MY CEO ALIEN

MY CEO ALIEN
BAB 7 Kucing Hitam


__ADS_3

"Tuan, anda mau kemana?" tanya Danilo.


Renan tak mengindahkan pertanyaan Danilo, ia segera berlari untuk menolong Aruna. Danilo yang melihat Renan melenggang pergi tanpa peduli ucapannya, ia juga segera menyusul Renan.


"Aruna apa kau di dalam?" tanya Renan ketika sampai di depan piket.


"T-tuan t-tolong saya," jawab Aruna lemah.


"Awas kau minggir, saya akan mendobrak pintunya."


Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Aruna menggeser tubuhnya, wajahnya yang bermake-up kini berubah menjadi pucat, bibirnya yang berwarna merah jambu, kini berubah menjadi biru, rambut sebahunya yang tersisir rapi kini berantakan disertai kucuran keringat.


Brak


Renan berhasil membuka pintu bilik toilet, entah siapa yang mengunci pintu toilet dari luar.


"Siapa yang menguncimu di dalam?"


"S-saya-- tidak tau tuan tiba-tiba sa--"


Aruna terjatuh dan tidak sadarkan diri, untung saja Renan dengan sigap menangkap tubuhnya yang tiba-tiba saja tidak sadarkan. Renan segera membawa Aruna ke dalam ruangannya dan memanggil dokter pribadi perusahaan Tekno Intel.


"Bagaimana keadaannya dok?"


"Dia hanya lemas, dan kekurangan oksigen, tidak ada yang perlu di khawatirkan tuan."


"Kalau begitu terima kasih! Danilo antarkan dokter Fred ke bawah!"


"Baik tuan."


Khusus di ruang kerja Renan terdapat kamar pribadi Renan di sana, kantornya memang sengaja di desain seperti itu, bukan hanya ada ranjang di sana, tetapi juga ada lemari pakaian yang Renan sering gunakan ketika ada rapat mendadak ke luar kota ataupun ke luar negeri. Pria berambut coklat itu menatap gadis yang sedang terbaring lemah di atas ranjang, Renan juga sudah menyiapkan makanan untuk Aruna, pasti karena jam istirahatnya ia memanggil ke ruangannya, membuat Aruna belum sempat makan siang. Perlahan Aruna membuka kelopak matanya, ia melihat Renan yang sedang memperhatikannya di sisi ranjang.


 "Tuan saya ada dimana?" tanya Aruna seraya merubah posisinya menjadi terduduk.


"Kau ada di ruangan saya, ini kamar pribadi saya yang ada di kantor."


"Maaf saya telah merepotkan Anda tuan--" Aruna berusaha bangkit dari ranjang, tapi badannya masih terasa lemas hingga ia tanpa sengaja terjatuh di atas pangkuan Renan. Kedua pasang netra hitam saling menatap dan mengunci pandangan, bau khas parfum pria berambut cokelat sangat kentara di indera penciuman Aruna, hingga suara Danilo menggelegar di bibir pintu.

__ADS_1


"Ehm, tuan ini makanan yang anda minta."


Danilo meletakkan makanan yang ia bawa di atas nakas, padahal di sana sudah ada beberapa makanan tapi Renan sengaja memesan makanan lagi untuk Aruna, karena ia tau Aruna sangat suka sekali makan. Aruna segera bangkit dari pangkuan Renan dan mengambil makanan di atas nakas.


"Tuan, apa tuan tidak mau makan? Ini enak sekali tuan."


Renan menggeleng pasti, mana mungkin ia membahayakan tubuhnya lagi untuk memakan makanan manusia.


"Tidak terima kasih! Saya sudah makan."


"Ya, sudah saya habiskan ya tuan."


Aruna benar-benar menghabiskan semua makanan yang ada di hadapannya. Renan hanya menggelengkan kepalanya pelan, ia tidak percaya ada makhluk bumi yang mempunyai badan yang kecil tetapi makannya begitu banyak.


"Saya akan cari tau siapa yang telah menguncimu di dalam toilet, dan sudah saya pastikan orang itu akan saya pecat, karena telah membahayakan nyawamu."


"Tuan tidak usah mempermasalahkannya, mungkin dia tidak sengaja."


"Kau itu bodoh atau apa? Jelas-jelas dia sengaja menguncimu."


"Apa pun niat dia, biarkan saja tuan, kejahatan jangan dibalas dengan kejahatan, yang pentingkan sekarang saya sudah tidak apa-apa tuan."


"Tuan?"


"Hah.. iya?"


"Tuan kenapa?"


"Saya tidak pa-pa."


"Saya mohon tuan, jangan memperpanjang masalah ini."


"Baiklah jika itu kemauanmu."


Renan sama sekali tidak membiarkan Aruna kembali bekerja, ia tetap menyuruh Aruna berada di dalam ruangannya hingga jam kantor berakhir. Sebelum sampai di rumah, Renan mengajak Aruna terlebih dahulu berbelanja keperluannya di mall untuk jangka waktu satu bulan tinggal di rumahnya, ia takut jika baju yang sudah ia siapkan di rumah bukan selera Aruna. Renan menyuruh pelayan mall untuk melayani segala keperluan yang Aruna butuhkan.


"Tuan ini sangat berlebihan, ini terlalu banyak, bagaimana saya bisa memakainya semua?"

__ADS_1


"Sudahlah cepat pilih yang kau suka, kita harus segera pulang sebelum hujan turun."


"Memangnya kenapa tuan?"


Renan tidak menjawab pertanyaan Aruna, ia memberikan tatapan tajam hingga membuat Aruna sedikit takut, ia pun kembali memilih keperluan yang ia butuhkan. Di luar langit sudah semakin gelap, tidak ada bintang yang bertabur malam itu, langit malam yang sudah tertutup awan hitam yang pekat, kilatan petir mulai menampakkan cahayanya disertai gemuruh suara petir yang mulai menggelegar terdengar ditelinga. Danilo sudah memberitahukan jika nanti malam kemungkinan akan turun hujan, hingga ia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.


"Tuan kenapa kita terburu-buru pulang? Kita kan naik mobil, pasti tidak akan terkena hujan kan?" ucap Aruna ketika sudah berada di dalam mobil.


Renan melirik sekilas ke arah Aruna, lalu ia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, hingga Aruna memegang **** belnya dengan kencang.


"Tuan kita kan, tidak kehujanan kenapa tuan cepat sekali bawa mobilnya?"


Semakin Aruna banyak bertanya, Renan semakin kencang melajukan kecepatan mobilnya. Kilatan petir sangat terlihat jelas membuat Renan semakin lebih kencang lagi melajukan kecepatan mobilnya. Sebelum hujan turun ia harus segera sampai di rumah.


"Aaaaaaa," teriak Aruna.


"Diam! Kau menganggu konsentrasi saya mengemudi."


"M-maaf t-tuan s-saya t-takut," ucap Aruna terbata-bata.


Dalam hati Aruna berkata, hari ini sudah dua kali nyawanya terancam, pertama di kurung di dalam toilet dan sekarang ia harus menaiki mobil dengan laju kecepatan di atas rata-rata, karena sudah malam jadi Renan lebih leluasa mengendarai mobilnya, tidak ada polisi lalu lintas berjaga, jelas Renan sudah memprediksikan itu.


"Tuan kalau tuan mau mati, jangan ajak-ajak saya tuan, saya belum menikah dan masih banyak impian saya yang belum tercapai. Tuan saya mohon, saya belum mau mati."


Renan memelankan laju mobilnya, yang otomatis membuat mata Aruna yang terpejam karena ketakutan kini terbuka melihat jalan, ia pun mulai melepaskan pegangannya pada shittbel, hatinya sedikit lebih tenang karena Renan memelankan laju mobilnya, tetapi ketika mulai terlihat rintik-rintik air bening turun dari langit Renan kembali


melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi seperti semula.


"TUAN SAYA BELUM MAU MATI!" kembali Aruna berteriak.


Rintik-tintik hujan mulai berubah menjadi buliran air besar yang akan segera mengguyur bumi, untung mobil Renan sudah berada di carport rumahnya, merasa mobil sudah berhenti Aruna kembali membuka matanya yang terpejam, ia melihat ke sekeliling ternyata ia sudah sampai di rumah Renan.


"Tuan kita sudah sampai? Kenapa tuan tidak memberitahu saya jika kita sudah sampai."


Tidak ada balasan dari Renan, membuat Aruna menolehkan kepalanya pada kursi kemudi, ternyata yang duduk di kursi kemudi bukanlah Renan, tetapi seekor kucing berwarna hitam.


Meong

__ADS_1


Aruna nampak syok, sampai ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya, ketika melihat Renan berubah menjadi seekor kucing berwarna hitam.


__ADS_2