang mereka mau berpacaran harus dengan izin dari saya."
Setuju atau pun tidak setuju yang jelas Aruna sudah membubuhi tanda tangannya pada kontrak kerja tersebut. Memang pada saat menandatangani kontrak Aruna tidak benar-benar membacanya, ia hanya berpikir ingin segera mendapat pekerjaan dan mendapat gaji.
"Kalau gini caranya, bisa jadi perawan tua dong."
__ADS_1