MY CEO ALIEN

MY CEO ALIEN
BAB 26 Kesempatan Bernapas


__ADS_3

Keesokkan paginya Aruna sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, karena kondisinya sudah lebih membaik. Tidak ada Alfaro atau pun, Gantari apa lagi Gloria yang menjemputnya pulang ke rumah, Alfaro sudah mengatakan bahwa ia tidak bisa menjemputnya karena ada seorang custamer yang sudah membuat janji dengannya. Alfaro sudah meminta Gloria untuk menjemput Aruna ke rumah sakit, Gloria memang menyanggupi akan menjemput Aruna, namun sayang sampai detik ini tidak ada Gloria yang datang ke rumah sakit.


"Nona Aruna apa keluargamu tidak datang menjemputmu?" tanya salah seorang suster.


"Tidak ada sus, mereka sibuk dengan pekerjaannya."


Terdengar suara derap langkah kaki seseorang masuk ke dalam sana, seketika Aruna dan suster menghentikan percakapan mereka.


"T-tuan Renan?"


Suster yang tengah membersihkan tempat tidur bekas Aruna menunduk dan pergi keluar begitu saja.


"S-suster--"


Aruna melangkah mundur, segera mengemasi seluruh pakaiannya, melihat Aruna yang tergesa-gesa mengemasi pakaiannya, Renan kembali mendekat dan berusaha membantunya, tapi dengan secepat kilat Aruna menepisnya.


"Jangan mendekat! Atau aku akan teriak."


"Aku hanya ingin membantumu."


"Aku mohon jangan mendekat tetap di situ!"


"Oke, aku akan tetap di sini, asalkan kau tidak mengusirku."


Aruna tidak menjawab, ia fokus pada barang-barangnya yang akan ia bawa pulang. Selesai mengepak semua pakaiannya Aruna bergegas pergi dari sana, namun lagi-lagi Renan menghentikannya.


"Tunggu Aruna, aku akan mengantarkanmu pulang."


"Tidak usah, aku sudah memesan taksi."


Aruna masih saja tetap ketus pada Renan, meskipun Renan sudah membantunya membawakan koper miliknya.


"Pak antarkan dia dengan selamat, kalau sampai terjadi apa-apa dengannya, aku akan menuntutmu."


"B-baik t-tuan."


"Jangan dengarkan dia Pak, ayo, Pak jalan!" titah Aruna.


Supir taksi segera menyalakan mesin mobilnya, meninggalkan Renan yang masih berdiri kaku menatapnya.

__ADS_1


"Aruna sampai kapan kau akan bersikap seperti itu?" gumam Renan.


Jarum pendek menunjuk ke angka 10, Aruna baru saja tiba di rumah, rumah yang terlihat sangat sepi sepertinya seluruh penghuninya tidak ada di dalamnya. Aruna menghela napas panjang, akhirnya ia bisa kembali pulang ke rumah setelah beberapa hari di rumah sakit. Ucapan syukur tak henti-hentinya Aruna panjatkan karena Tuhan masih memberinya napas hingga saat ini.


"Apa aku keluar saja dari kantor? Tapi kalau aku keluar dari kantor aku tidak akan bekerja, dan pada akhirnya aku hanya akan berakhir di dapur, tidak, aku harus tetap bekerja tapi kerja apa?"


Aruna dilanda kebimbangan, ia harus memikirkan dengan matang keputusan yang akan diambilnya.


"Jika aku tetap bekerja di kantor itu, aku akan sering bertemu dengan Renan. Apa yang harus aku lakukan?"


Akhirnya tanpa terasa ia memejamkan matanya, masuk ke alam mimpinya. Kondisinya yang baru saja sadar dari koma membuatnya merasa begitu lelah setelah berpikir sangat keras, apakah ia harus bertahan di kantor Renan atau keluar dari sana?


"Pasti Aruna sudah pulang," gumam Gantari.


Gantari baru saja pulang dari pasar, ia membawa beberapa kresek belanjaan dan langsung berjalan masuk ke dalam kamar Aruna tanpa menyimpannya terlebih dahulu.


"Ini anak tidur, enak banget dia pikir dia putri!"


Tanpa peduli Aruna yang baru saja sembuh dari sakit, Gantari membangunkannya dengan tanpa perasaan.


"Aruna bangun! Bawa ini ke dapur, dan segera masak untuk makan malam!"


Aruna mengucek matanya, dan berusaha mengumpulkan kesadarannya, ternyata Gantari ada di hadapannya bukanlah mimpi.


Aruna segera mengambil alih kresek dari tangan Gantari dan membawanya ke dapur.


"Aku harus kuat, tidak boleh lemah. Mama selalu bilang selagi kita masih hidup buatlah diri kita bermanfaat untuk orang lain."


Aruna berusaha meyakinkan dirinya, mensugestikan dirinya bahwa ia sudah sembuh dan sudah kembali sehat. Aruna mulai memasak makanan untuk makan malam keluarganya, semenjak koma tubuhnya menjadi terasa lebih cepat kelelahan, hingga tanpa terasa ia tertidur di dapur. Untung saja makanannya sudah tertata rapi di atas meja makan.


"Aruna bangun, masakannya sudah di masak semua belum?" tanya Gantari.


"Ah, iya Bu, udah Runa simpan di meja makan, kok."


Gantari melihat hasil makanan yang Aruna siapkan semuanya sudah sesuai dengan keinginannya.


"Bu, Runa boleh makan duluan nggak? Runa laper."


"Tunggulah sebentar lagi, Runa Ayah dan Gloria sebentar lagi pulang."

__ADS_1


"T-tapi Runa laper Bu."


"Tuh, minum dulu air buat ganjel perut kamu."


Aruna tidak bisa membantah ucapan Gantari, pada hal waktu sudah menunjuk agar ia segera meminum obat. Aruna pergi ke dalam kamarnya untuk mencari sisa roti yang ia makan, mungkin saja masih ada. Aruna membuka laci-laci lemarinya, akhirnya ia menemukan kotak biskuit yang selalu ia simpan persediaan jika ia merasa lapar dan Gantari belum mengizinkannya makan.


"Untung masih ada."


Ketika kecil ia sudah terbiasa seperti itu, Setiap Gantari belum memberinya makan, ia sudah menyiapkan biskuit di dalam kamarnya, dan ia membelinya dengan menyisihkan uang jajannya, dari kecil hingga saat ini Alfaro tidak pernah mengetahui betapa putrinya begitu menderita, karena jika Aruna memberi tahu Alfaro maka sudah dipastikan Aruna tidak akan sama sekali mendapat jatah makanan dari Gantari.


"Besok aku harus bicara dengan tuan Danilo."


Sesuai dengan keinginannya esok harinya, Aruna pergi ke kantor seperti biasanya, banyak teman-teman kantornya yang mengucapkan selamat karena Aruna sudah bisa kembali bekerja seperti semula. Apa lagi Zora teman pertama yang Aruna dapatkan ketika menginjakkan kaki di kantor tekno intel.


"Aruna, ya ampun aku bersyukur kau bisa kembali bekerja lagi, aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu."


"Terima kasih Zora, aku juga sangat bersyukur Tuhan masih memberikan aku kesempatan hidup, dan aku tidak akan menyia-nyiakan lagi."


"Maksudnya?"


"Bukan apa-apa Zora, aku harus menemui Pak Danilo, aku permisi sebentar."


"Itu anak kenapa jadi aneh setelah sembuh dari koma?" tanya Zora dalam hati seraya menatap kepergian Aruna.


Aruna segera masuk ke dalam ruangan Renan berharap Danilo dan Renan sudah berada di dalam, dan ternyata keinginannya terwujud, di dalam bukan hanya ada Danilo dan Renan tetapi juga ada Vela yang sudah duduk manis di sofa menunggu kedatangannya sedari tadi.


"Permisi, boleh aku masuk?"


"Tentu saja Aruna, ini juga ruanganmu," sahut Danilo.


"A-aku ingin mengajukan permintaan."


"Duduklah dulu Aruna," timpal Vela.


Aruna segera mendekati Vela duduk berhadapan dengannya, disusul oleh Renan dan juga Danilo.


"Permintaan apa Aruna?" tanya Renan tanpa basa-basi.


Semuanya menunggu Aruna mengeluarkan suaranya, ingin mendengar permintaan yang akan Aruna ajukan, namun Aruna merasa berat untuk mengucapkannya, ia ragu dan seolah-olah ada sesuatu benda yang menyangkut di tenggorokannya.

__ADS_1


"A-aku ingin berhenti bekerja--"


Sekilas Aruna melihat senyum semir tersungging di bibir Vela, sepertinya ia memang sedang menunggu momen Aruna keluar dari kantor.


__ADS_2