
Kemeja berwarna biru langit, celana bahan longgar berwarna cokelat kini membalut tubuh semampai Aruna, Rambut sebahunya yang berponi ia biarkan tergerai. Aruna sedang menunggu angkutan umum agar sampai di kantornya tepat waktu ia berangkat lebih pagi. Sebelum angkutan umum tiba, mobil sedan berwarna hitam terlebih dulu berhenti di depan Aruna, membuat semua orang yang ada di sana menatapnya penuh tanya.
"Nih orang pesulap kali ya, kok bisa tau aku di sini?" gumam Aruna.
"Ayo masuk!" ucap Renan seraya membuka kaca mobilnya sebagian untuk melihat Aruna.
Aruna geming, ia melihat ke kanan dan kiri, apakah Renan benar-benar mengajaknya masuk ke dalam mobilnya.
"Aruna ayo cepat naik," titah Renan.
Akhirnya Aruna menurut, ia naik ke dalam mobil meskipun hatinya menolak.
"Pak, kenapa bapak bisa ada di sini?"
"Kau tidak akan lepas dari pandanganku, Aruna."
"Maksud Bapak?"
"Karena kau wanita yang aku cari."
Aruna menaikkan kedua alis matanya, apa maksud ucapan Renan? Tidak mungkin Renan jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya. Aruna memperhatikan dirinya di depan spion lalu ia menggelengkan cepat kepalanya.
"Tidak mungkin!" gumam Aruna.
"Kenapa?" tanya Renan.
"Dengar, ya Pak, Bapak jangan anggap saya sama seperti wanita lain. Saya bukan wanita murahan Pak."
"Tapi kau memang benar-benar wanita yang saya cari setelah bertahun-tahun."
Aruna menghembuskan napas kasar. "Saya tidak akan percaya ucapan bapak begitu saja, karena bagi saya tidak ada namanya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Kedua makhluk yang berbeda asal itu sedang beradu argumen, Aruna tetap dengan pendiriannya begitupun dengan Renan. Padahal mereka sebenarnya membicarakan hal yang sama-sama mereka tidak mengerti.
"Kalau Bapak terus-terusan maksa saya, dan Bapak terus ngikutin saya, saya akan keluar dari kantor Bapak."
"Apa? Jangan? Oke aku tidak akan menganggumu lagi."
Sebenarnya ancaman yang Aruna lontarkan hanya untuk membuat Renan agar tidak mengganggunya lagi, dan ia tidak ingin benar-benar keluar dari perusahaan, karena jaman sekarang mencari pekerjaan sangatlah sulit. Aruna turun tepat di depan pintu masuk utama perusahaan Tekno Intel membuat semua orang terlihat iri ketika Aruna turun dari mobil Renan.
__ADS_1
"Runa, kau diantar sama Pak Renan?" tanya Zora yang juga baru saja sampai di depan kantor.
"I-iya tadi kebetulan ketemu di jalan."
"Bohong, pasti si bos yang jemput kan?" bisik Zora.
"Tau, ah, ayo masuk!"
"Kau harus cerita Aruna."
"Iya nanti."
Aruna hanya asal saja mengiyakan ucapan Zora, karena ia tidak mau berdebat panjang dengannya. Jika nanti Zora menagih cerita darinya ia akan mengelak bagaimanapun caranya. Di ruangan lain yaitu di ruangan direktur utama, Renan tengah mencurahkan isi hatinya pada Danilo, ia tidak habis pikir kenapa Aruna sangat terang-terangan menolaknya.
"Tuan, manusia di bumi itu berbeda dengan kita, menurut buku yang saya baca mereka itu akan melihat dulu perjuangan seseorang agar bisa dekat dengannya, apa lagi seorang wanita tuan."
"Maksudnya?"
"Tuan jangan terlalu terang-terangan mendekatinya, atau nanti dia akan ilfell padamu tuan."
Renan mengacak rambutnya prustasi, ia tidak mengerti keinginan wanita bumi.
Danilo membisikkan sesuatu pada Renan, Renan hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia paham ucapan Danilo.
"Tapi bagaimana jika dia tidak tertarik denganku?"
"Tidak ada yang bisa membantah pesonamu tuan."
Renan mengusap-ngusap dagunya dengan pikiran melayang entah kemana sebuah senyuman terukir dibibirnya. ia mulai memikirkan cara bagaimana membuat Aruna jatuh hati padanya. Rencananya yang pertama adalah membuat Aruna menjadi sekretarisnya. Mungkin akan ia mulai Minggu depan, jika sekarang pasti Aruna akan kembali
mencurigainya. Tepat pukul dua belas siang semua penghuni perusahaan Tekno Intel berhamburan ke luar karena waktunya istirahat telah tiba, termasuk Aruna, ia duduk di salah satu kursi kantin membuka bekal makanannya.
"Kau tidak pesan makanan di kantin?" tanya Zora.
"Nggak, aku bawa bekal Ra, hemat. Hehehe." Aruna menyengir kuda.
"Ya, udah aku pesanin, aku yang akan bayar kau makan saja."
"Zora nggak usah, ini sudah cukup kok."
__ADS_1
Sedikit banyak Renan yang duduk tidak jauh darinya mendengar pembicaraan Aruna dan juga Zora. Ia membisikan sesuatu kepada Danilo untuk memberikan Aruna beberapa makanan. Terlihat beberapa pekerja kantin membawa makanan pada meja Aruna.
"Ra, kau pesan makanan sebanyak ini?"
Zora menggeleng cepat. "Aku nggak pesan makanan itu kok, aku cuma pesan sayur sop dua mangkuk, satu untukku satu lagi untukmu."
"Ibu salah bawa makanan ini kali Bu, kita nggak pesan makanan segitu banyak."
"Ibu nggak salah kok, benar ini mejanya, ini makanan gratis untuk orang pertama yang duduk di meja ini neng."
Aruna dan Zora mengangguk paham, lalu kemudian tanpa pikir panjang lagi mereka menyantap makanan yang telah ibu kantin berikan dengan lahap.
"Rezeki anak soleh Ra." Zora manggut-manggut mengiyakan.
Sebenarnya tidak biasanya Renan duduk di area kantin, karena ia tidak memakan makanan manusia, Renan hanya bisa meminum air putih saja, tapi demi Aruna ia rela duduk berlama-lama di kantin hanya untuk tau makanan kesukaan Aruna. Sedangkan untuk mengisi daya tahan tubuhnya Renan menggunakan bantuan matahari agar ia bertahan hidup di bumi.
"Dia memakan semua makanan yang kita berikan, mana aku tau makanan kesukaannya," keluh Renan ketika sudah memasuki ruangannya.
"Maaf tuan, saya pikir dengan memberikan semua makanan kita bisa mengetahui makanan kesukaannya, tapi dia malah menghabiskan semua makanannya."
"Dasar bodoh, sia-sia kita duduk di sana hanya untuk melihatnya makan."
"Tidak ada yang sia-sia tuan, semua butuh perjuangan dan pengorbanan."
"Banyak bicara, lalu rencana apa yang selanjutnya kita jalankan?"
"Saya akan sengaja memberinya tugas tambahan agar dia bisa pulang bersama dengan tuan, saya akan membuat pertemuan tuan dengannya seolah pertemuan yang tidak direncanakan."
"Kenapa menaklukkan wanita bumi sangat susah sekali Danilo, di planet kita semua wanita mau denganku."
"Karena di planet kita, semua wanita tau siapa anda tuan, makanya mereka dengan suka rela menyerahkan dirinya kepada anda tuan."
"Kamu pikir aku apa Danilo? Aku juga tidak sembarangan menyukai wanita, hanya wanita tertentu yang bisa mengisi hatiku."
"Iya saya tau penderitaan anda tuan, sampai tuan diturunkan ke bumi gara-gara patah hati," ucap Danilo seraya mengulum senyum.
"Sialan! Bukan seperti itu kronologinya, aku turun ke bumi hanya untuk bermain-main di sini, tapi siapa sangka kita malah terdampar di sini dengan waktu yang cukup lumayan lama."
Pandangannya seketika menerawang ke kejadian beberapa tahun silam, ketika ia turun ke bumi untuk pertama kalinya.
__ADS_1