MY CEO ALIEN

MY CEO ALIEN
BAB 10 Gadis Berbeda


__ADS_3

Langit malam itu seolah sedang menjadi saksi ketika Renan menyatakan cintanya, Langit malam yang begitu cerah bertabur bintang-bintang yang menghiasinya. Semilir angin menggoyangkan rambut sebahu Aruna, ia sama sekali tidak bisa mengontrol detak jantungnya, pernyataan Renan benar-benar membuat kakinya seperti ditempeli lem perekat, begitu susah untuk digerakkan. Melihat Aruna yang sama sekali tidak merespon ucapannya, Renan menghembuskan napas kasar, pasti Aruna mengira ucapannya hanyalah main-main, lalu tiba-tiba Renan memutuskan melangkah mundur ia sudah dapat menyimpulkan jika Aruna tidak membalas perasaannya.


Melihat Renan yang akan pergi meninggalkannya, Aruna dengan susah payah menggerakkan kakinya.


“T-tuan tunggu!” Mendadak Renan menghentikan langkah kakinya, ia pun berbalik kembali menghadap Aruna.


“Tuan, aku bukan hanya butuh pengakuan darimu, tapi aku juga mau pembuktian kalau tuan benar-benar tidak main-main atas ucapan tuan.”


“Kenapa wanita bumi tidak percaya denganku, aku ini tampan, kaya, apa lagi sebenarnya yang mereka cari?” gumamnya.


“Tuan?”


“Hah, i-iya. Baiklah kamu lihat saja nanti apa yang akan aku buktikan padamu.”


Tidak mau menyianyiakan malam itu, Renan mengajak Aruna duduk di sofa panjang sambil melihat bintang.


“Tuan—“


“Jangan panggil tuan!”


“Lalu aku harus panggil apa?”


“Renan saja.”


“Tapi aku ini bawahanmu.”


“Itu di kantor Aruna. Kalau di rumah jangan panggil tuan.”


“Emm.. R-renan,” panggil Aruna ragu.


Renan menatap gadis berambut sebahu yang duduk di sampingnya, ia sedang menantikan apa yang akan Aruna katakan selanjutnya.


“Apa yang membuatmu mencintaiku, aku ini hanya gadis biasa Renan.”


“Kau benar, kau hanyalah gadis biasa tapi gadis biasa yang memiliki hati yang luar biasa.”


Terlihat semburat merah dipipi Aruna, ia menjadi salah tingkah ketika Renan sedang memujinya. “Kayanya kalimat itu senjatamu, untuk merayu wanita?” tunjuk Aruna.


“Kok malah nething sih sama aku? Aku serius Aruna Isvara.”


“Aku tidak akan percaya, sebelum kau memberikan bukti untukku.”


“Oke kita lihat saja nanti, seberapa dalam pembuktian yang akan aku lakukan.”

__ADS_1


Aruna berusaha mengartikan sorot mata Renan yang menatapnya penuh arti, ia berusaha mencari kebenaran lewat sorot matanya, namun hasilnya nisil. Aruna sama sekali tidak menemukan sorot mata kebohongan dimata Renan, yang ia temukan pada sorot mata Renan adalah ketulusan. Esok hari Aruna mulai kembali bekerja di kantor, melihat Aruna setiap hari pergi ke kantor bersama dengan Renan, membuatnya menjadi bahan buliyan. Contohnya pada saat ini entah sengaja atau tidak ketika Aruna hendak memasuki lift seseorang telah menjegal kakinya, hingga ia terjatuh di lantai.


“Aaaww.. aduh,” erang Aruna seraya memegang lututnya yang sedikit berdarah. Ia berusaha berdiri sendiri dengan tertatih-tatih, untungnya pada saat yang bersamaan Zora juga hendak memasuki lift, dibantu oleh Zora, Aruna dapat berdiri tegak.


“Kalian kalau nggak suka sama Aruna bilang! Jangan beraninya ngomongin dari belakang.” Tukas Zora.


“Kita nggak suka sama Aruna, karena dia ganjen sama Pak Renan!”


“Ya.. kalau Pak Renan suka sama Aruna, —terus kalian rugi, gitu!”


“Selama kita kerja di sini, nggak ada yang berani deketin Pak Renan.”


“Emangnya kalian semua siapanya Pak Renan? Pake larang-larang segala.”


“Menurut kita Aruna nggak cocok sama Pak Renan, mereka bagaikan bumi dan langit, paham!”


“Itu menurut kalian, —bukan menurut Pak Renan!”


“Ehm.. ehm.. ehm…”


Deheman suara Danilo menghentikan perdebatan antara Zora dengan beberapa karyawan senior. Melihat adanya Danilo, mereka segera pergi dari sana.


“Aruna setelah makan siang, temui Pak Renan di ruangannya.”


Aruna dan Zora kembali ke ruang kerjanya, sumpah serapah terus Zora lontarkan untuk para seniornya, ia tidak habis pikir kenapa mereka merendahkan Aruna.


“Runa, kau harus tau.”


“Tau apa?”


“Cewek yang menguncimu di dalam toilet, kau tau apa yang terjadi dengan dia?”


Aruna menggelengkan kepalanya. “Memangnya apa yang terjadi?”


“Dia diberhentikan dari kantor dengan tidak hormat.”


“Padahal aku sudah bilang jangan memperpanjang masalah itu, kenapa dia memecatnya?” tanya Aruna dalam hati.


“Runa? Aruna?”


“Eh, oh, iya?”


“Kenapa kau bengong? Kalau sampai Pak Renan tau kakimu berdarah mungkin mereka akan mengalami nasib yang sama, diberhentikan dari kantor dengan tidak hormat.”

__ADS_1


“Tolong jangan katakan pada siapapun Zora.”


“Runa.. Runa.. kau itu terlalu baik atau bodoh sih?”


“Ada bos yang perhatian denganmu, tapi kau malah tidak bisa memanfaatkannya.”


“Aku hanya kasihan sama mereka, zaman sekarang nyari kerja itu susah Zora. Siapa tau diantara mereka kerja banting tulang untuk keluarganya, aku tidak mau menjadi penyebab putusnya rezeki mereka.”


“By the way, kok bisa Pak Renan perhatian denganmu? Kasih tips dong buat aku siapa tau aku bisa praktikan sama asistennya Pak Renan.”


“Aku nggak punya tips apapun Zora, semuanya ngalir aja.”


Zora mencebikkan bibirnya, ia tidak puas akan jawaban Aruna. Hingga nasi yang ada dihadapan mereka tandas, Aruna pamit terlebih dahulu karena Renan memanggilnya, ponselnya terus bergetar menampilkan nama Renan di sana.


Aruna menempelkan ponselnya pada telinganya. “Iya tunggu sebentar, sabar dong.”


Tanpa sengaja kembali Aruna bertemu dengan para seniornya, mereka menabrak bahu Aruna ketika berjalan. Aruna berusaha tidak menggubrisnya, ia terus berjalan menuju ruangan Renan. Untung saja rok span yang digunakan Aruna panjangnya di bawah lutut, hingga menutupi luka di bagian dnegkulnya yang berdarah.


“Permisi, ada apa ya? Kok saya di panggil ke sini?”


Aruna berusaha berjalan normal, meski dengkulnya terasa sedikit sakit. Ia duduk di hadapan Renan dengan perasaan khawatir, takut jika Renan mengetahui ada orang yang berusaha menjahatinya, pasti ia akan memecatnya lagi. Terlihat Renan mengendus-enduskan indra penciumannya, ia seperti mencium bau darah segar, membuat naluri kebinatangannya muncul.


“Apa yang tejadi?” cecar Renan.


“M-maksudnya?”


“Aku mencium bau darah di sini? Katakan yang sejujurnya Aruna!”


Mendapat tatapan mengintimidasi membuat nyali Aruna yang akan berbohong seketika lenyap, ia hanya bisa mematung, menggit bibir bagian bawahnya. Renan berjalan mendekati Aruna, ia berjongkok di bawah Aruna.


“A-apa yang akan kau lakukan Renan?” tanya Aruna gugup ketika Renan sudah berjongkok di bawahnya dan sedikit menyingkap roknya.


“Siapa yang melakukan ini Aruna?”


“A-aku hanya tidak sengaja terjatuh.”


“Kau bukanlah pembohong yang baik Aruna.”


Renan akan sangat mudah mengenali wajah Aruna ketika berbohong, pasti ia akan berkeringat dan meremas jari-jemarinya. Dalam hati Renan, rasanya ia ingin sekali menggigit dengkul Aruna yang berdarah dan otomatis ia akan bisa pulang ke planet asalnya. Tapi ia tidak melakukannya, karena nyawa Aruna taruhannya. Renan membersihkan luka Aruna yang berdarah, dengan sekuat tenaga ia menahan gejolak dalam dirinya yang ingin sekali mencicipi darah Aruna, darah yang suci yang akan membuatnya lebih kuat dan tidak akan ada yang bisa menandingi kekuatannya. Terlebih yang paling penting ia bisa pulang ke planet asalnya kapanpun dia mau.


“Tolong jaga sikapmu di kantor Renan, itu membuat kecemburuan sosial antar karyawan, aku tidak mau itu terjadi,”pinta Aruna.


Seketika Renan menengadahkan kepalanya menatap netra bening yang ada di hadapannya, dengan sorot mata sayu Aruna seperti memohon kepada Renan agar Renan bersikap wajar terhadapnya, dan memperlakukannya selayaknya bawahan. Kali ini Renan semakin benar-benar yakin jika Aruna pemilik darah suci yang berhati suci, di

__ADS_1


saat semua perempuan akan memanfaatkan keadaan ketika seorang bos menyukainya, tetapi Aruna gadis yang sangat berbeda.


__ADS_2