MY CEO ALIEN

MY CEO ALIEN
BAB 16 Sandaran Hati


__ADS_3

"Sampai ke ujung dunia pun, aku akan tetap mengejarmu Aruna!" ujar Renan seraya menyelipkan rambut Aruna ke belakang telinga.


Sebenarnya Renan bisa saja membiarkan Aruna pergi, karena Aruna memakai gelang pemberian darinya, gelang yang dapat mengetahui keberadaannya dimanapun berada. Tetapi bukan seperti itu rencananya, malam sudah semakin larut terlalu berbahaya membiarkan Aruna pergi sendirian, dengan sangat terpaksa ia membuat Aruna tidak sadarkan diri.


"Maafkan aku Aruna, aku terpaksa melakukannya," gumamnya.


Renan melajukan mobilnya menuju kediamannya. Ia membawa Aruna ke sana dan segera menelepon dokter Fred untuk menyembuhkan Aruna.


"Apa yang terjadi tuan?" tanya Danilo ketika Renan membopong tubuh Aruna ke dalam.


"Dia tau siapa aku sebenarnya Danilo."


"A-apa? Jadi dia sudah tau tuan?" Renan mengangguk pasti. "Apa yang harus kita lakukan tuan?" tanyanya lagi.


"Kita pikirkan nanti, apa dokter Fred sudah sampai? Dia harus segera menyembuhkan Aruna."


"Masih dalam perjalanan menuju ke sini tuan."


Renan membawa Aruna masuk ke kamar yang dulu ditempatinya. Ia membaringkannya di sana. Tak lama dokter Fred tiba selaku dokter kepercayaan Renan sebangsa dengan mereka.


"Saya sudah bilang, jangan sentuh dia berlebihan tuan Renan," ujar dokter Fred.


"Aku terpaksa melakukannya, tapi kali ini hanya sentuhan biasa, bukan seperti waktu itu, aku hanya membuatnya tidak sadarkan diri."


Dokter Fred mengecek keadaan Aruna, berbeda dengan Renan, walaupun dokter Fred sama seperti dirinya tapi dokter Fred bisa menyentuh Aruna tanpa harus membuat Aruna kesakitan, karena dokter Fred berasal dari klan yang berbeda.


"Untung saja suhu tubuhnya tidak menggigil, dia hanya tidak sadarkan diri, dan sebentar lagi dia akan sadar, saya sudah memberikan suntikan untuknya."


"Apa benar dia tidak pa-pa dokter Fred?"


"Dia tidak pa-pa, tidak ada perubahan pada suhu tubuhnya, mungkin karena anda hanya menyentuhnya sedikit."


"Kalau begitu terima kasih banyak dokter Fred," dokter Fred mengangguk dan segera pergi meninggalkan kamar Aruna. Danilo kembali masuk ke kamar Aruna, setelah mengantarkan dokter Fred ke bawah. Ia harus merencanakan sesuatu ketika Aruna sadar nanti.


"Tuan apa yang harus kita lakukan?"


"Aku juga tidak tau Danilo, bagaimana jika nanti dia lari dariku?"


"Tuan anda, kan sudah memberikannya gelang, dan anda pasti menemukannya dimana pun dia berada."


"Bukan itu maksudku Danilo, bagaimana jika nanti Aruna tidak mau bertemu denganku lagi?"


"Tuan percayalah dalam hati kecilnya Aruna, dia sudah jatuh cinta padamu tuan, karena sekarang tuan dan Aruna dapat mendengar isi hati kalian masing-masing."

__ADS_1


"Entahlah kita lihat apa yang akan terjadi, setelah dia bangun nanti."


Malam kian larut, tapi Aruna sama sekali belum membuka matanya. Ia masih asik dengan mimpi indahnya. Renan masih terjaga menatap Aruna yang terlelap.


"Danilo, telepon keluarga Aruna, jika Aruna mendapatkan tugas mendadak dari kantor, dia tidak bisa pulang setelah dari pesta," titah Renan.


"Baik tuan."


Danilo menelepon kediaman rumah Aruna, dan sangat kebetulan sekali orang yang mengangkat teleponnya adalah Alfaro, Ayah Aruna. Jika saja yang mengangkatnya Gantari mungkin ia akan lebih banyak bertanya, kenapa bukan


diberikan tugas kantornya kepada Gloria, kenapa harus diberikan kepada Aruna? Alfaro percaya begitu saja kepada ucapan Danilo, iapun menutup sambungan teleponnya dan kembali tidur.


Tepat pukul dua dini hari Aruna membuka matanya, pandangannya menelusuri kamar yang tengah ditempatinya. Ketika kesadarannya mulai penuh dan ia ingat berada di kamar siapa, seketika Aruna membulatkan kedua bola matanya.


"Aku harus segera pergi dari sini!" gumamnya.


Aruna bangkit dari tempat tidur, dengan terburu-buru ia membuka gagang pintu kamarnya, ia bersyukur tidak ada Renan ataupun Danilo di sana, pikirnya mungkin mereka sedang terlelap di kamarnya masing-masing. Saat


Aruna menuruni anak tangga satu persatu ia berpapasan dengan Renan yang membawa semangkuk bubur untuk Aruna. Aruna kembali mundur.


"Mau kemana? Ini sudah sangat larut Aruna."


Aruna mengumpulkan segala keberaniannya untuk melawan Renan, walaupun dalam hatinya ia sangat takut, takut jika Renan akan menciumnya kembali, dan ia tidak sadarkan diri lagi.


"Besok kau akan pulang, sekarang istirahatlah Aruna."


"Aku tidak mau! Aku mau pulang!"


Renan maju selangkah menaiki anak tangga, sedangkan Aruna mundur lagi selangkah. Renan memegang tangan Aruna, ia tidak peduli ada sengatan aliran listrik ketika menyentuh Aruna yang masuk ke dalam tubuhnya.


Renan menempelkan tangan Aruna pada dada sebelah kirinya. "Kamu harus dengar ini Aruna."


Terdengar dentuman detak jantung Renan, yang berpacu lebih cepat, dari batas normal. Aruna tidak mengerti, ia berusaha melepaskan tangannya, namun Renan memegangnya kuat.


"Kamu dengarkan, ini suara detak jantungku Aruna?" Aruna mengangguk pelan. "Seperti itulah aku mencintaimu, sekuat detak jantungku."


Renan melepaskan tangan Aruna, karena melihat sorot mata sendu dari netra bening yang Aruna pancarkan.


"Tapi kita itu berbeda Renan, apa yang akan terjadi nanti, jika aku melawan kodratku sebagai manusia, sebelum aku mencintaimu terlalu dalam, aku ingin mengakhirinya sekarang," tukas Aruna dan lalu pergi meninggalkan Renan, kembali masuk ke dalam kamarnya mengunci diri di sana.


"Maaf," batin Aruna lirih. Dengan sangat jelas Renan bisa mendengar kata maaf dari Aruna.


"Aku akan mencintaimu, sampai ajal menjemputku," batin Renan lirih, begitupun Aruna yang bisa mendengar suara hati Renan. Mereka seperti sedang berbicara dalam diam.

__ADS_1


"Kau salah Renan, sampai kapanpun kita tidak ditakdirkan untuk bersama," ucap Aruna lirih seraya meremas dadanya yang terasa terhimpit, begitu sesak dan menyakitkan.


Di dalam kamar Aruna membuka ponselnya, melihat log panggilan teleponnya, ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Gloria, dan ia mengabaikannya, ia membuka google mengetikkan 'manusia setengah hewan' ia


mencari tau asal usul Renan di sana, sampai ia menemukan artikel jika manusia setengah hewan membutuhkan darah suci untuk memperkuat dirinya.


"Darah suci?" Aruna bermonolog.


Aruna kembali mencari tau tentang darah suci, kenapa manusia setengah hewan itu membutuhkan darah suci selain untuk memperkuat dirinya?


"Aku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan?"


Pada akhirnya, Aruna menutup ponselnya dan merebahkan dirinya di atas ranjang, matanya mulai terpejam memasuki alam bawah sadarnya. Ia tidak tau jika dirinya jika memliki darah suci dan tentunya akan sangat


membahayakan nyawanya ketika semua bangsa manusia setengah hewan mengetahui keberadaanya.


Sebelum pagi menjelang Aruna sudah pergi dari rumah Renan, ia pergi secara diam-diam, dan untungnya tidak ada Renan ataupun Danilo yang memergokinya. Ketika ia sampai rumah, gerbang rumahnya masih terkunci, ia menelepon orang rumah untuk membukakan pintunya, sangat disayangkan bukan Alfaro ataupun Gantari yang membukanya, tetapi Gloria, yang tumben-tumbenan bangun lebih awal.


"Darimana aja lo?" cecar Gloria.


"A-aku--"


"Nggak bisa jawabkan lo? Lo habis rayu tuan Renan dengan ngasih tubuh lo 'kan?"


"Jaga mulut kamu Glori!"


"Mulai berani sekarang lo sama gue?"


Baru saja Aruna mengangkat tangannya, untuk menampar pipi mulus Gloria, tapi suara bariton seseorang di belakangnya mengurungkan niatnya.


"Aruna-- sejak kapan kamu main kasar hah?"


"Glori yang mulai Yah."


"Mana ada, aku udah baik bukain pintu buat kamu, tapi kamu malah mau nampar aku, hiks."


"B-bukan seperti itu Yah--"


"Makin dewasa bukannya makin memperbaiki kelakuan, kamu malah semakin tidak bermoral."


Dimana ada pertengkaran antara Aruna dengan Gloria, pasti Aruna lah yang akan selalu disalahkan. Ia kembali merasa dejavu dimana ia pernah berada diposisi seperti itu, selalu disalahkan dan disudutkan. Setitik


cairan bening mengalir tanpa bisa ia tahan Ayah yang menjadi tempat satu-satunya bersandar kini melupakannya. Ayah yang selalu mengusap air matanya ketika menangis, kini malah ia yang menjadi sebab air matanya mengucur.

__ADS_1


__ADS_2